Kemas Samawi Multiproduction

Kerukunan Masyarakat Seni Samawa Ano Rawi... Seni, Budaya, Sejarah, Pariwisata, dan Pendidikan Samawa

Minggu, Februari 12, 2012

Kepong-Kepong

KEPONG

Seorang ibu yang sedang hamil besar. Ibu ini sudah melahirkan beberapa kali, badannya kurus, kurang banyak bergerak. Tidak berperilaku hidup bersih dan sehat. Anaknya sudah enam orang. Begitu pula halnya dengan suaminya. Suaminya perokok berat. Tinggal di sebuah rumah yang sangat kecil untuk ukuran keluarga besar itu. Beberapa orang ibu juga berada di sekitar situ.
Kěpong : (melihat dan memandang anak-anaknya main)
Amek : Sukur mereka masih bisa bergembira ya, Bu!
Kěpong : Iya, pak. Cuma ribut sekali. Mana rumah kita kecil begini!
Amek : Biarkan mereka melakukan aktivitas fisik setiap hari, agar mereka bisa tetap sehat ya, Bu!
Kěpong : Iya, Pak! Cuma bapak juga bawa polusi setiap saat.
Amek : Lho kok bapak bawa polusi sih, Bu!
Kěpong : Tuh, bapak merokok saja dalam rumah, sudah tahu ruangan rumah kita kecil begini, mana penghuninya banyak lagi. Asap terus saja mengepul! Seandainya, asap dapur terus mengepul begini sih, Ibu senang!
Amek : Ibu, yang sabar ya!
Masuk Jena dan Loleng.
Jéna : (pada Loleng) Enak ya punya suami kerja di perusahaan!
Loleng : Ya jelas dong, lihat (perlihatkan emas di jari, tangan, lehernya) semua ini oleh-oleh dari Jakarta.
Jéna : (kagum) Wah, luar biasa. Pasti harganya mahal!
Loleng : Jelas dong, siapa dulu. (sombong) Kamu kan tahu, aku tidak suka barang-barang murahan. Kalau masih sekitar sepuluh dua puluh J... malas pakenya.
Jéna : Ck... ck... luar biasa. Kalau saya, tidak tahu sampai kapan bisa beli yang seperti punya ibu! Maklum, pegawai honor.
Loleng : (Tidak percaya) Pegawai honor, jilbab saja harganya ratusan, belum lagi tasnya, jutaan!
Jéna : Sst... tidak usah keras-keras. Tidak enak didengar istri bos!
Kěpong dan Amek
Kěpong : Dengar, Pak. Dengar ibu-ibu itu. (merajuk) Mereka gampang sekali beli barang. Saya kapan bisa beli seperti mereka, Pak.
Amek : Suatu saat pasti akan bapak belikan untuk ibu!
Kěpong : Cuma sampai kapan, Pak!
Amek : Sampai bapak punya pekerjaan yang layak, Bu!
Kěpong : Pergilah kerja, Pak. Cari kerja kemana-mana gitu.
Amek : Saya sudah berusaha mencari kerja kemana-mana, Bu! Cuma sampai sekarang bapak belum dapat pekerjaan itu.
Kěpong : Bagaimana bapak akan dapat pekerjaan kalau diam di rumah terus! Mana anak kita sudah Enam, tambah lagi dengan yang satu ini (memegang perutnya yang hamil).
Amek : Bapak sudah berusaha mencari pekerjaan kemana-mana, Bu! Cuma memang belum nasib saja!
Kěpong : Jangan semua dikembalikan ke nasib saja pak, berusah dong pak!
Amek : Iya bu, bapak akan selalu berusaha terus untuk dapat bekerja.
Kěpong : Tapi kok tiap hari bapak di rumah terus sambil merokok. Tidak pernah Ibu lihat bapak pergi bekerja.
Amek : Ibu kan juga tidak bekerja, bapak lihat!
Kěpong : Bagaimana ibu mau bekerja, bukankan Bapak lihat ibu sekarang sedang hamil besar (sambil memegang perutnya).
Selma : Pak, Bu, Selma sakit perut!
Amek : (menyuruh Selma buang air di situ) Di situ saja kamu buang airnya!
Selma : Di sini ya pak!
Amek : Iya, di situ saja.
Kepong : Jangan di situ di belakang saja!
Selma : Kebelet Bu!
Amek : Di situ sudah!
Selma buang air besar di dekat situ.
Kepong : Bapak ini bagaimana sih, masak anak disuruh buang air di depan rumah!
Amek : Mau disuruh dimana, Bu! Kita kan tidak punya jamban!
Kepong : Di antar ke sungai, kek. Ke kebun kek. Kemana saja gitu!
Bidan : (dari luar) Assalamualaikum.
Amek Kepong : Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Silamo!
Bidan : (Masuk pentas) Apa rungan Siya, Indo’ Kepong?
Kepong : Beginilah bu Bidan.
Bidan : (pada Amek) Anak bapak ya, yang buang air besar di luar. Kok tidak diajak ke jamban sih, Pak! Nanti dapat mendatangkan penyakit lho, Pak. (jalan ke arah Indo Kepong—memeriksa) Ibu sudah ke posyandu atau puskesmas?
Kepong : Tidak punya uang bu bidan.
Bidan : Kan tidak bayar bu!
Kepong : Memang tidak bayar bu, Cuma tidak ada uang untuk bayar ojek!
Bidan : (memeriksa) Oh. Apa ibu makan sayur dan buah tiap hari?
Kepong : Ih, ibu bidan. Jangankan makan sayur dan buah tiap hari. Untuk makan nasi saja, saya minjam kesana kemari.
Bidan : (memeriksa) Tinggal beberapa hari lagi ibu akan melahirkan. Nanti, kalau habis melahirkan, langsung ibu kasih asi eksklusif ya. Dan jangan lupa, bawa ke puskesmas ya bu atau panggil saya. Ini nomor HP saya!
Kepong : (mengangguk) Insya Allah, bu Bidan!
Bidan : Yang benar ya bu?
Kepong : Insya Allah!
Bidan : Jangan lupa ibu banyak beraktivitas atau jalan-jalan saja di sekitar rumah.
Kepong : Saya kan sedang hamil besar, Bu?
Bidan : Karena itu, Ibu harus banyak beraktivitas, agar proses melahirkannya bisa lancar! (pada Amek) Bapak jangan merokok dalam rumah karena dapat mengganggu kesehatan Bapak, Ibu, dan anak-anak Bapak! Apa Bapak mau keluarga bapak sakit gara-gara asap yang timbul dari rokok!
Amek : Iya bu, Bidan!
Bidan : Tapi kok rokoknya tidak dimatikan! Apa Bapak mau kalau rokok yang berbuat sebaliknya!
Kepong : Benar bu bidan! Suami saya susah sekali dikasih tahu!
Amek : Aina, Ngikut saja!
Kepong : Ba iyati!
Amek : Mencek Sabai-sabai!
Bidan : Sudahlah, tidak usah bertengkar! Ingat lho, Pak! Hidup Bersih dan Sehat itu lebih Murah!
Amek : Baik, bu bidan!
Bidan : (selesai memeriksa Kepong kemudian pamit) Saya pamit bu, Assalamualaikum wr wb.
Amek : Waalaikum salam wr wb. (mengantar kepergian bidan dengan takjub) Cantiknya! Sudah pintar cantik lagi! Andaikan dia ... andaikan saja .... Ck ck ck.... aku suka gayanya!
Kepong : Apa siya talengan niso. (memerintah) Lalo biso Selma sen dunu!
Amek : Kamu saja deh Kepong, Kan tadi bidan bilang bahwa kamu harus banyak bergerak, salah satunya ya itu tuh!
Kepong : Enak saja, bapak saja yang pergi!
Amek : (menghindar) Kamu saja... Kamu harus banyak bergerak sayang agar kamu sehat saat melahirkan nanti!
Kepong : Pas lagi yang gak enak, saya yang kerjakan. Tapi pas lagi yang enak-enak, Bapak maksa-maksa.
Amek : Bukan begitu sayangku. Bapak rasa apa yang dikatakan bidan itu benar, maka itulah sebabnya Bapak minta, ibu yang urus Selma!
Kepong : (menggerutu) Alasan! (Kepong, dan anak-anaknya pergi ke luar pentas)
Amek : (memandang kepergian Kepong dan anak-anaknya) Sungguh cantik bidan itu. Aku terpesona oleh kecantikan dan tutur katanya. Andaikan dia... andaikan saja... aku.
Amek masih membayangkan bu bidan yang cantik itu.
Jena : Coba mereka punya jamban sehat. Indo’ Kepong kan gak perlu antar anaknya jauh ke sungai. Mana sekarang musim hujan lagi. Pasti sungainya licin.
Loleng : Iya Bu, Jena. Coba mereka punya jamban sehat atau tempat MCK.
Jena : Sudahlah, Bu Loleng. (pause--menunjuk pada Amek) Coba lihat suaminya, Bu! Sudah tahu istrinya hamil besar, masak disuruh antar anaknya ke sungai. Dasar laki-laki tidak tahu diri. Maunya menang sendiri.
Loleng : Benar, Bu! Suamiku juga begitu. Masak mau ikut kegiatan PKK seperti ini, dilarang-larang. Padahal, manfaatnya juga besar untuk keluarga, (pada penonton) bukan begitu ibu-ibu.
Jena : Kok sama ya, bu. Suamiku juga begitu! E.. kok kita jadi bicarakan orang sih, Bu! Padahal, kita tahu itu ghibah, dan ghibah itu dosa.
Tiba-tiba terdengar suara anaknya teriak dan memanggil dengan keras dari luar pentas.
Evan : (masuk pentas sambil menangis) Bapak... bapak, ibu jatuh pak. Ibu jatuh... ibu berdarah Pak... ibu berdarah pak!
Amek : (kaget dan terperanjat) Di mana ibumu jatuh, Evan!
Evan : Di sungai, Pak! Tadi ibu terpeleset hingga jatuh ke dalam sungai.
Amek : Tolong, Bu. Tolong istri saya, Bu!
Beberapa orang datang menggotong Kepong ke dalam pentas. Kepong digotong dalam kondisi lemas. Dia berdarah.
Jena : Bu bidan... bu bidan, tolong Indo Kepong, Bu Bidan!
Bidan : (masuk) Ada apa, Bu Jena!
Jena : Indo Kepong, Bu Bidan. Dia terjatuh di sungai tadi!
Bidan : (memeriksa) Maaf Pak Amek. Nyawa Indo Kepong tidak tertolong!
Anak-anak Kepong dan Amek ’Bito’ setelah mendengar berita kematian Kepong. Amek pun histeris.
Amek : (histeris) Kepong, maafkan aku. Aku telah menyengsarakanmu. Aku telah berniat khianat padamu, Kepong. Aku telah... (Batalolong) Kepong... Kepong... kepong...
Anak-Anak : (menangis-mengerubungi ibunya) Bapak... Ibu kenapa, pak! Ibu kenapa, pak!
Salah seorang anaknya terisak sambil melantunkan Lawas Ulan.
Do Nanta Kami Pe Ina’
Sibilen Kami Salingong
Saipo Tau Yapendi

Melasakan Ne Peno Ta
Adasi Lako’ Pina Ne
Me Luk Kami Pang Erana

Tamat

Skenario/Sutradara: Fathi Yusuf

Label:

Selasa, Januari 19, 2010

PENGERTIAN DRAMA DAN TEATER

ARTI DRAMA
1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

ARTI TEATER
1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.


AKTING YANG BAIK
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
1. terdengar (volume baik)
2. jelas (artikulasi baik)
3. dimengerti (lafal benar)
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang :
1. terlihat (blocking baik)
2. jelas (tidak ragu ragu, meyakinkan)
3. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Penjelasan :
Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber ani.
Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :
Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.
Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:
Bagian kanan lebih berat daripada kiri
Bagian depan lebih berat daripada belakang
Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah
Yang lebar lebih berat daripada yang sempit
Yang terang lebih berat daripada yang gelap
Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung
Jelas, tidak ragu ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting
Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
Menghayati berarti gerak gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

Bab 1

MEDITASI dan KONSENTRASI

MEDITASI
Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
Tujuan Meditasi :
Mengosongkan pikiran.
Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.
Meditasi sebagai jembatan.
Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.

Cara meditasi :
1. Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
2. Atur pernafasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.
3. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.

Catatan :
Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.

KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :
1. Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
2. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.

Catatan :
Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.

Bab 2
VOKAL dan PERNAFASAN

PERNAFASAN
Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.

Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan :
Pernafasan dada
Pada pernafasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang orang teater pernafasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk Udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.
Pernafasan perut
Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
Pernafasan lengkap
Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernafasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.
Pernafasan diafragma
Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir akhir ini, banyak orang orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.

Latihan latihan pemapasan :
Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
Cara berikutnya adalah menarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vocal.

Catatan : Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.

VOCAL
Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vocal yang baik pula. "Baik” di sini diartikan sebagai :
Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).
Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),
Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.
Tidak monoton.
Untuk mempunyai vocal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan latihan vocal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vocal, antara lain :
Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…” dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.
Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…” (suara keluar lewat hidung).
Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa…….” sampai batas nafas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.
Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan nafas)
Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.
Keluarkan suara vokal “a i u e o", “ai ao au ae ", "oa oi oe ou", “iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ......” dan sebagainya.
Berteriaklah sekuat kuatnya sampai ke tingkat histeris.
Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung gulung, berlari, berputar putar dan berbagai variasi lainnnya.

Catatan :
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.

Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.

ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang diucapkan.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :
Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.
Misalnya:
Kehormatan menjadi kormatan
Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan
Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.
Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb
Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.

GETIKULASI
Getikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, getikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda.
Getikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata "Pergi !!!!” dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?” , "Kenapa ?” atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.
Getikulasi harus dilakukan sebab kata kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda.
Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), “Pergi….” (mendapat tekanan).

INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :
1. Tekanan Dinamik (keras lemah)
Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.
SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)
Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)
Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)
2. Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
3. Tekanan Tempo
Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda beda. Lambat atau cepat silih berganti.

WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, getikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dsb.
Selain mengenai dasar dasar vocal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar dasar vocal seperti di atas.

(Si Dul masuk tergopoh gopoh)
Dul : Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang kota, Pak.
Paiman : Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).
Paiman : Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.
Pak Gondo : (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !
(kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?
Dul : Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali sambil motret.

Bab 3
GERAK

OLAH TUBUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal.
Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.

Pelaksanaan olah tubuh :
1. Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yana kita punyai, tentang segala rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
2. Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.
Putar kepala pelan pelan dan rasakan lekukan lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali kali. Ingat, pelan pelan dan rasakan !
Putar bahu ke arah depan berkali kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.
Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.
Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama sama.
Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.
Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.
Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari lari di tempat dan meloncat loncat.

Macam Macam Gerak :
Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam macam gerak Latihan latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.
Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, yaitu
1. Gerak teaterikal
Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.
2. Gerak non teaterikal
Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari hari.

Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.
1. Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dsb.
1. Gerak Kasar
Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu :
1. Business, adalah gerak gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya :
sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.
sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.
1. Gestures, adalah gerak gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
2. Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung gulung, melompat, dsb.
3. Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.

Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu.
Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak dasar”. Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
• Gerak dasar bawah : posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.
• Gerak dasar tengah : posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.
• Gerak dasar atas : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.

Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.
Latihan-latihan gerak yang lain :
1. Latihan cermin.
dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.
2. Latihan gerak dan tatap mata.
sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.
3. Latihan melenturkan tubuh.
seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.
4. Latihan gerak bersama.
suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.
5. Latihan gerak mengalir.
suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.

GERAK DAN VOCAL
Setelah kita berlatih tentang vocal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vocal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya.
Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vocal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vocal.

Bab 4
PENGGUNAAN PANCA INDERA DALAM TEATER

Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain :

1. Mata
Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.
2. Telinga
• Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
• Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bis, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.
3. Hidung
• Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
• Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.
4. Kulit
• Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.
• Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
5. Lidah
• Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dsb.
• Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.

Bab 5
KARAKTERISASI

Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.
Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.
Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya :
Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)
Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)

Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut :
• Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)
• Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.

Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.

OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.

ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dsb.

Cara-cara melatihnya antara lain :
• Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.
• Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.
• Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
• Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.
• Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.

IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.
Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.
Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :
• Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.
• Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.
• Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.
• Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.

EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernafasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.

PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.

Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :
• Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.
• Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.
• Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.

Bab 6
BLOKING

Yang dimaksud dengan bloking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, bloking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak bloking. Yang dimaksud dengan bloking yang baik adalah bloking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

1. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
2. Utuh
Utuh berarti bloking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
3. Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
4. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
5. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut bloking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip bloking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.

KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu bloking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri. Berikut ini adalah skema komposisi pentas.

7 8 9
4 5 6
1 2 3

PENONTON

Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan nomornya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar bloking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.

Bab 7
NASKAH

Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
1. Tema
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
2. Lakon
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
 Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani
usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
 Dimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan
status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
 Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan
temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
3. Plot
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
 Pemaparan (eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
 Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
 Komplikasi awal atau konflik awal
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
 Klimaks dan krisis
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
 Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

Label:

Selasa, Agustus 18, 2009

PANGANTAN RAMA BALONG

Adegan 1

Panggung menggambarkan suasana di rumah Datu Maras. Ada duduk Datu Maras ke Datu Kemang. Datu Maras Sedang menyerut Jontal (Daun Lontar). Datu Kemang sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
Datu Maras : Bagaimana keadaan anak Kita, Dinda! Apakah dia baik-baik saja.
Datu Kemang : Alhamdulillah Kakanda, anak kita baik-baik saja.
Datu Maras : Apakah Adinda sudah mengajarkan segala yang harus diketahui oleh anak kita, seperti: memasak, menenun, dan merapikan rumah.
Datu Kemang : Alhamdulillah sudah, Kakanda. Hanya saja, anak kita masih butuh bimbingan Kakanda.
Datu Maras : Syukurlah kalau begitu. Pada saatnya nanti dia juga akan belajar sendiri.
Datu Kemang : Adinda juga berharap begitu Kakanda.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketok.
Datu Oyang : (dari luar) Assalamualikum.
Datu Maras : (Menjawab) Waalaikum salam. (pada istrinya) Tolong bukakan pintu itu Dinda!
Datu Kemang : (bangun dan menuju ke pintu masuk). Tunggu sebentar! Siapa ya yang datang!
Datu Oyang : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Datu Kemang : Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. (mempersilakan masuk) Mari, silakan masuk Dea ke Lala!
Datu Oyang ke Datu Onye mengambil tempat duduk. Datu Oyang duduk dengan Datu Maras, Datu Onye duduk dengan Datu Kemang. Mereka bersalaman layaknya orang yang baru ketemu.
Datu Maras : Alhamdulillah, kami merasa bangga dikunjungi oleh Dea malam ini. Kami merasa tersanjung atas kunjungan Dea ke Lala. Silakan duduk!
Datu Oyang : Terima kasih atas sambutannya Datu. Kami merasa bahagia disambut seperti ini!
Datu Maras : Apa gerangan yang membuat Datu berkunjung ke rumah kami yang sederhana ini.
Datu Oyang : Kami mendengar bahwa datu sekarang sedang menyelesaikan pembangunan masjid di kampung ini. Kami senang mendengar kabar tersebut Datu.
Datu Maras : Masyarakat terlalu membesar-besarkan pekerjaan tersebut. Saya menganggap hal itu biasa-biasa saja, Datu! Itu merupakan tugas kita sebagai seorang muslim!
Datu Oyang : Saya sependapat dengan Datu. Pembangunan masjid memang merupakan tugas kita sebagai seorang muslim, hanya saja, kami merasa bersyukur bahwa pembangunan masjid itu Datu yang tangani. Saya merasa pekerjaan itu dipegang oleh orang yang tepat.
Datu Maras : Mudah-mudahan berhasil, karena memang itu yang kita harapkan, Datu!
Datu Oyang : Insya Allah akan berhasil, Datu! Ngomong-ngomong, Saya tidak melihat putri kesayangan Datu! Dimanakah dia sekarang, Datu?
Datu Maras : Astagfirullah, Dinda. Kenapa minumannya belum ada. Kami sudah berbicara dari tadi tapi minumannya belum ada.
Datu Kemang : Iya ya! Maaf saya lupa, maklum keasikan ngobrol dengan Datu Onye. (memanggil) Ananda Daeng Balong, cepat sedikit dikeluarkan suguhannya!
Datu Balong : (menyahut dari dalam) Sebentar Bunda! (Masuk pentas sambil membawa suguhan dan meletakkan di depan orang tua dan tamunya. Selanjutnya dia masuk lagi).
Datu Oyang : Sudah besar dan cantik Anak Datu! Apakah sudah ada yang lamar Datu?
Datu Maras : Dia masih kecil dan juga belum ada yang datang melamar.
Datu Oyang : (Badenung adalah pihak laki-laki meminta pada ayah si wanita agar anaknya mau dijodohkan dengan anaknya dan agar si wanita jangan sampai jatuh ke tangan anak orang lain) Saya juga mempunyai anak yang cukup dewasa, sepertinya tidak jauh beda umurnya dengan anak Datu. Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak kita Datu? (balawas) Kemang Komal Sideng Sia—Angan Kupina Rasate—Rela Ke Ajan Tukemban.
Datu Maras : Begitu juga baik. Saya juga setuju, tapi apa tidak terlalu kecil jika kita jodohkan Datu? (balas lawas) Kemang Komal Katukemban—Tuanggop Tanja Makassar—Tuarap Sia Yasumping.
Datu Oyang : Saya rasa anak sebesar putri Datu, cukup pantas untuk kita nikahkan dengan putra saya. Saya rasa mereka akan menjadi pasangan yang pantas dan serasi Datu!
Datu Maras : Alangkah baiknya kalau kita adakan Basamulung (memperkenalkan calon pengantin laki-laki dengan calon pengantin wanita) terlebih dahulu Datu, agar mereka dapat saling memahami satu dengan lainnya.
Datu Oyang : Saya setuju sekali dengan usul datu. Sebaiknya kita percepat saja Datu? Tampaknya sudah malam, sebaiknya kami pamit dulu Datu!
Datu Maras : Apa tidak terlalu cepat.
Datu Oyang : Lain kali kami kembali lagi, Datu!
Datu Maras : Baiklah Kalau Begitu!
Datu Oyang dan istri keluar panggung. Lampu padam. Musik masuk.


ADEGAN 2

Panggung Menggambar Rumah Datu Maras. Ada Datu Maras, Istri, dan Anaknya Daeng Balong Riri. Kemudian Datang Datu Datu Oyang, Istrinya, dan Daeng Rama Prange. Kegiatan Yang Ditampilkan Adalah Basamulung.
Datu Maras : Bagaimana dengan kesiapan anak kita dinda, apakah dia sudah mahir dalam mengerjakan pekerjaan rumah?
Datu Kemang : Insya Allah, putri kita tidak akan mengecewakan kakanda. Adinda sudah mengajarkan seluruh pengetahuan Adinda yang akan dipergunakan di dalam menempuh bahtera rumah tangganya nanti.
Datu Maras : Syukurlah kalau begitu, mudah-mudahan anak kita tidak mengecewakan suaminya nanti ya, Adinda!
Datu Kemang : Insya Allah, putri kita tidak akan mengecewakan Kakanda!
Datu Maras : Bukankah malam ini Datu Oyang dan Daeng Rama Prange akan berkunjung kemari Dinda?
Datu Kemang : Benar Kakanda. Mereka janji akan datang kemari selepas Isya!
Datu Maras : Mungkin sebentar lagi mereka akan datang Adinda!
Dari luar terdengar suara orang mengucapkanan salam.
Bersama-sama : (dari luar) Assalamualaikum!
Bersama-sama : (menjawab) Waalaikum Salam. Sepertinya mereka sudah datang adinda! Tolong buka pintunya, Dinda!
Datu Kemang : (pergi membuka pintu) Silamo!!
Datu Oyang : Terima kasih (Mereka bertiga masuk)
Ketiga tamu mengambil tempat yang tersedia.
Datu Maras : Bagaimana keadaan Datu dan keluarga malam ini, apakah sehat-sehat saja?
Datu Oyang : Alhamdulillah kami sekeluarga sehat-sehat saja. Bagaimana dengan keluarga di sini, apakah juga sehat-sehat!
Datu Maras : Alhamdulillah kami juga sehat-sehat seperti yang datu lihat!
Datu Oyang : Syukurlah kalau begitu!
Masuk Daeng Balong Riri membawa suguhan untuk tamunya.
Datu Maras : Duduklah Ananda di situ, temani Daeng Rama Prange ngobrol. Tampaknya dia kesepian sendirian dari tadi.
Daeng Rama : (Malu-malu)
Datu Maras : Silamo Kalian berbicara di sana, kalian tidak usah takut jika pembicaraan kalian kami dengar.
Daeng Rama : Terima kasih (tapi masih malu-malu begitu juga dengan Daeng Balong Riri).
Datu Maras : Jika kalian masih malu-malu begitu, kami akan ngobrol-ngobrol di dalam. Kalau begitu, (pada Datu Oyang) mari kita ke dalam! Tidak enak kita di sini kayaknya!
Datu Oyang : Baiklah kalau begitu, biarkan mereka berbicara dari hati ke hati datu!
Mereka berempat keluar panggung
Daeng Rama : Wahai Adinda, Siapakah nama Adinda?
Daeng Balong : (malu-malu) Nama Adinda Daeng Balong Riri Kakanda!
Daeng Rama : Nama yang indah sekali. (lawas) Kaling Punamo Kunganyang—Sateris Sampar Baringin—Kugantong Panatal Mateq. Batulan Kewa Pamanyang—Balong Batempa Ke Singin—Patitsi Kubantal Mate. Kakanda bernama, Daeng Rama Prange! Kakanda lihat adinda Daeng Balong Riri sangat cantik, sangat sesuai dengan namanya!
Daeng Balong : Ah, Kakanda! Kakanda terlalu pandai memuji, adinda jadi malu!
Daeng Rama : Adinda yang kelihatan malu semakin membuat kakanda jadi semangat malam ini.
Daeng Balong : (malu-malu) Ih, Kakanda.
Daeng Rama : (Balawas) Ajan Sampama Kumungka—Satemung Den Eta Bangi—Sarepi Mate ning Badiq. Ajan Sampama Katingka—Satemung Kita ning Jangi—Rela Ke Atemu Yandi.
Daeng Balong : Kuroasi Turit Sia—Tupasang Jangipo Dunung—Pamendi Naqmo Sayate.
Daeng Rama : Kupendi Nongka Sayate—Parana No Kugantuna—Kubela Mana Ke Nyawa.
Daeng Balong : Lamin Tutu Kayu Budi—Pina Palemar Parai—Baso Tembu ning Lambayung. Lamin Tutu Sia Pendi—Mara Tima Ketong Tali—Kalembu Tusaling Gayong.
Daeng Rama : Apapo Ampo Mususa—Lamin Aku Dadi Benteng—Tumate Saling Pajele.
Daeng Balong : Lamin Olosi Panotang—Mana No Rampak Bajango—Pamendi Ada Pang Sia.
Daeng Rama : Sendang Muntu Angan Ate—Datang Senap Ko Parana—Goyo ning Masa Tukompal. Mayang Bua Orong Benrang—Kuanggop Tanja Salimpat—Bakeal Untung Gamana.
Daeng Balong : Entek Anar Siwa Ilat—Enti Kemang Muntu Komal—Kahajat Sia Dapatmo.
Daeng Rama : Batamo Ungkap Ya Ujan—Balongmo Tugulung Layar—Ingat Naq Melong Lako Len.
Daeng Balong : Parana Long Kayu Jawa—Noroa Rabewe Peno—Cukup Rep Santung Ke Sia.
Dari luar panggung terdengar suara memanggil
Datu Oyang : Ananda Daeng Rama, sebentar lagi kita pulang. Ananda bersiap-siap!
Daeng Rama : Baik Ayahanda! (pada Daeng Balong Riri) Kakanda akan pulang. Kakanda akan selalu merindukan, Daeng. Percayalah dinda!
Daeng Balong : Adinda juga akan selalu merindukan kakanda. Yakinlah Kakanda!
Masuklah kedua orang tua pasangan tersebut ke panggung. Mereka pun berpamitan antara satu dengan lainnya.
Datu Maras : (perintah) Putriku masuklah. Hari sudah malam
Daeng Balong : Baiklah Ayahanda!
Datu Maras : Jangan lupa berdoa sebelum tidur!
Daeng Balong : Insya Allah Ayahanda. (keluar, tapi sebelum keluar dia melepaskan senyum kecil ke arah Daeng Rama Balong).
Setelah Daeng Balong Riri tidak kelihatan. Maka Datu Oyang menyampaikan isi hatinya kepada Datu Maras.
Datu Oyang : Datu, insya Allah seminggu lagi utusan keluarga kami akan kemari untuk “Tama Bakatoan.”
Datu Maras : Datanglah, pintu rumah kami selalu terbuka untuk keluarga, Datu!
Datu Oyang : Kami pulang dulu! (bersalaman diikuti juga oleh Daeng Rama Prange)
Datu Maras : Selamat jalan, semoga selamat sampai di rumah.
Mereka ke luar panggung. Lampu mati. Musik mengiringi kepergian mereka.

ADEGAN 3

Terlihat keramaian di Rumah Datu Oyang. Di situ banyak sekali “Sito.” Beberapa orang utusan sudah berdatangan ke rumah Datu Oyang. Orang-orang tersebut sekitar enam orang. Mereka merupakan orang-orang pilihan yang akan menyampaikan lamaran (Tama Bakatoan) ke rumah Datu Maras. Tampak di situ Datu Oyang dan istri sedang menyiapkan strategi agar acara Tama Bakatoan berjalan lancar.
Datu Oyang : Apakah persiapan sudah lengkap Dinda!
Datu Onye : Alhamdulillah Sudah Kakanda. Sekarang ututsan ini sudah dapat berangkat.
Datu Oyang : Aping Haji, apakah sudah siap untuk berangkat?
Aping Haji : Insya Allah Kami Siap! Doa kan saja agar kami berhasil!
Datu Onye : Aping Haji yang menjadi Juru Bicara. Untuk penentuan besarnya Pamako dari keluarga sana, kami berharap agar ditangani oleh Aping Ijaq!
Aping Ijaq : Saya siap, Daeng! Cuma berapa besar permintaan mereka akan kami sampaikan setelah pulang dari sana, Daeng!
Datu Oyang : Baiklah, Apapun permintaan mereka tolong disampaikan sedetail-detailnya. Asalkan sekarang, bagaimana agar “Sito” kita diterima dahulu oleh keluarga Datu Maras. Itu yang penting kami rasa!
Aping Haji : Betul kata Datu, saya sepakat dengan itu. Biar Sito kita dahulu diterima. Kalau Sito sudah diterima, maka urusan lainnya dapat kita selesaikan belakangan!
Datu Oyang : Kalau semua sudah lengkap, sepertinya sudah tidak baik terlalu lama berangkat, agar keluarga Datu Maras tidak terlalu lama menunggu.
Aping Haji : Baiklah kalau begitu. Kami berangkat dulu. Doakan agar perjalanan ini dapat membawa sesuatu yang baik seperti yang kita harapkan!
Mereka meninggalkan rumah Datu Oyang. Seluruh tim telah berangkat untuk menunaikan tugas mulai. Tinggal Datu Oyang dan istri saja.
Datu Oyang : Dinda, sebaiknya kita berdoa agar apa yang kita harapkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT.
Datu Onye : Dinda juga berharap agar apa yang kita hajatkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT, Kakanda,
Datu Oyang : Apakah Anak kita sudah diungsikan ke rumah pamannya, Dinda?
Datu Onye : Sudah Kakanda, Kita akan menjemputnya 3 hari menjelang acaranya.
Datu Oyang : Mari kita shalat dulu Dinda, kita memohon petunjuk pada Allah SWT.
Datu Onye : Kita wudhu dulu Kakanda!
Datu Oyang : Mari Dinda!
Mereka pun keluar pentas. Musik mengiringi kepergian mereka. Lampu perlahan-lahan padam.

ADEGAN 4

Panggung menggambarkan suasana di rumah Datu Maras. Ada beberapa orang di ruang tamu. Mereka juga asyik berbincang dan berdiskusi. Peristiwa pada adegan ini menggambarkan suasana orang yang “Tama Bakatoan”.
Tahapan-tahapan yang dilalui dalam tama Bakatoan
1. Datang Mula (Ntek Sito)
 Lawas-Lawas yang berisi petatah-petitih, Seperti kata-kata berikut: (permintaan dari pihak laki-laki) Ajan Sampama Katingka—Batemung Untung Ke Rela—Lebe Jina Kurasate—Ade Sia Yakukango—Na Kena Roasi Bosan—Bakaring Kamimo Baeng Jampang.
2. Saputus Karante (Sen-Lemar/Mako)
 Isi Pamako disampaikan oleh pihak wanita
 Kaum laki-laki melakukan tawar-menawar terhadap Pamako yang diinginkan oleh kaum pihak wanita.

3. Basaputus

ADEGAN 5

Pertemuan keluarga di rumah Datu Maras. Waktu selepas Magrib sebelum Isya. Daeng Balong Riri telah dijemput dari rumah Pamannya. Ada seorang perempuan yang dituakan untuk menyampaikan bahwa Daeng Balong Riri akan dikawinkan dengan Pangerang Rama Prange (Bada/Rabaya). Daeng Balong Riri dikelilingi oleh beberapa perempuan.
Tau Loka : Anakku, ada yang ingin kusampaikan kepadamu!
Daeng Balong : (hanya menantap dengan pandangan mata nanap)
Tau loka : Anakku, mulai malam ini ananda sudah tidak boleh keluar lagi
Daeng Balong : Kenapa Apink! Kenapa Saya tidak boleh keluar rumah lagi. Apakah ada perbuatan salah yang telah saya lakukan?
Tau Loka : Bukan! Ananda tidak melakukan kesalahan. Hanya saja…
Daeng Balong : Hanya saja kenapa Aping?
Tau Loka : Begini cucuku! Kamu akan dinikahkan dengan Pangeran Rama Prange!
Daeng Balong : (Langsung Bito sambil mengucapkan kata-kata) Ina a a… Roa Ate Sia Ina. ………Masi Sate Kulonas… Ina a a a a a a a ……
Suara dari luar : Jangan Mau. Na roa tode soq o. pamako laser sanene. Ampo nongka cocok kutele nya ke kau Daeng.
Aping Haji : Jangan hiraukan suara itu. Itu Cuma orang yang iri saja!
Suara dari luar : (ketus) Ngaromu sanenge aku.. Kamu cantik sedangkan yang laki-lakinya masih ingusan. Dia tidak akan mampu membahagiakan kamu. Pokoknya kamu jangan terima.
Daeng Balong : (makin keras melolong/Bito) Inaq… Ngasi Ateku Pe Inaq…Baseka Lampa Parana…Ling Tokal Kita Sama Len…
Aping Haji : Coba tedu anu ning luar! Kamu diam! kalian jangan merusak suasana! Jangan dengarkan suara-suara itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas, Cucuku!
Suara dari luar : (basanggaru) Lamun nom sanenge aku, murugi ari balong! Mukeang beka tode bero rua.
Daeng Balong : (tambah keras menangis)
Aping Haji : Allah SWT sudah mempertemukan jodohmu, Cucuku! Siapapun dia, dia adalah pilihan hidupmu yang terbaik!
Suara dari luar : Jodoh yang terbaik apanya! Calonmu itu orangnya roa Bataro, maen sabai, roa nginum ke maboq. Kamu nanti pasti akan ditelantarkan!
Aping Haji : (bijak) Apa yang dikatakan oleh orang-orang itu semuanya tidak benar cucuku! Sekali lagi Aping katakana, mereka-merekaitu adalah orang yang tidak punya kerjaan dan ingin merusak kebahagiaanmu! Hanya Allah SWT yang tahu akan nasib seseorang. Mari kita serahkan hidup dan mati kita pada-Nya! Dede Intan Mua Dewa—Mua Bulaeng Tutino—Penang Intan Manmo Nanges.
Daeng Balong masih terisak-isak. Terdengar suara orang yang membunyikan lumpang selama beberapa menit (Bagontong). Kemudian datanglah beberapa orang perempuan kampung ke rumah Datu Maras sambil membawa “Pe Gutus” (padi yang masih dalam ikatan) dan membawa “Deneng” (alu yang dibuat dari bambu), setelah warga kampung berkumpul, maka mereka melakukan upacara “Nunya Rame/ Bagontong” (yaitu membunyikan lumpang sambil mendendangkan lawas-lawas oleh ibu-ibu yang sedang menumbuk padi tersebut). Kegiatan ini berlangsung sampai jauh malam.

ADEGAN 6

Panggung menggambarkan kegiatan “Antat Pangita.” Keluarga calon pengantin wanita datang menghibur pengantin. Mereka datang bersama orang tuanya masing-masing. Mereka datang sambil membawa kado untuk calon pengantin wanita. Tempat: Kamar tidur pengantin wanita.
Uwan : Sudahlah saudaraku, kamu jangan banyak bersedih. Lihat ini, aku bawakan Kre Alang. Warnanya cocok dengan warna kulitmu. Kamu akan kelihatan tambah cantik dengan warna ini!
Daeng Balong : Aku takut saudaraku!
Uwan : Takut Kenapa?
Imok : Takut yang itu ya!
Uwan : Yang itu apanya?
Imok : Masak kamu tidak tahu yang itu! Ya yang itu!
Icak : Yang itu,,, oh aku tahu.. yang itu kan! Pasti deh yang itu!
Motek : Kamu ini Basanggaru (mengganggu) Saja!
Daeng Balong : Aku takut. Kamu tahu kan, aku selama ini tidur sendiri. Terus tiba-tiba beberapa hari lagi aku akan ditemani oleh seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Aku merasa gamang!
Imok : Benar kan dia takut yang itu. Maksudku,,, pokoknya yang itulah!
Uwan : (ketus) Kamu ini yang itu saja dari tadi! Sudahlah! Daeng, Semua wanita yang pernah menikah pernah mengalami hal itu. Bukan kamu saja Saudaraku!
Motek : Benar Kata Uwan, Daeng. Semua orang yang kawin pernah merakan hal itu. Kamu santai saja!
Daeng Balong : Aku tidak bisa santai dan bukan itu saja, Aku juga memikirkan, bahwa setelah menikah aku akan meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah orang lain!
Motek : Dia bukan lagi orang lain. Dia adalah suamimu!
Daeng Balong : Benar dia menjadi suamiku, tapi perasaanku sekarang ini belum bisa menerimanya.
Uwan : Lihat ini Daeng. Aku membawakan kamu perhiasan emas yang dibuat dengan tangan. Sepertinya perhiasan ini cocok sekali di badanmu!
Motek : (memegang dan melihat) Sungguh cantik sekali perhiasan ini. Di mana kamu beli, Uwan?
Uwan : Rahasia, model ini aku gambar sendiri. Kemudian aku suruh tukangnya membuat. Jadi seperti inilah. Aku akan memberikan yang terbaik untuk temanku yang cantik ini!
Daeng Balong : (bergumam) Aku juga tidak akan sedekat ini dengan kalian lagi. Hari-hariku akan hambar, tidak lagi sebebas waktu aku gadis lagi!
Motek : Kami akan sering-sering berkunjung ke rumahmu, Daeng!
Uwan : Aku juga!
Daeng Balong : (masih bergumam) Aku akan kehilangan keceriaan seperti saat-saat yang telah lalu!
Motek : Daeng akan bahagia. Keceriaan yang akan Daeng dapatkan melebihi keceriaan yang Daeng terima selama ini. Daeng pernah lihat Minah Kan. Dia sekarang tampak ceria setiap hari, saya tidak pernah melihatnya murung seperti dahulu. Dia sekarang tambah cantik!
Uwan : Allah SWT telah mempertemukan jodoh yang cocok dengan Daeng! Insya Allah Daeng akan bahagia. Kebahagiaan kita dengan orang tua dapat kita lupakan, karena Allah SWT telah memilihkan jodoh yang tepat dengan Daeng!
Daeng Balong : Aku belum dapat melupakan semua hal yang membahagiakan di rumah ini. Kenangan-kenangan, keceriaan, kebahagiaan yang aku dapatkan selama ini.
Motek : Daeng akan mendapatkan kenangan-kenangan, keceriaan, dan kebahagiaan baru bersama suami Daeng nanti! Saya yakin Daeng akan menemukan sesuatu yang baru di dalam kehidupan ini!
Uwan : Amin!
Daeng Balong : (nanar) Apakah calon suamiku nanti akan dapat membahagiakanku?
Uwan : Semua kita kembalikan pada sang Khalik, Daeng!
Daeng Balong : Terima kasih!
Keluarga dan teman-teman Daeng Balong sudah ada yang pamit, tapi masih juga berdatangan orang lain yang turut bersuka cita dan membawakan sesuatu untuk (Antat Pangita) Daeng Balong Riri. Lampu mulai redup dan padam. Musik miris mengantar kepergian orang-orang tersebut.

ADEGAN 7

Kegiatan Nyorong berpusat di rumah Datu Maras. Sudah banyak orang yang menunggu (Ngadang) di rumah Datu Maras. Mereka berpakaian khas Sumbawa. Keluarga pengantin wanita sudah menyiapkan orang yang mahir balawas. Beberapa menit kemudian datanglah rombongan “Nyorong” dari keluarga Datu Oyang. Kedatangan mereka diiringi oleh tabuhan “Ratib Rabana Ode”. Mereka membawa barang-barang yang sudah disepakati “Sen-Lemar” sekaligus dengan mas kawin “pabeli” juga sudah menyiapkan orang yang balawas. Di situ nanti akan terjadi penyampaian pesan, petatah-petitih dari lawas yang disampaikan.
Sampan Ode Benru Dadi (Pihak Laki/PL)
Balabu Pang Siding Sia
No Pendi Tulang Gamana

Sampan Ode Benru Dadi (Pihak Wanita/PW)
Balabu Pang Siding kami
Bongkar ning Nyonde Pati Leng

Nosoda Ade Kubentan (PL)
Godong Kayusi Salamar
Kanga Panumpan Tungining

Sia Ngining Aku Rara (PW)
Tusatempu Melasakan
Lema Rangkop Ban Salingong

Bangkat Ode Segi Empat (PL)
Tudaet Padu Ke Tamba
Tuser Biniq Sabelik
Batamo Tudatang Antat
Lamin Kurang Sia Tamba
Lamin Lebe Na Samalik

Mawa ade Sia Antat (PW)
Nosi Jina Yatupikir
Nyonde Ada Ke Kadatang

Leang Jepang Tanda Nyonde (PL)
Katubalo Tanja Bebek
Yakamata Nange Langkap

Na kamata Nange Langkap (PW)
Lamin Kurangsi Bagowe
Bebek Kamelar ning Aiq

ADEGAN 8

Kegiatan Barodak-Rapancar. Kegiatan “Barodak-Rapancar” dipimpin oleh “Inak Odak”. Pada kegiatan Barodak akan diiringi oleh tabuhan Gong-Genang. Selama proses Barodak-Rapancar, tabuhan Gong-Genang tidak boleh berhenti. Setelah acara Barodak-Rapancar biasanya diselingi juga dengan Sakeco. Kegiatan lain yang disiapkan adalah “Rajang Basa” (kegiatan memasak yang dilakukan ibu-ibu jiran tetangga sebagai persiapan untuk menjamu tamu yang hadir pada acara selanjutnya). Untuk kegiatan Rajang Basa dapat divisualisasikan dengan “Tari Rajang Basa/ kegiatan ini bisa juga tidak dilakukan.”

ADEGAN 9

Kegiatan berikutnya Ngiring Pangantan. Ngiring Pangantan adalah kegiatan mengarak pengantin pria menuju ke rumah pengantin wanita. Sebelum iringan pengantin laki-laki berjalan, dari keluarga pihak pengantin datang ke rumah pengantin laki-laki untuk dipersilakan menuju ke rumah pengantin wanita. Mempelai pria menaiki kuda menuju tempat nikah. Pada saat ini mempelai pria berada paling depan dan diikuti kaum ibu-ibu dan bapak-bapak. Rombongan terakhir adalah pemain ratob rabana.
Tiba di rumah mempelai wanita, mempelai laki-laki dan rombongan iringan pengantin tidak boleh langsung naik ke rumah pengantin wanita, melainkan terlebih dahulu harus Barupa (menyerahkan hadiah biasanya uang harus dimasukkan ke dalam “pego”). Barupa disimbolkan bahwa kekehadiran satu orang lagi bagi keluarga mempelai wanita tidak akan menjadi beban. Karena calon suami laki-laki berasl dari keluarga yang berkecukupan sandang pangan. Setelah prosesi memasukkan uang ke dalam pego selesai, barulah mempelai laki-laki boleh masuk/naik ke rumah pengantin wanita. Kegiatan ini dilakukan pada waktu sore hari setelah shalat Ashar dan sebelum shalat Magrib.

Akad Nikah adalah pengucapan janji untuk hidup bersama secara sah menurut hukum Islam. Akad nikah dilakukan pada pagi hari. Akad nikah dapat dilakukan setelah Rabaya dan atau seminggu setelah barodak. Biasanya dapat dilakukan setelah selesai acara Bakatoan, tergantung kesiapan kedua belah pihak, terutama keluarga kaum wanita.

Bajelak artinya seorang suami akan menyentuh kening istrinya. Kegiatan ini sebagai simbol bahwa istri harus tunduk kepada suami. Kedua pengantin disusukkan berdampingan, namun pengantin wanita masih menggunakan cadar. Untuk membuka cadar istrinya, seorang suami harus memasukkan uang ke dalam Pego yang telah disiapkan. Sebelum memasukkan uang ke dalam pego, maka si suami tidk boleh membuka cadar istrinya.

Montok Basai adalah sama dengan resepsi perkawinan. Pada acara montok basai, pengantin di dampingi oleh “Inak Odak.” Inak Odak sangat berperan di dalam prosesi upacara perkawinan di Sumbawa Barat.


ADEGAN 10

Kegiatan yang dilakukan pada adegan ini adalah Basarere. Pengantin di Sumbawa tempo dulu tidak saling kenal mengenal. Meskipun sudah menikah, pengantin belum dapat langsung tidur bersama. Ini merupakan tugas berat bagi Inak Odak untuk menyatukan kedua pasangan yang tidak saling kenal-mengenal ini. Kegiatan ini di sebut Basarere atau Isarere (didekatkan/diakurkan). Setelah acara Montok Basai, di rumah pengantin masih banyak teman bermain si wanita. Mereka ikut meramaikan acara dan biasanya ngumpul di kamar pengantin wanita. Mereka juga masih banyak yang tidur dengan pengantin wanita hingga hari kedua setelah proses Montok Basai. Menjelang hari ketiga (dianggap hari final bagi acara Isarere/untuk meluluhkan hati pengantin wanita, jika pada hari ketiga belum dapat diluluhkan hati pengantin wanita oleh pengantin pria maupun Inak Odak, maka bisa saja pada hari itu pengantin laki-laki menjatuhkan talak pada pengantin wanita. Ini pekerjaan yang paling ditakutkan oleh Inak Odak karena dianggap gagal).
Daeng Balong : (mengumpulkan seluruh pakaian temannya ke suatu tempat agar teman-temannya tidak bisa pulang pada hari itu) Kapok kalian! Kalian tidak akan bisa pulang hari ini. Aku telah menyembunyikan seluruh pakaian kalian!
Teman 1 : Di mana pakaianku! Siapa yang telah menyembunyikan pakaianku!
Teman 2 : Pakaianku juga tidak ada. Apakah kamu yang telah menyembunyikannya (pada teman lainnya).
Teman 1 : Tidak, bukan aku yang menyembunyikan. Coba lihat, pakaianku saja tidak ada!
Teman 3 : Pasti ada yang menyembunyikan pakaian kita!
Teman 2 : Benar! Pasti ada yang menyembunyikannya! Tapi siapa?
Teman 3 : Mari kita cari dulu!
Teman 1 : Mari! Kamu cari ke atas Para Bate (loteng rumah panggung). Motek ke Tumang (dapur) dan aku ke Anok Tabongan! (di bawah kolong rumah).
Dan beberapa saat kemudian mereka pun menemukan buntelan pakaiannya.
Teman 2 : Aku sudah menemukan pakaian kita (kedua temannya pun mendekat. Tampak raut bahagia di wajah mereka).
Teman 3 : Mari kita pamit pada Datu Maras dan juga Daeng Balong.
Teman-teman : (serempak) Mari
Daeng Balong : (cemberut) Kalian jangan pulang! Aku akan kesepian tanpa kalian!
Teman 1 : Aku mau ke sawah tetangga besok. Karena ada acara Mataq Rame di sana!
Teman 2 : Aku juga ada acara!
Teman 3 : Papunku sakit parah dan aku yang bertugas untuk menjaganya mulai hari ini! Selamat tinggal! Selamat bersenang-senang ya!
Daeng Balong : (masih saja cemberut) Kalian tega meninggalkan aku sendiri! Kalian kejam! Kalian tidak setia kawan!
Teman 2 : Bukan begitu, Kanti Boro! Kami masih banyak pekerjaan di rumah. Lain kali kami ke sini lagi! (diamini oleh teman-teman yang lain)
Semua teman-teman si wanita sudah pada pulang, tinggallah sekarang dia sendiri. Daeng Rama masuk ditemani oleh Inak Odak.
Daeng Rama : (mendekati pengantin wanita)
Daeng Balong : (beringsut ke samping)
Inak Odak : Wahai anakku, janganlah kamu menghindar, karena dia sekarang sudah menjadi suamimu!
Daeng Rama : Betul, Dinda. Sekarang kakanda sudah menjadi suami.
Daeng Balong : (pasang muka masam)
Inak Odak : (membujuk) Jangan pasang muka begitu! Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri dan dengan begitu kamu kelihatan kurang cantik!
Daeng Rama : (balawas) Manasi Ling Mutulang Do—Nake Sangka No Kunotang—Aku Tunotang Nonda Man. Pasanglah wajahmu yang cantik itu istriku! Kubara Jaran Ko Badi—Kusangola Lutuk Tingi—Lantas Pola Bao Batu. Kanatang Kaku Ko Andi—Kudatang Temung Kajangi—Lema Na Bola Pang Aku.
Daeng Balong : (beringsut lagi dengan wajah yang lebih masam)
Daeng Rama : (mendekatkan wajahnya lagi dari arah yang berlawanan) Ado Adi Daeng Balong—Ate Belo Ku Ke Yandi—Nan Masimu Lontak Mega—Lamin Pang Aku Andi E—Nyawa Kusera Ke Yandi!
Inak odak : Lihatlah Anakku, begitu cintanya suamimu padamu. Apakah hatimu tidak tergetar mendengar rintihan hatinya.
Daeng Balong : (mulai berubah parasnya, tapi masih saja diam membisu)
Daeng Rama : Lamin Lalo tutit jangi—bilen bulumu satangar—yadadi batang parana. Ta datang batang parana—yatarepa siding andi—gama mutulang ke kemas. Ta datang muka ku andi—tarepa boa rua yandi—totang ling manis kugama. Benru datangmo panotang—mana muntu kuangkang me—kubilen renduk basungu.
Inak Odak : Betapa miris lawas yang diucapkan suamimu anakku. Bukalah hatimu sedikit untuk cintanya yang tulus. Karena dengan diam, tidak akan diketahui apa maumu anakku! Ingatlah, bahwa sekarang Anakku sudah menjadi seorang istri! Akan berdosa seorang istri jika tidak menyambut kasih yang ditawarkan suaminya! Anakku tidak ingin menjadi hamba yang berdosa, kan!
Daeng Balong : (mulai buka mulut) Saya tidak ingin menjadi orang yang berdosa.
Inak Odak : (memanggil Daeng Rama agar mendekat—Daeng Rama mendekat) Peganglah erat tangan istrimu, Anakku!
Daeng Rama : (memegang tangan istrinya—dia hanya memandang dengan penuh kasih sayang)
Daeng Balong : (malu-malu tapi tidak menarik tangan dari genggaman suaminya)
Terdengar lantunan musik lagu “Saling Sayang.”

TAMAT

Skenario/Sutradara: Fathi Yusuf
Nara Sumber:
1. Haji Muhadli
2. Abdul Gani, S.Pd.

Label:

BAGESA: MATA RAME/BARAMPOK

Skenario: Fathi Yusuf

ADEGAN PERTAMA

Pentas Menggambarkan Sebuah “Bale Kataruk” (Berugak), Ada Dua Orang Yang Sedang Basakeco. Beberapa Helai Jontal Tergantung Menjuntai. Musik: Dua Orang Sedang “Basakeco”
Isi Sakeco Bermuatan Tentang Permainan Rakyat “Barampok”
O Sarea Tau Ade Ada Pang Ningta, Silamo Sia Menong Aran Kami Tentang Sopo Permainan Rakyat Ade Ada Pang Tana Anorawi. Maen Ta Yatusasingin Barampok. Barampok Ta Yasangada Muntu Bowemo Tau Mataq. Boat Barampok Yasangada Kenang Yasangilang Ompa Enti Boat Iwit Muntu Jura Mataq.
Mara Ling Lawas: “ Benru Kutama Desa Ta—Taria Ngantang Samangat—Ate Nonda Sate Mole”
Pang Saman Ta, Barampok Yasangada Siong Yakenang Tubuya Sai Ade Jago. Barampok Yasangada Kenang Tusarame Ramia Desa Darat Ke Tanda Pamuji Kita Angkang Dea Koasa De Basingin Ala Tala.
“Do Desa Kudatang Goyo—Leng Ola Kudange Au—No Kudatang Apa Sia—Sabenar Nonda Koasa—Konang Ramanik Ne Tingi—Mana Leng Sakit Kukaya”.

(Siluet: visualisasikan beberapa permainan rakyat)

Muntu Datang Sopo Masa, Barampok Yasangada Leng Diparsenibud Kenang Tupina Kanyaman Tamue Ade Datang Ko Tana Samawi Nusa Tenggara Barat. Maen Barampok Tusanadi Sopo Aset Budaya Ade Perlu Tulestarikan.

Tarima Kasih Kami Ko Diparsenibud Yasangada Boat Ta. Pangeneng Kami Ko Sia Silamo Tetap sangada Boat ta Bau Belo Bawa Rungan.

Lampu padam seiring berakhirnya sakeco.


ADEGAN DUA

Ada empat orang duduk di sebuah ruangan. Di dinding ruangan tergantung “Male”. Ada yang menyerut jontal dan digunakan untuk membuat rokok. Jontal juga digunakan sebagai alat tulis menulis. Musik mengiring dari sisi panggung (genang aer/todo) dan serunai lolo pe.
Eman : Nonda tegas-tegas tutelas saman ta. Semua kebutuhan pokok semakin membelit leher. Minyak, air, gula dimonopoli oleh segelintir orang yang kemudian dijual dengan harga melambung.
Cun : Tetu kau, Eman. Harga pupuk semakin menjulang saja harganya. Petani terlibat ijon untuk dapat menyambung hidup. Rentenir makin untung saja. Kita semakin dililit utang. Rentenir ta nyang pina kasakit tau.
Meng : Padahal monopoli menurut undang-undang dilarang, tapi nyatanya, terkadang yang membuat undang-undang ini yang melanggar.
Ija : Menurut pepatah sih, disebut dengan “Pagar Makan Tanaman”
Eman : Betul kamu Ija’. Pantas kamu kelihatan lain dengan perempuan di desa ini.
Ija’ : Na Bero Kaka e. tukangila Sa’. Tapi, So ti tuju tubasakola, bau tu to sanene permasalahan hidup. Kita jangan hanya di ninabobokan oleh kekayaan alam. Kita hidup menjadi tidak kompetitif karena masih menggantungkan hidup pada kekayaan alam. Karena, cadangan kekayaan alam suatu saat dapat saja habis. Coba lihat orang Jepang, mereka tidak punya kekayaan alam seperti kita, namun mereka mampu memanfaatkan SDA yang sedikit menjadi Negara maju.
Cun : Aku setuju dengan pendapatmu Ija’. Contoh lain: Negara Singapura yang kecil itu dengan SDA yang sangat minim, tapi mereka juga dapat menjadi Negara maju. Ingatlah bahwa suatu saat SDA akan habis. Berbeda seandainya kita mampu memanfaatkan SDA dengan sebaik-baiknya dan didukung oleh peningkatan kemampuan SDM.
Eman : Apanya yang berbeda! Sumber daya manusia itu yang perlu ditingkatkan. Soalnya, manusialah yang menentukan kelestarian dan keberlangsungannya ekosistem di alam. kita harus dapat memanfaatkan kekayaan alam kita untuk peningkatan taraf hidup kita tetapi bukan dengan jalan menghabiskannya dalam tempo lima sampai sepuluh tahun, melainkan harus mampu kita daya gunakan sepanjang hayat.
Ija’ : Kalau seperti itu, berarti yang paling cocok dengan rumusan kaka’ adalah konsep pengembangan potensi alam untuk kebutuhan pariwisata. Sangat menarik memang, potensi alam yang digarap sebagai potensi pariwisata tidak akan menghabiskan cadangan kekayaan alam. Kekayaan alam yang digarap untuk kebutuhan pariwisata dapat berupa; wisata alam, wisata bahari, wisata budaya dan atraksi wisata (sport tourism) begitu.
Meng : Apa saja sih yang dimaksud dengan wisata alam, bahari, budaya, dan atraksi wisata itu, JA’?
Ija’ : Wisata alam dapat berupa arung jeram, hutan lindung, taman marga satwa. Wisata bahari dapat berupa taman laut (coral reefs), surfing, kano dan boat. Wisata budaya dapat berupa upacara adat, kesenian tradisional, kerajinan tangan rakyat yang memiliki ciri khas masyarakat setempat. Atraksi wisata untuk wisata (sport tourism) atau permainan rakyat di Sumbawa Barat sangat banyak, meliputi: Nganyang, Barampok, Maen Jaran, Mencak, Karaci, Barapan Ayam, dan Barapan Kebo.
Itu kalau kita mau memanfaatkan kekayaan kita untuk dunia pariwisata, maka kekayaan itu tidak akan habis-habisnya. Berbeda seandainya kalau kita hanya akan menambang SDA yang ada, maka suatu saat kita akan jatuh miskin. Coba lihat, Sekarang saja tanah-tanah di desa kita ini sudah mulai menyempit. Berbeda dengan waktu kita masih kecil dulu. Kita masih dapat main gore, maen cilo, maen cop, maen pake, dll.
Cun : Aku dulu suka main Barapan Ayam, Barapan Kebo, Nganyang, Main Jaran, dan Juga Barampok. Sekarang ini, jarang kita dengar yang melakukan permainan ini.
Eman : E dengan ku salebe na. Aku punya pengalaman menarik waktu kecil dulu. Aku pernah menyaksikan orang sering mengadakan permainan “Barampok”. Permainan Barampok yang aku lihat dulu dilakukan setiap selesai panen. Suasananya meriah sekali, ada gong genangnya, terus yang menontonnya juga berdatangan dari berbagai pelosok. Padahal, banyak di antara mereka yang luka, giginya tanggal, mukanya lecet. Anehnya, mereka yang Barampok itu setelah selesai pulang dengan tertawa sambil bergandengan tangan.
Meng : Kan sekarang banyak kita lihat Tinju di televisi, buat apa kita mengadakan permainan Barampok ini.
Eman : Itu beda dong, Meng. Tinju dan barampok memiliki ciri khas tersendiri. Barampok merupakan sarana untuk mempererat tali solidaritas sesama kita setelah selesai panen, sambil mencari hiburan yang mendidik generasi muda yang ada sekarang.
Ija’ : Kaji setuju dengan ke Sia. Yang dilihat oleh pendatang adalah perbedaannya, nilai-nilai yang diemban, serta sikap kita terhadapnya. Kalau semua sama, jangan harap ada yang mau datang menyaksikan permainan ini. Buat apa mereka datang jauh-jauh ke suatu tempat, jika di tempat itu mereka akan melihat yang ada di kampung dan negaranya. Kalau kita lihat, maka mungkin saja permainan di kampung para wisatawan itu lebih baik dan lebih maju dari kita, tetapi yang ingin dilihat oleh mereka adalah perbedaannya (daya beda). Inilah nilai jual yang sangat tinggi untuk dunia pariwisata. Kita harus dapat membaca kondisi ini, nilai beda sama dengan nilai jual.
Cun : Tetu ti so Kau Ija’, nime kam dapet karante so. Kam mu gera mupintar kabali, de aji nuya anu tau so pe, kupararimu!
Meng : Na mangkutik bro kau, Cun. Na kubaya Mina nengka. Beka’po yagalengengmu.
Ija’ : Mangkutik, mara tau nonya anak na bae. Masi sia taruna bae no kuroa sia, apalagi kam telu anak sia.
Cun : E nanta kau Ija’, peno tau dadara saman sa balege ke tau loka.
Ija’ : Ba beka’po pernya, ansal na aku, bae ti. Lamun aku nom pen na.
Cun : Mubadosa mubeling bro ke aku nengka, Ija’! kususamu karing mulalo buya lo baleku, no kucarik ke.
Ija’ Na kubuya sia beka po. Tau taruna bae kasaga kubuya, apalagi tau yam sia, roamo renjo ke rengkong.
Meng : (senyum-senyum) E sanak sabai salaki, sudamo tu batengka. Perso sa, seperti elit politik saja bertengkar. Biar mereka saja yang suka bertengkar. Kalau, kita harusnya Cuma melihat dan mendengar saja “Gesa” mereka. Kalau mereka berbohong jangan dipilih lagi untuk lima tahun ke depan.
Ija’ : Ba di’ na mangkutik, yarayu tubeka. Sepan no tu tan kam lo bine anak, masi sate samangan taya. Aji taya no pekok, mega ti. (lawas) Ngaromo sia dengar lawas sa “Na susa sanak salaki—nisung batu kakupasang—ingat sia lupek… lupek...lupek”
Cun : Sala lingmu so Ija’! Nongkamu tan ke, bine ku sen ngeneng ampun runtung petang. (balawas) Apapo Ampo Mubuya—Idung Bakolar Ke Papar—Senap Rena Nyaman Ate. Bam jerangmo so.
Ija’ : I narua na, nongka tu roa karing menghina. jerok loka-loka tau so. No tan di’na, Ne (kaki) kam katalat sabela, karing tutari waya bae ti. (balawas) Kupendi Nanta Sia e—Balangan Renjo Ke Rengkong—Ten Mudi dadi Rembong Yen.
Cun : Na’ musadunu karoa tuhan kau Ija’, mubadosa mubeling berko ke aku.
Ija : Beka po, ansal na terus sia bagerik, apa bage sa masi po mawal.
Cun : Na’ mukarante masih mawal, masi uda kurepu bae, daripada belo kujarejok.
Ija’ : (marah) Na rua tau loka so, no palang-palang beling ke dita. Sijar sia tau mira kapia.
Cun : Kamu kalau marah semakin cantik saja, Ija’! Aku semakin terpesona padamu. Seperti lawas: ayam ngaram poto para—tusedu-sedi mangkeok—haram tumpan nyaman ate—nanta lala rumi lalo.
Ija’ : Baki!
Eman : (menengahi) Sudahlah, Aku punya usul, bagaimana kalau kita adakan pertandingan Barampok ini, sekaligus untuk melestarikan asset bangsa juga dapat dijadikan sebagai pembelajaran nilai-nilai kebersamaan dan kesatuan kepada generasi kita untuk masa yang akan datang.
Cun : Aku setuju.
Ija’ : Kaji juga setuju. Permainan ini juga sangat menguntungkan kita. Kita dapat mengundang seluruh masyarakat dari lima kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat, bahkan se NTB.
Eman : Bagaimana dengan kamu, Meng?
Meng : (berpikir) Bagaimana ya, terserah kalian sajalah. Aku menerima saja.
Eman : Jangan begitu dong, Meng! Kita harus kompak!
Meng : Aku trauma, soalnya dulu waktu ada acara barampok, aku di pukul oleh si Neng hingga pingsan.
Ketiga : (Ketawa semuanya)
Cun : U… nanta na, bro ke kanti.
Meng : Na’ ngejek bro, kele sa rua mutulang masih lo kupatik maen so ku dunu. Namucoba, karing mu biru nengka.
Cun : (mengeluarkan jurus) Tu tes ke…
Meng : (berdiri) Lamun so anu mubuya, saya layani…
Cun : (mengambil jurus-Ngumang)
Musik Srama, Eman dan Ija’ memberi semangat. Setelah beberapa saat Cun dan Meng kelelahan. Musik juga berhenti.
Eman : (pada Ija’) Tolong buat pengumumannya, sampaikan kepada mereka tentang kegiatan ini.
Ija’ mengambil Jontal dan Pangat-kemudian menulis di jontal itu-melihat hasilnya.terdengar suara Lolo Pe).
Eman : Gimana, apa isinya?
Ija’ : (Membaca pengumuman) Pengumuman. Kami mengundang sarea rama peno untuk ikut ambil bagian pada acara permainan Barampok. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Hari, sabtu tanggal: 4 Oktober 2004; tempat: Taman Budaya Mataram (menyerahkan jontal pada Eman).
Eman : Terima Kasih (pada Cun dan Meng) Kalian Besok harus menyampaikan pengumuman ini pada seluruh masyarakat NTB.
Mereka: Siap.

Mereka semua keluar panggung. Musik genang aer/todo dan serunai lolo pe mengiringi kepergian mereka. Lampu padam.


ADEGAN TIGA

Musik Tarian “Mata Rame”, Dilanjutkan dengan Masuknya Penari Mataq Rame. Tarian Mata Rame Mengawali Kegiatan Barampok. Setelah Tarian Selesai Dilanjutkan Dengan Musik Temung Srama. SUASANA: arena Barampok di tengah sawah yang telah selesai di panen. Eman, Meng, Cun, dan Ija’ ada di sekitar arena sebagai panitia.
 Beberapa orang yang ngumang
 Beberapa orang yang barampok
 Beberapa orang sanro
 Beberapa orang yang menonton
Selesai musik Mata Rame dilanjutkan dengan musik “Malangko”. Permainan Barampok divisualisasikan dengan Tari “Barampok”.
Tau Barampok : Ngumang
“Beling Kolo Alang Aji
Samung Leng Bubit Lamenta
Ta Nyonde Linang Buya Tat

Buemo Kupenro Desa
Kalis Seran Ko Sakongkang
Kututet Timal Sapurang

Tau Umung : (Memperkenalkan-Memanggil Tau Barampok)
Barampok 2 : Ngumang
“Jangi Olat Si Kutengke
Datang Malang Mara Teja
To Nyonde Undang Karoa

Karoa Kutama Lenang
Siong Datang Buya Timal
Belo Langan Jango Sanak”

Juri : Mempertemukan
Beberapa Orang Memberikan Aplaus.. HO HAM MA…HO HAM MA… DST.
Wasit : Mempertemukan Tau Barampok 1 & 2
Pendukung Ngumang tim 1
“Lepas Aku Papen Gani
Perat Ima Sate Ngumang
Tusamaras Tu Barampok
Jina Maras Tubarampok
Barundang Diparsenibud
Sate Rame Desa Darat”

Ngumang pendukung tim 2
Bua Kenras Sate Ngumang
Boe Ngiat Tolang Isi
Sate Tama Lo Barampok

Barampok Intan Barampok
Bolang Carik Tu Desa Ta
Mura Ero Tubarema”

Begitu Selanjutnya “Ngumang” Sampai Permainan Berakhir

TAMAT

Skenario/Sutradara: Fathi Yusuf

Pendukung Kegiatan

Sanggar Rampak Sengo (Saras)
Kerukunan Masyarakat Seni Samawa (Kemas-Samawa)

20 Mei 2006

Label:

Senin, Agustus 17, 2009

LALA JINIS

Muhammad Ikraman

Cerita ini diangkat dari legenda rakyat Tana Samawa (Sumbawa). Certia ini beredar di masyarakat Sumbawa sejak dulu. Kali ini, kami mengangkatnya dalam bentuk pagelaran Teater yang akan dipadukan dengan musik, teri tradisional dan modern. Karena bentuknya legenda, sehingga kepastian terjadinya tidak ada yang tahu secara pasti.

Adegan I
Pentas-suasana malam, lampu remang-remang. Tempatnya menyiratkan sebuah rumah yang dilengkapi dengan kursi, kamar tidur. Diiringi oleh tabuhan alat musik biasa, mengalir dengan syahdu dan terdegar sayup. Lampu tunggal mengarah kea rah Lala Jinis dan Lalu Dia’.


Lalu Dia’ : Kakanda lihat (lembut), adinda sering, melamun belakangan ini, ada apa dinda ?
Lala Jinis : Ah kanda, jangan berperasangka yang bukan-bukan.
Lalu Dia’ : (rendah) bukan begitu, dinda, tapi siapa yang tega melihat isterinya murung begitu ?
Lala Jinis : Sebenarnya tidak ada masalah. Dinda hanya teringat masa lalu kita. Masa-masa yang sangat indah-pertama kali kita bertemu, kanda saya lihat sangat tampan. Matamu hitam menghujam tepat dijantungku. Aku terpaku, terasa matamu membelai pipiku. Masa yang penuh dengan bunga-bunga, kupu-kupu, kicauan burung-begitu indah. Itu awal dari pertemuan kita. Oneng dan Puntuk, mereka polos dan lucu (tersenyum).
Lalu Dia’ : Dinda ingin mengulanginya lagi ? atau bagaimana…?
Lala Jinis : Bukan begitu, Kanda ? (manja) Kanda jangan mengejek.
Lalu Dia’ : Tapi kenapa adinda begitu serius dan murung.
Lala Jinis : (serius) Kanda Lalu Dia, dinda ingat Ran Pangantan. Pertemuan kita ini meski banyak yang indah-indah, tapi juga penuh air mata dan darah. Dinda ingat Ran Pangantan, begitu bengis menatapku, saat tahu aku mencintaimu. Mungkin itu salah, tapi hati kecilku tak dapat aku bohongi. Kanda Lalu Dia adalah mimpi indah bagi dinda, sedangkan Ran Pangantan menjadi bayangan ketakutan dalam hidupku. Dia menjadi mimpi buruk adinda setiap saat. Pandangan matanya seolah merobek jantungku. (Merajuk) Dinda takut Kakanda.
Lalu Dia’ : Lala Dendaku, sudahlah. Semua sudah berlalu. Semua jangan dipikirkan lagi.
Lala Jinis : Tapi….
Lalu Dia’ : Kita telah bersatu. Dan Dinda tahu, Kakanda sangat bahagia. Juga anak-anak kita, semuanya cantik dan tampan, seperti kau dan aku. Sekarang, tidurlah-mimpikan kanda biar semuanya terasa indah.


Penyanyi melagukan lagu rindu pada kampong halaman, tentang orang tua, dan tempatnya bermain.


Adegan II
Musim Melambangkan Suasana Malam, tinggi (serunai). Dua orang masuk, yang satu tinggi (tampan). Yang satu pendek gemuk menggunakan pakaian orang biasa atau pengiring pangeran.
Lampu suasana senja.
LD : Puntuk kita berhenti dulu, sebab sebentar lagi kita akan memasuki ibu kota Kerjaan Seran.
Puntuk : Baik paduka yang muliah. Tapi, kenapa kita berhenti di sini Tuan. Lalu Dia akan belum mendapatkan gadis yang menjadi impian tuan. Gadis yang berkenan di hati, yang selalu datang dalam setiap mata terpejam. (menggoda) Gadis yang rambunya terurai, hidung mancung, alis bagai kerbau parapan.
LD : Puntuk…
Puntuk : Ha…ha… Tuan mencari gadis yang punya betis seperti Rebong Katuntang, bermata baja, berurat kawat. Haa…haa…. Memangnya “Kebo Pongong”.
LD : (Jengkel) Puntuk. Sudah, saya mau tidur.
Puntuk : (Mencegah) sebentar dulu Tuan. Kita tadi telah sampai di kerajaan apa, ya ? kalau tidak salah, kita telah sampai di Kerajaan Seran, ya…ya… Kerajaan Seran.
LD : Ya, Kerajaan Seran, kenapa ?
Puntuk : Kerajaan Seran ? E..e…e Tuanku lalu. Apakah kerajaan Seran jauh ya, dari Kerajaan Empang ? dan Kerajaan Brang Kolong jauh juga, ya ?
LD : Ya. Kenapa ? E..e..e. Kerajaan apa tadi ?
Puntuk : Kerajaan Brang Kolong. Jika saya tidak salah dengar. Di Kerajaan Brang Kolong banyak juga gadis yang cantik, Lalu.
LD : Kau Puntuk, ada-ada saja.
Puntuk : (melihat lalu Dia mau tidur) lalu jangan tidur dulu. Bagaimana jika kita pulang saja ke tanah Alas. Di Alaskan banyak gadis-gadis yang cantik.
LD : Puntuk ! Justru saya datang kesini, ke Tana Seran, sebab di sini khabarnya gadisnya cantik-cantik. Saya ingin memperbaiki keturunan kita di masa yang akan datang. Saya tidak mau keturunan kita itu mirip seperti kamu.
Puntuk : Khabar yang Tuanku dengan adalah khabar burung. Yang jelas gadis seran itu adalah lawasnya, bagini Tuanku.
Kumanang ling unter ungen
Kupanto dadara seran
Tutu genra konang gebak
LD : Puntuk ! jadi sekarang kau sudah berani menghina orang.
Puntuk : Habis, Tuanku lalu begitu, kita sudah berjalan dari desa satu ke desa yang lain, tapi belum ketemu juga. Habis yang dicari gadis berbetis rebong katuntang.
LD : (Berteriak) Puntuk !
Puntuk : (Kaget) Ya Tuan.
LD : (Legih Tinggi Lagi) Puntuk, jika puntuk tidak mau mengikuti saya lagi, pulang saja ke tana Alas. Dan bilang pada ayahanda, bahwa saya Lalu Dia’ tidak akan pulang sebelum mendapatkan gadis yang saya impi-impikan. (Mengusir) Ambil barang-barangmu dan pergi.
Puntuk : Eh.. Tuanku kok serius sekali.
LD : Saya bilang pergi
Puntuk : Tidak.
LD : Pergi.
Puntuk : Tidak.
LD : Pergi Puntuk.
Puntuk : (mengemasi barang-barangnya) baik, saya akan pergi.

Puntuk pergi meninggalkan Lalu Dia’. Tetapi selang beberapa waktu dia kembali lagi.

LD : Kenapa kembali ?
Puntuk : Kalalu saya de tanah Alas, nanti ayahanda tuanku akan menyuruh saya kembali dan mencari tuan, seandainya itu terjadi kan akan membuat saya capai tuan. Puntuk pulang-lalu Dia’ juga pulang, begitu katanya tuan.
LD : Kalau begitu, jangan mengganggu lagi. Biarkan saya istirahat.
Puntuk : (sambil melihat Lalu Dia’) Lalu-lalu, semoga lalu mendapatkan gadis yang baik-baik.

Sebelum tidur Lalu Dia’ menyelipkan bunga eja di sela-sela batu. Dari arah lain muncul Lala Jinis bersama Oneng dan Dayang-Dayang.

Oneng : (Menikmati keindahan alam, tercengang) Lala, lihat bunga-bunga itu, sekarang sudah mekar. Kupu-kupu ! Kupu-kupu juga lala.
Dayang : Ya… Lala lihat…
Lala J : (senyum) Ambilkan untuk saya Oneng.
Oneng : Baik, Lala (Oneng mengambil bunga, tapi agak kesulitan)
Lala J : Bunga apa Oneng.
Oneng : Bunga Eja tuan Putri.
Lala J : Dayang bantu Oneng.
Dayang : Hamba tuan Putri (mendekat ke Oneng).
Oneng : (membawa bunga) ini lala, bunganya harum sekali.
Lala J : (mencium bunga) Oneng, rasanya saya mengenal bunga ini. (agak heran) bunga eja…bunga…
Oneng : Lala-lala, lala terusik mimpi lagi ya ?
Lala J : Mungkin Oneng. Akhir-akhir ini, dia sering datang dan memberikan bunga ini.
Oneng : Sudahlah, lala. Ran Pangantan kan Tampan, (kea rah dayang-dayang) bagaimana teman-taman.
Dayang : Ya. Tuan panglima muda kerajaan itu baik, Tuan Putri.
Lala J : (kurang suka) Ran Pangantan ! saya tidak senang dengannya. Ran Pangantan kasar dan…
Oneng : tampan…
Lala J : Oneng, jangan meledek bagitu, nanti saya cubit kamu.
Oneng : Tuan Putri Lala Jinis, cantik, ramata kolo kabemang, rebetis rebong katuntang. Mimpi tetaplah mimpi, yang terpenting adalah tai kayok adalah tetap bau. Haaaa…..
Lala J : Oneng !
Oneng : Ya Tuan Putri.
Lala J : Dayang-dayang juga, kesini semua.
Dayang : Baik Tuan Putri.
Lala J : Oneng dan dayang-dayang, mimpi itu, kadang menjadi bagian terindah dalam hidup seseorang. Orang miskin yang tak memiliki apa-apa, mereka tak akan merasa miskin karena mereka punya mimpi. Dari mimpi menjadi kenyataan, bukan kenyataan yang menjadi mimpi.
Oneng : Jadi, Lala benar-benar jatuh cinta pada mimpi ?
Lala J : Ya. Tapi mungkin juga tidak. Mimpiku terlalu sempurna. Oh, ya Oneng, akhir-akhir ini Oneng masaknya agak asin terus, kenapa ya ? sudah mau kawin ya…
Oneng : Ah, Lala bikin saya malu saja.
Dayang : Lala, Oneng sekarang suka melamum.
Oneng : (cemberut) Lala, baik saya pergi saja.
Lala J : Tunggu dulu, O…ya sudah. Oneng biarkan saya sendiri.

Oneng dan dayang-dayang duduk di atas batu. Lala Jinis mengambil bunga dan menciumnya. Pelan-pelan dia mengalunkan Ulan petang. Mendengar orang mengalunkan Ulan Petang, Puntuk bangun sekaligus heran karena dihadapannya telah duduk banyak gadis. Puntuk membangunkan Lalau Dia’. Mereka mendengarkan Ulan Petang.
Lalu Dia’ mendekati Lala Jinis diikuti oleh Puntuk.

Oneng : Siapa tuan ini ? hingga berani masuk pemandian dan tempat bermain Lala Jinis (Ketus)
Lala Jinis : (tanpa menoleh) kau telah datang rupanya. Aku telah menunggu lama. Oneng, biarkan ia kemari.
Oneng : Tapai Lala….
Lala Jinis : oneng… (Lala Jinis tetap membelakangi)
Oneng : Baik Lala, (ke Puntuk) tapi kau tidak boleh kesana. (Puntuk memperhatikan Lalu Dia’)
Lala Jinis : Kau ingin mengambil kembali bunga ini…?
Lalu Dia’ : Hamba bernama Lalu Dia’, sudilah Tuan Putri mengucapkan nama.
Lala Jinis : (dingin-tegas) saya Lala Jinis.

Lala Jinis berbalik. Mereka saling tatap. Lala Jinis bangun, keduanya melakukan gerakan memutar. Suara serunai tinggi. Lampu menyorot ke tengah, Puntuk melirik Oneng.

Lalu Dia’ : long lolo lian ke yandi
Jina tu saling sasaket
Rela yandi nanpo dadi
Lala Jinis : Lamin Pang aku kaka e
Tembok roa sikit roa
Meling kaka si aku turret
Lalu Dia’ : Kapida nompo po ate
Sangka yano ku santuret
Ya dadi kerong parana
Lala Jinis : Parana kaka si ai let
Aku dadi umak sisi
Tu saling asi ke tenrang

Kemudian terdengar suara dibelakang. Lala Jinis kaget dan melangkah meninggalkan Lalu Dia’. Lalu Dia’ heran.

Lala Jinis : Tuanku Lalu Dia’, pergilah (cemas) sebentar lagi Ran Pangantan akan datang.
Lalu Dia’ : Siapa Ran Pangantan ?
Lala Jinis : Sudah pergi saja, Oneng, suruh mereka pergi !
Lalu Dia’ : Tidak Lala,,…
Lala Jinis : (sedih) pergilah Lalu. (Lala Jinis mengambil tusuk konde) ini tusuk konde sebagai pengganti diriku dan pengganti bunga eja.
Lalu Dia’ : Tidak, saya tidak akan pergi.
Lala Jinis : Baiklah, kalau begitu biar saya yang pergi, Lalu Dia’ daatanglah nanti saat bulan purnama.Oneng dan dayang mari kita pergi (Puntuk menarik Oneng).
Oneng : Sebentar Lala (tangannya dipegang Puntuk) sudah saya mau pergi
Puntuk : (malu) tunggu dulu, namamu siapa ?
Lala Jinis : Oneng, cepat.
Oneng : ya…ya…ya… Lala, (Oneng pergi – sebelum keluar Oneng berteriak) nama saya Oneng..Neng.

Sekarang tinggal mereka berdua. Lalu Dia’ memperhatikan tusuk konde sedangkan Puntuk memperhatikan selendang yang diberikan leh Oneng.
Serunai tinggi diikuti oleh bunyi kul kul. Kemudian masuklah Ran Pangantan beserta pengawal dan prajurit.

Ran Pangantan muncul.

Ran P : Prajurit, tangkap kedua orang itu !

Dua orang prajurit itu lansung maju mau menangkap Lalu Dia’, tapi dihalangi oleh Puntuk.

Ran P : Kalau mereka melawan bunuh saja !

Prajurit memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang.

Lalu Dia’ : Maaf Tuanku, hamba mau bertanya, kenapa Tuanku mau menangkap kamim dan siapakah Tuan ini ?
Ran P : (melihat dan tertawa) jadi, kalian belum tahu aku Ran Pangantan, anak panglima negeri ini dan calon tunggal pengganti Datu Seran. Aku menangkap kalian, karena kalian telah berani masuk ketempat pemandian dan tempat bermain Tuan Putri Lala Jinis, Tahu…?
Puntuk : Kalau ayahnya panglima kerajaan, anaknya juga panglima, ah, ini namanya mereka telah bersekongkol tuan.
Lalu Dia’ : Puntuk, maaf kami orang baru, jadi tidak tahu jalan. Dan kami tidak tahu bahwa yang datang panglima Ran Pangantan.
Ran P : Kau mengerti juga rupanya.
Lalu Dia’ : Jika demikian, kami mohon diri.
Ran P : Tidak semudah itu orang asing. Prajurit, bawa mereka ke istana. Dan laporkan mereka sebagai pencuri.
Puntuk : Dasar telah bersekongkol. Kalau berani, maju !
Lalu Dia’ : (mencegah) puntuk jangan !
Puntuk : Maaf, Lalu. Ini menyangkut harga diri.
Ran P : Jadi kalian berani melawan kami, ha ?
Puntuk : kau juga maju !
Lalu Dia’ : Puntuk ! maafkan dia panglima muda !
Ran P : (mengeluarkan keris) kurang ajar !
Lalu Dia’ : Panglima muda, biarkan kami pergi. (kepada Puntuk) Puntuk ayo !
Ran P : Kejar !
Lalu Dia’ dan Puntuk ke luar panggung. Temung srama mengiringi kepergian Lalu Dia’ dan puntuk.

Adegan II

Lala Jinis tua sendirian. Lampu tunggal mengarah ke Lala Jinis. Lala Jinis menggunakan pakaian putih panjang.

Lala Jinis : Pada hari nanti
Aku tahu
Aku akan rindu pada tanah
Yang terlampau jauh ku kenal
Ku tak ingin ka nada
Yang memberiku air mata
Ku tak ingin nantinya
Daun-daun berguguran
Tersebab kisah
Yang pernah ku toreh merah
Pada rembulan
Kini masa itu datang
Bersama hati yang resah
Ingin kembali
Senja selalu datang dengan
Kesunyian yang menyayat
Jangan beri aku kepiluan
Sebab hati ini bergelora
Ingin menghirup angin sepoi
Di tanah bunda mendekapku
Jangan …..
Jangan …..
Jangan lagi ada ….

Terdengar Ulan Petang dengan sepoi-sepoi, diikuti oleh serunai. Setelah Ulan masuk penari ngumang ramai. Saat tari berlangsung muncul Ran Pangantan. Penari ke luar sambil membopong Ran Pangantan.

Adengan IV

Setelah tarian ngumang ramai, Lalu dia’ dan Puntuk masuk. Mereka sempat menyaksikan Ran Pangantan di bopong.

Puntuk : Kenapa ramai sekali Tuan ?
Lalu Dia’ : Tidak tahu, Ntuk.
Puntuk : Saya tahu sekarang Tuanku.
Lalu Dia’ : Tahu apa Puntuk
Puntuk : Ini upacara pernyambutan kita oleh Tuan Putri Lala Jinis.
Lalu Dia’ : (kurang yakin) tidak mungkin Ntuk.
Puntuk : Ya, Tuanku. Inikah bulan purnama, seperti yang di janjikan oleh Tuan Putri Lala Jinis.
Lalu Dia’ : Kenapa Ran Pangantan yang di bopong.

Musik masuk keras, muncul panari Rajang Basa’. Puntuk dan Lalu Dia’ ke luar panggung. Lalu Jinis muncul bersama dayang-dayang, Oneng tidak ikut. Lala Jinis ditemani Ran Pangantan. Lalu, Ran Pangantan dan Lala Jinis duduk bersama. Ran Pangantan kelihatan bahagia. Tetapi sebaliknya Lala Jinis agak sedikit kecewa.

Ran P : Dindaku Lala Jinis, kita akan menjadi pasangan yang sangat serasi jaman ini. Aku akan menjadi raja. Dan kau akan menjadi permaisuriku yang cantik jelita.
Lala Jinis : (diam tidak tahu apa yang harus dikatakan)
Ran P : (mendekati Lala Jinis, mencoba meraih tangannya. Kemudian menciumnya).
Lala Jinis : (diam, sambil membiarkan Ran Pangantan bergiru)
Ran P : Lalaku, aku sangat ketakutan ketika melihat kau bersama laiki-laki lain di tempat pemandian itu. Aku takut kau menghilang dari negeri ini. Aku takut kehilanganmu Lala, (dengan kasar secara refleks menarik rambut Lala Jinis) aku takut Lala (Lala Jinis menghindar. Ran Pangantan jadi berang) (berteriak) pengawal, abilkan aku jontal, sirih dan tuak !
Pengawal : Apa Tuan ?
Ran P : Ambilkan aku jontal, sirih, dan tuak ! dasar goblok.
Pengawal : Baik Tuanku.
Ran P : (licik-lembut) dindaku Lala Jinis, kita harus rayakan pertemuan kita dengan sedikit mencicipi arak agar badan kita sedikit terasa hangat. Apa pendapatmu.
Lala Jinis : Kau membuat hidupku seperti di neraka. Kenapa kau tidak berubah, kamu tahu, aku tidak bias hidup disamping orang kasar sepertimu.
Ran P : Tidak Lala, Suatu hari aku akan berubah.
Lala Jinis : Kau tidak akan pernah berubah, karena kau tak mau merubahnya. Mungkin saat kau berubah, aku telah menjadi tanah. Menghilang, atau akan pergi jauh dari negeri ini.
Ran P : (lembut) jangan begitu Lala. Bagaimana kanda dapat hidup tanpa dinda.
Lala Jinis : Berhentilah bermimpi, kau tidak akan hidup dengan siapapun. Jika kau tetap seperti ini.
Ran P : Tapi aku mencintaimu Lala
Lala Jinis : (sinis) kau mencintaiku. Tapi, kau lebih mencintai kekuasaan yang akan kau terima nanti.
Pengawal : (masuk membawa nampan yang berisi peasanan Ran P.) ini Tuanku.
Ran P : (tanpa menoleh) letakan di situ !
Pengawal : (mendekati Ran P) maat, tuanku, ini agak rahasia.
Ran P : (menarik ke depan atas) apa ?
Pengawal : mata-mata kita mengatakan bahwa ada Lalu Dia’ yang datang meramaikan pesta perkawinan Tuanku. Tampak mereka menuju ke mari.
Ran P : (terkejut) apa ?
Pengawal : (memperagakan cara membunuh) apakah kami harus..
Ran P : Tidak, biarkan mereka kemari, (tidak berbisik).
Pengawal : Baiklah, hamba mohon diri.
Ran P : Iya. (kea rah Lala Jinis) dindaku tercinta. Besok hari kebahagiaan kita. Kau dan aku akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Kau jadi permaisuriku dan aku akan menjadi raja.
Lala Jinis : (ketua) aku akan masuk neraka.

Muncul Lalu Dia’ dan Puntuk. Ran Pangantan melihatnya, namun Lala Jinis tidak.

Ran P : (mencium tangan Lala Jinis) kanda hamper tak tahan menunggu hari esok. Saat kau dan aku bersanding. Aku akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung. (sambil membelai rambut Lala Jinis).
Lalau Dia’ : (kea rah Puntuk) ini masalahnya Puntuk. Tuan Putri Lala Jinis. Kau mengundangku kesini hanya untuk melihat kau menjalankan perkawinanmu. (jengkel) ini bulan purnama yang sia-sia.
Ran P : Siapa mereka ini Lala ?
Lala Jinis : (kikuk) saya tidak tahu, kanda. Mereka mungkin orang asing yang tersesat.
Lalau Dia’ : Bukankah kau yang mengundang kami Lala.
Lala Jinis : Kanda usir kedua orang ini. Aku tidak mengenal mereka. (menyesal) oh…tidak. (berteriak) Oneng…
Ran P : Jadi, kalian datang tanpa diundang. Baiklah, saya akan kawin besok. Datanglah aku yang mengundang. Lala biarkan mereka datang.
Lala Jinis : Oneng…. Oneng…
Oneng : (dari dalam) ya Tuan Putri. (kaget melihat Lalu Dia’ dan Puntuk) ada apa Tuan Putri.
Lala Jinis : Ambilkan air sisa cucian piring. Siram mereka dan usir mereka dari sini.
Ran P : (tertawa) ha….. ha….. ha…..
Oneng : Tapi
Lalu Dia’ : Lala Jinis
Lala Jinis : pergi kalian, aku tidak ingin melihat kalian lagi (serak, mau menangis)
Lalu Dia’ : tidak, kami tidak akan pergi, karena Lala yang mengundang kami.
Ran pangantan terus tertawa
Lala Jinis : Oneng….
Oneng : Iya Lala, ini airnya.
Lala Jinis : Siram mereka
Oneng melangkah hendak menyiram, tapi ia masih ragu.
Lalu Dia’ : Baik Lala, kami akan pergi.
Balawas : Ka mu undang aku datang
Lawang mu ribat ke baret
Ya mu adal ke nyonde ta
(kepada Puntuk) Puntuk, mari kita pergi.
Puntuk : Baik Tuanku.

Lala Jinis memeluk Oneng sambil menangis. Ran Pangantan terus tertawa, kemudian ke luar panggung. Tinggal Lala Jinis dan Oneng berdua.

Terdengar lagu : Sopo hajat pang andi
Sapolak pang aku bae mo



Pentas Gelap…



Adegan V

Lala Jinis tua dan Lalu Dia’ tua duduk berdua.

Lalu Dia’ : Dinda istirahat saja. Lihat matamu cekung karena kekurangan tidur.
Lala Jinis : Kakanda, dinda tak dapat tidur. Bayangan tanah Seran begitu kuat menghantui dinda.
Lalu Dia’ : Lala, jika lala sangat rindu akan tanah Sera ada baiknya kita membuat rencana untuk kesana.
Lala Jinis : Tapi, dinda takut Kanda.
Lalu Dia’ : Takut pada apa ?
Lala Jinis : Takut pada apa yng telah dinda lakukan. Dinda lari meninggalkan semuanya. Tinggalkan ayahanda raja dan ibunda ratu. Yang paling sulit dinda lupakan dalam meniinggalkan rakyat. Seluruh rakyat tana Seran telah menaruh harapan besar pada dinda.
Tapi, apakah yang telah dinda lakukan, dan apakah dinda sanggup mengemban amanat sebesar itu ?
Entahlah, namun rakyatlah yang mengharapkan demikian. Mulanya, dinda merasa mantap untuk menerima semuanya. Tapi, keraguan datang saat ayahanda menerima pinangan Ran Pangantan. (geram-benci) Ran Pangantan.
Lalu Dia’ : Sudahlah, dinda….
Lala Jinis : Ran Pangantan telah merusak semuanya, sampai mimpipun dinda takut. Dinda benci dia, kanda ingin rasanya dinda merobek jantungnya. Ran Pangantan lah yang telah memusnahkan seluruh harapan rakyat tana seran. Juga harapan Dinda.
Saat ini, di satu sisi dinda dapat menikmati seluruh cinta kanda, namun di sisi lain darah dinda ada mengalir kuat darah seorang pemimpin tanah sran, yang setiap saat dapat muncul menyentak.
Lalu Dia’ : Dinda Lala Jinis menyesal ?
Lala Jinis : Tak ada yang perlu disesalkan. Dinda hanya merasa berdosa pada ayahanda raja dan bunda ratu saat dinda lari hanya ibunda ratu dan Oneng saja. Adinda ingat sekali wajah ibunda ratu menahan tangisnya agar tidak meledak. Matanya berkaca-kaca, tapi itu tak lama dapat dibendung. Air matanya mengalir tak henti-hentinya. Dinda di peluk, dicium, ciuman seorang ibu untuk anaknya kali terakhir, ah…. Ibunda ratu…
Ananda banyak berdosa Ibunda, pada ayahanda dan pada Tana Seran, maafkanlah ananda (fause) ibunda, kini kamu telah tiada, telah pergi untuk selamanya, sementara ananda di sini belum dapat kembali.
Ananda berharap, ibunda dan ayahanda raja tahu kenapa ananda meninggalkan tana seran. Ananda hanya ingin menyelamatkan tana seran dari kehancuran orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ananda tahu, perkawinan adalah menyatukan dua hati. Bukan untuk menyiksa diri sampai akhir hayat. Seandainya ananda kawin dengan Ran Pangantan, maka kerajaan ini akan hancur seperti hati dan hidup ananda.
Lalu Dia’ : Dinda, sudahlah. Besok masih ada harapan untuk kembali.
Lala Jinis : Kini, saat dinda kembali ke sana. Dinda hanya akan melihat kuburan ayhanda dan ibunda ratu di kuburan datu seran.

Terdengar suara orang Badia’. Diiringi oleh suara serunai yang mendayu syahdu.

Adegan V

Ran Pangantan tengah duduk dengan pengawalnya. Merayakan kemenangan dari perebutan hati dari Lalu Dia’.

Ran P : (berkhayal) menunggu hari esok, rasanya aku tak sabar lagi. Hari esok.. hari esok… ya hari esok hari saat aku menggenggam tanah ini. Tanah Seran ha…ha…ha…
Lala Jinis kau sangat cantik, bagai rembulan malam yang mengganggu semua mimpi. Aku laki-laki yang sangat beruntung. Kutunggu kau di sini. Kini akanku dapatkan harapanku, wanita cantik, kekuasaan, sekaligus hartanya. Semuanya kini berada dalam genggaman jemariku, ha…ha…ha… Lalu Dia’ harapanmu kini sirna, terbawa angin.
Prajurit : (ngos-ngosan) Tuanku Ran Pangantan… (berteriak) Tuanku Ran Pangantan.
Pengawal : Hai prajurit jangan berteriak. Kau mengganggu kesenangan Ran Pangantan.
Prajurit : Ini penting ! tuanku Ran Pangantan harus tahu !
Pengawal : Tidak boleh !
Ran P : Pengawal ! suruh prajurit itu masuk.
Pengawal : Baik Paduka
Ran P : Prajurit ada apa ?
Prajurit : Ampun Tuanku.
Ran P : Bukankah kau prajurit yang menjaga perbatasan ?
Prajurit : Hamba Tuanku
Ran P : Nah, sekarang laporkan apa yang kau ketahui
Prajurit : Ampun tuanku a…nu…a…nu…a…nu… Tuanku.
Pengawal : Tenang, biarkan dia mengambil napas. Ah prajurit, sekarang bicaralah. Kalau lama kau laporkan, aku tak segan-segan membunuhmu.
Prajurit : a…nu tuanku. Tuan Putri…
Ran P : Lala Jinis maksudmu ?
Pengawal : Ada apa dengan tuan Putri ?
Prajurit : Putri Lala Jinis minggat Tuanku.
Ran P : apa ? coba ulangi.
Prajurit : Putri Lala Jinis minggat menuju Tana Alas, Tuan.
Ran P : (kaget) Lala Jinis minggat ! (menendang) kenapa kalian tidak mencegahnya ?
Prajurit : Ampunkan hamba Tuanku
Ran P : Prajurit tolol, pengawal, siapkan pasukan..!
Pengawal : Baik paduka (keluar)

Irama srama mulai masuk

Ran P : Lala Jinis.. kau membuat aku marah. Dia’ mu akan kucincang. Kalian terlalu berani membuatku marah.
Pengawal : (masuk) pasukan siap tuanku
Ran P : Pengawal, kita cari Lala Jinis dan Dia’ ! sekarang juga kita serbu kerajaan Alas. Mereka terlalu berani mengambil resiko.
Pengawal : Seluruh prajurit siap menyerbu tuanku.
Ran P : Sekarang, berangkat.

Tabuhan peperangan mengiringi keberangkatan Ran Pangantan.
Lampu Padam
Serunai mengiringi pelan diikuti lampu menyala lemah, Lalu Dia’ dan puntuk tengah duduk melepas lelah. Mereka gelisah sambil mereka-reka apa yang akan terjadi.

Lalu Dia’ : (mendesah) kenapa ?
Puntuk : Kenapa apa Tuanku ?
Lalu Dia’ : Kenapa secepat itu dia berubah. Baru saja kami bertemu, tapi dia mengatakan bahwa dia tidak mengenalku. Dia yang menyuruhku datang saat bulan purnama. Dia juga yang mengusirku. Lala Jinis-Lala Jinis, aku sepertinya tidak percaya pada apa yang telah terjadi.
Puntuk : Sudahlah tuanku, jangan terlalu bersedih.
Lalu Dia’ : Tidak Puntuk. Pasti ada sesuatu yang terjadi (memperlihatkan sesuatu) lihat ini, tusuk konde ini telah menjadi bukti cinta kami. Dia telah memberikannya dengan sangat tulus. Lala Jinis, kenapa kau tidak menceritakan masalahmu padaku. Puntuk ! sekarang aku telah mendapatkan apa yang aku impi-impikan selama ini. Tapi dia akan lepas kembali. Apakah ini hanya permainan nasib saja, atau adal hal lain yang mungkin akan terjadi. (pause)
Aku benar-benar mecintainya, Puntuk.
Puntuk, kita harus kembali. Aku tidak mungkin pulang kalau tidak bersama Lala Jinis.
Kapida nompo po ate
Sangka ya no ku santuret
Ya dadi kerong parana
Puntuk, kita jemput Lala Jinis !
Puntuk : Apa ? kita harus kembali ke kerajaan Seran ?
Lalu Dia’ : Kau takut ?
Puntuk : Bukan begitu Tuan, tapi…
Lalu Dia’ : Tapi apa. Siapkan semuanya, kita berangkat.
Puntuk : Kita cari bantuan dulu ke Alas.
Lalu Dia’ : (tegas) tidak. Kita menginjak Tana Alas berarti harus membawa Lala Jinis.
Puntuk : Tuanku …..
Lalu Dia’ : Sudah, ayo berangkat. Apakah kau akan membiarkan Oneng sedih sendirian, menunggu dijemput oleh Puntuk ?
Puntuk : Baik paduka, ayo berangkat. Oneng tunggu aku (sambil mengeluarkan selendang pemberian Oneng)

Puntuk dan Lalu Dia’ akan keluar panggung. Tapi Lala Jinis dan Oneng masuk.

Lala Jinis : (kalem) kanda Lalu Dia’.
Oneng : Lala ….
Lalu Dia’ : (heran-menoleh) Lala..Lala Jinis.
Lala Jinis : Ya, ini aku kanda. Datang dan akan pergi bersamamu.
Puntuk : (Oneng bengong) dindaku Oneng, kau datang juga dinda.
Oneng : (berlari) ya, aku datang kanda Puntuk. (dekat) Kanda Puntuk, masih kau simpan selendangku ?
Puntuk : Masih dinda. Gadis ayu sepertimu, tidak akan pernah kutinggalkan.
Oneng : (malu) ah kanda bias saja. Oneng juga masih menyimpannya.
Puntuk : simpan apa ?
Oneng : ah Kanda, masak lupa
Puntuk : yo, Oneng. Kanda Puntuk kan tidak pernah memberikan kenangan apa-apa.
Oneng : ah kanda Puntuk buka kartu saja.
Puntuk : Maaf ya Oneng.
Oneng : Maaf-maaf, saya kan malu pada orang-orang itu.
Puntuk : sekali lagi maafkan kanda ya Oneng.
Oneng : Ya, tapi oneng tetap menyimpannya kanda.
Puntuk : Simpan apa ?
Oneng : Lihat senyumku (tersenyum) Oneng menyimpan senyummu di senyumku.
Lala Jinis : Oneng sudah. Kanda Lalu Dia’. Kita tidak boleh lama disini. Sebentar lagi pasukan kerajaan akan sampai ke sini.
Lalu Dia’ : Puntuk kau sudah siap ?
Puntuk : Siap tuanku.
Lalu Dia’ : Kalau begitu kita berangkat. Dan aku siap menghadapi segalanya.

Muncul Ran Pangantan bersama beberapa prajurit.

Ran P : Lalu Dia’ ! Ha…ha….ha… di sini kita bertemu. Disini pula akan kucincang dagingmu.
Lala Jinis : Ran Pangantan, kuperintahkan kau untuk kembali ke Tanah Seran.
Ran P : Tidak lala, perintahmu takkan pernah berlaku padaku.
Lala Jinis : Kau berani membantah Ran Pangantan.
Ran P : Ya. Pengawal ! tangkap kedua gadis itu.
Pengawal : Baik Tuan.
Puntuk : Kalian menyentuh Putri Lala Jinis, maka daging kalian akan ku robek. Ini, hadapi aku dulu.
Prajurit : ha….ha….ha….
Puntuk : Kalian semua maju (meloncat-dilarang Lalu Dia’)
Lalu Dia’ : Puntuk jangan. Ini urusanku dengan Ran Pangantan. Ran Pangantan, kenapa kita mesti mengorbankan para pembantu kita. Kenapa bukan kita saja yang bertempur.
Ran P : Ha…ha… kau menantangku Dia’.
Pengawal : Biar kami yang hadapi.
Ran P : Tidak pengawal. Ini urusanku. Pengawal orang macam ini mau menantangku.
Lala Jinis : Kanda Ran Pangantan, jangan. Biar saya saja yang mati. Ran Pangantan, bunuh saja saya.
Ran P : H…ha…ha….
Lalu Dia’ : Lala Jinis ! jika ini tidak diselesaikan sekarang maka akan menjadi duri dalam daging. Dan akan mengganggu perjalanan hidup kita. Maaf Lala silakan minggir.
Ran P : Lalu Dia’ keluarkan semua ilmu mu. Pengawal siapkan kuburan untuk orang ini.
Lalu Dia’: Maaf, Ran Pangantan.
Tutu si lenas mu gita
Mara ai dalam dulang
Rosa dadi umak ta
Lalu Dia’ pantang menolak tantangan

Irama Srama terus mengalir mengikuti mereka bertempur.

Label: