Senin, Agustus 17, 2009

LALA JINIS

Muhammad Ikraman

Cerita ini diangkat dari legenda rakyat Tana Samawa (Sumbawa). Certia ini beredar di masyarakat Sumbawa sejak dulu. Kali ini, kami mengangkatnya dalam bentuk pagelaran Teater yang akan dipadukan dengan musik, teri tradisional dan modern. Karena bentuknya legenda, sehingga kepastian terjadinya tidak ada yang tahu secara pasti.

Adegan I
Pentas-suasana malam, lampu remang-remang. Tempatnya menyiratkan sebuah rumah yang dilengkapi dengan kursi, kamar tidur. Diiringi oleh tabuhan alat musik biasa, mengalir dengan syahdu dan terdegar sayup. Lampu tunggal mengarah kea rah Lala Jinis dan Lalu Dia’.


Lalu Dia’ : Kakanda lihat (lembut), adinda sering, melamun belakangan ini, ada apa dinda ?
Lala Jinis : Ah kanda, jangan berperasangka yang bukan-bukan.
Lalu Dia’ : (rendah) bukan begitu, dinda, tapi siapa yang tega melihat isterinya murung begitu ?
Lala Jinis : Sebenarnya tidak ada masalah. Dinda hanya teringat masa lalu kita. Masa-masa yang sangat indah-pertama kali kita bertemu, kanda saya lihat sangat tampan. Matamu hitam menghujam tepat dijantungku. Aku terpaku, terasa matamu membelai pipiku. Masa yang penuh dengan bunga-bunga, kupu-kupu, kicauan burung-begitu indah. Itu awal dari pertemuan kita. Oneng dan Puntuk, mereka polos dan lucu (tersenyum).
Lalu Dia’ : Dinda ingin mengulanginya lagi ? atau bagaimana…?
Lala Jinis : Bukan begitu, Kanda ? (manja) Kanda jangan mengejek.
Lalu Dia’ : Tapi kenapa adinda begitu serius dan murung.
Lala Jinis : (serius) Kanda Lalu Dia, dinda ingat Ran Pangantan. Pertemuan kita ini meski banyak yang indah-indah, tapi juga penuh air mata dan darah. Dinda ingat Ran Pangantan, begitu bengis menatapku, saat tahu aku mencintaimu. Mungkin itu salah, tapi hati kecilku tak dapat aku bohongi. Kanda Lalu Dia adalah mimpi indah bagi dinda, sedangkan Ran Pangantan menjadi bayangan ketakutan dalam hidupku. Dia menjadi mimpi buruk adinda setiap saat. Pandangan matanya seolah merobek jantungku. (Merajuk) Dinda takut Kakanda.
Lalu Dia’ : Lala Dendaku, sudahlah. Semua sudah berlalu. Semua jangan dipikirkan lagi.
Lala Jinis : Tapi….
Lalu Dia’ : Kita telah bersatu. Dan Dinda tahu, Kakanda sangat bahagia. Juga anak-anak kita, semuanya cantik dan tampan, seperti kau dan aku. Sekarang, tidurlah-mimpikan kanda biar semuanya terasa indah.


Penyanyi melagukan lagu rindu pada kampong halaman, tentang orang tua, dan tempatnya bermain.


Adegan II
Musim Melambangkan Suasana Malam, tinggi (serunai). Dua orang masuk, yang satu tinggi (tampan). Yang satu pendek gemuk menggunakan pakaian orang biasa atau pengiring pangeran.
Lampu suasana senja.
LD : Puntuk kita berhenti dulu, sebab sebentar lagi kita akan memasuki ibu kota Kerjaan Seran.
Puntuk : Baik paduka yang muliah. Tapi, kenapa kita berhenti di sini Tuan. Lalu Dia akan belum mendapatkan gadis yang menjadi impian tuan. Gadis yang berkenan di hati, yang selalu datang dalam setiap mata terpejam. (menggoda) Gadis yang rambunya terurai, hidung mancung, alis bagai kerbau parapan.
LD : Puntuk…
Puntuk : Ha…ha… Tuan mencari gadis yang punya betis seperti Rebong Katuntang, bermata baja, berurat kawat. Haa…haa…. Memangnya “Kebo Pongong”.
LD : (Jengkel) Puntuk. Sudah, saya mau tidur.
Puntuk : (Mencegah) sebentar dulu Tuan. Kita tadi telah sampai di kerajaan apa, ya ? kalau tidak salah, kita telah sampai di Kerajaan Seran, ya…ya… Kerajaan Seran.
LD : Ya, Kerajaan Seran, kenapa ?
Puntuk : Kerajaan Seran ? E..e…e Tuanku lalu. Apakah kerajaan Seran jauh ya, dari Kerajaan Empang ? dan Kerajaan Brang Kolong jauh juga, ya ?
LD : Ya. Kenapa ? E..e..e. Kerajaan apa tadi ?
Puntuk : Kerajaan Brang Kolong. Jika saya tidak salah dengar. Di Kerajaan Brang Kolong banyak juga gadis yang cantik, Lalu.
LD : Kau Puntuk, ada-ada saja.
Puntuk : (melihat lalu Dia mau tidur) lalu jangan tidur dulu. Bagaimana jika kita pulang saja ke tanah Alas. Di Alaskan banyak gadis-gadis yang cantik.
LD : Puntuk ! Justru saya datang kesini, ke Tana Seran, sebab di sini khabarnya gadisnya cantik-cantik. Saya ingin memperbaiki keturunan kita di masa yang akan datang. Saya tidak mau keturunan kita itu mirip seperti kamu.
Puntuk : Khabar yang Tuanku dengan adalah khabar burung. Yang jelas gadis seran itu adalah lawasnya, bagini Tuanku.
Kumanang ling unter ungen
Kupanto dadara seran
Tutu genra konang gebak
LD : Puntuk ! jadi sekarang kau sudah berani menghina orang.
Puntuk : Habis, Tuanku lalu begitu, kita sudah berjalan dari desa satu ke desa yang lain, tapi belum ketemu juga. Habis yang dicari gadis berbetis rebong katuntang.
LD : (Berteriak) Puntuk !
Puntuk : (Kaget) Ya Tuan.
LD : (Legih Tinggi Lagi) Puntuk, jika puntuk tidak mau mengikuti saya lagi, pulang saja ke tana Alas. Dan bilang pada ayahanda, bahwa saya Lalu Dia’ tidak akan pulang sebelum mendapatkan gadis yang saya impi-impikan. (Mengusir) Ambil barang-barangmu dan pergi.
Puntuk : Eh.. Tuanku kok serius sekali.
LD : Saya bilang pergi
Puntuk : Tidak.
LD : Pergi.
Puntuk : Tidak.
LD : Pergi Puntuk.
Puntuk : (mengemasi barang-barangnya) baik, saya akan pergi.

Puntuk pergi meninggalkan Lalu Dia’. Tetapi selang beberapa waktu dia kembali lagi.

LD : Kenapa kembali ?
Puntuk : Kalalu saya de tanah Alas, nanti ayahanda tuanku akan menyuruh saya kembali dan mencari tuan, seandainya itu terjadi kan akan membuat saya capai tuan. Puntuk pulang-lalu Dia’ juga pulang, begitu katanya tuan.
LD : Kalau begitu, jangan mengganggu lagi. Biarkan saya istirahat.
Puntuk : (sambil melihat Lalu Dia’) Lalu-lalu, semoga lalu mendapatkan gadis yang baik-baik.

Sebelum tidur Lalu Dia’ menyelipkan bunga eja di sela-sela batu. Dari arah lain muncul Lala Jinis bersama Oneng dan Dayang-Dayang.

Oneng : (Menikmati keindahan alam, tercengang) Lala, lihat bunga-bunga itu, sekarang sudah mekar. Kupu-kupu ! Kupu-kupu juga lala.
Dayang : Ya… Lala lihat…
Lala J : (senyum) Ambilkan untuk saya Oneng.
Oneng : Baik, Lala (Oneng mengambil bunga, tapi agak kesulitan)
Lala J : Bunga apa Oneng.
Oneng : Bunga Eja tuan Putri.
Lala J : Dayang bantu Oneng.
Dayang : Hamba tuan Putri (mendekat ke Oneng).
Oneng : (membawa bunga) ini lala, bunganya harum sekali.
Lala J : (mencium bunga) Oneng, rasanya saya mengenal bunga ini. (agak heran) bunga eja…bunga…
Oneng : Lala-lala, lala terusik mimpi lagi ya ?
Lala J : Mungkin Oneng. Akhir-akhir ini, dia sering datang dan memberikan bunga ini.
Oneng : Sudahlah, lala. Ran Pangantan kan Tampan, (kea rah dayang-dayang) bagaimana teman-taman.
Dayang : Ya. Tuan panglima muda kerajaan itu baik, Tuan Putri.
Lala J : (kurang suka) Ran Pangantan ! saya tidak senang dengannya. Ran Pangantan kasar dan…
Oneng : tampan…
Lala J : Oneng, jangan meledek bagitu, nanti saya cubit kamu.
Oneng : Tuan Putri Lala Jinis, cantik, ramata kolo kabemang, rebetis rebong katuntang. Mimpi tetaplah mimpi, yang terpenting adalah tai kayok adalah tetap bau. Haaaa…..
Lala J : Oneng !
Oneng : Ya Tuan Putri.
Lala J : Dayang-dayang juga, kesini semua.
Dayang : Baik Tuan Putri.
Lala J : Oneng dan dayang-dayang, mimpi itu, kadang menjadi bagian terindah dalam hidup seseorang. Orang miskin yang tak memiliki apa-apa, mereka tak akan merasa miskin karena mereka punya mimpi. Dari mimpi menjadi kenyataan, bukan kenyataan yang menjadi mimpi.
Oneng : Jadi, Lala benar-benar jatuh cinta pada mimpi ?
Lala J : Ya. Tapi mungkin juga tidak. Mimpiku terlalu sempurna. Oh, ya Oneng, akhir-akhir ini Oneng masaknya agak asin terus, kenapa ya ? sudah mau kawin ya…
Oneng : Ah, Lala bikin saya malu saja.
Dayang : Lala, Oneng sekarang suka melamum.
Oneng : (cemberut) Lala, baik saya pergi saja.
Lala J : Tunggu dulu, O…ya sudah. Oneng biarkan saya sendiri.

Oneng dan dayang-dayang duduk di atas batu. Lala Jinis mengambil bunga dan menciumnya. Pelan-pelan dia mengalunkan Ulan petang. Mendengar orang mengalunkan Ulan Petang, Puntuk bangun sekaligus heran karena dihadapannya telah duduk banyak gadis. Puntuk membangunkan Lalau Dia’. Mereka mendengarkan Ulan Petang.
Lalu Dia’ mendekati Lala Jinis diikuti oleh Puntuk.

Oneng : Siapa tuan ini ? hingga berani masuk pemandian dan tempat bermain Lala Jinis (Ketus)
Lala Jinis : (tanpa menoleh) kau telah datang rupanya. Aku telah menunggu lama. Oneng, biarkan ia kemari.
Oneng : Tapai Lala….
Lala Jinis : oneng… (Lala Jinis tetap membelakangi)
Oneng : Baik Lala, (ke Puntuk) tapi kau tidak boleh kesana. (Puntuk memperhatikan Lalu Dia’)
Lala Jinis : Kau ingin mengambil kembali bunga ini…?
Lalu Dia’ : Hamba bernama Lalu Dia’, sudilah Tuan Putri mengucapkan nama.
Lala Jinis : (dingin-tegas) saya Lala Jinis.

Lala Jinis berbalik. Mereka saling tatap. Lala Jinis bangun, keduanya melakukan gerakan memutar. Suara serunai tinggi. Lampu menyorot ke tengah, Puntuk melirik Oneng.

Lalu Dia’ : long lolo lian ke yandi
Jina tu saling sasaket
Rela yandi nanpo dadi
Lala Jinis : Lamin Pang aku kaka e
Tembok roa sikit roa
Meling kaka si aku turret
Lalu Dia’ : Kapida nompo po ate
Sangka yano ku santuret
Ya dadi kerong parana
Lala Jinis : Parana kaka si ai let
Aku dadi umak sisi
Tu saling asi ke tenrang

Kemudian terdengar suara dibelakang. Lala Jinis kaget dan melangkah meninggalkan Lalu Dia’. Lalu Dia’ heran.

Lala Jinis : Tuanku Lalu Dia’, pergilah (cemas) sebentar lagi Ran Pangantan akan datang.
Lalu Dia’ : Siapa Ran Pangantan ?
Lala Jinis : Sudah pergi saja, Oneng, suruh mereka pergi !
Lalu Dia’ : Tidak Lala,,…
Lala Jinis : (sedih) pergilah Lalu. (Lala Jinis mengambil tusuk konde) ini tusuk konde sebagai pengganti diriku dan pengganti bunga eja.
Lalu Dia’ : Tidak, saya tidak akan pergi.
Lala Jinis : Baiklah, kalau begitu biar saya yang pergi, Lalu Dia’ daatanglah nanti saat bulan purnama.Oneng dan dayang mari kita pergi (Puntuk menarik Oneng).
Oneng : Sebentar Lala (tangannya dipegang Puntuk) sudah saya mau pergi
Puntuk : (malu) tunggu dulu, namamu siapa ?
Lala Jinis : Oneng, cepat.
Oneng : ya…ya…ya… Lala, (Oneng pergi – sebelum keluar Oneng berteriak) nama saya Oneng..Neng.

Sekarang tinggal mereka berdua. Lalu Dia’ memperhatikan tusuk konde sedangkan Puntuk memperhatikan selendang yang diberikan leh Oneng.
Serunai tinggi diikuti oleh bunyi kul kul. Kemudian masuklah Ran Pangantan beserta pengawal dan prajurit.

Ran Pangantan muncul.

Ran P : Prajurit, tangkap kedua orang itu !

Dua orang prajurit itu lansung maju mau menangkap Lalu Dia’, tapi dihalangi oleh Puntuk.

Ran P : Kalau mereka melawan bunuh saja !

Prajurit memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang.

Lalu Dia’ : Maaf Tuanku, hamba mau bertanya, kenapa Tuanku mau menangkap kamim dan siapakah Tuan ini ?
Ran P : (melihat dan tertawa) jadi, kalian belum tahu aku Ran Pangantan, anak panglima negeri ini dan calon tunggal pengganti Datu Seran. Aku menangkap kalian, karena kalian telah berani masuk ketempat pemandian dan tempat bermain Tuan Putri Lala Jinis, Tahu…?
Puntuk : Kalau ayahnya panglima kerajaan, anaknya juga panglima, ah, ini namanya mereka telah bersekongkol tuan.
Lalu Dia’ : Puntuk, maaf kami orang baru, jadi tidak tahu jalan. Dan kami tidak tahu bahwa yang datang panglima Ran Pangantan.
Ran P : Kau mengerti juga rupanya.
Lalu Dia’ : Jika demikian, kami mohon diri.
Ran P : Tidak semudah itu orang asing. Prajurit, bawa mereka ke istana. Dan laporkan mereka sebagai pencuri.
Puntuk : Dasar telah bersekongkol. Kalau berani, maju !
Lalu Dia’ : (mencegah) puntuk jangan !
Puntuk : Maaf, Lalu. Ini menyangkut harga diri.
Ran P : Jadi kalian berani melawan kami, ha ?
Puntuk : kau juga maju !
Lalu Dia’ : Puntuk ! maafkan dia panglima muda !
Ran P : (mengeluarkan keris) kurang ajar !
Lalu Dia’ : Panglima muda, biarkan kami pergi. (kepada Puntuk) Puntuk ayo !
Ran P : Kejar !
Lalu Dia’ dan Puntuk ke luar panggung. Temung srama mengiringi kepergian Lalu Dia’ dan puntuk.

Adegan II

Lala Jinis tua sendirian. Lampu tunggal mengarah ke Lala Jinis. Lala Jinis menggunakan pakaian putih panjang.

Lala Jinis : Pada hari nanti
Aku tahu
Aku akan rindu pada tanah
Yang terlampau jauh ku kenal
Ku tak ingin ka nada
Yang memberiku air mata
Ku tak ingin nantinya
Daun-daun berguguran
Tersebab kisah
Yang pernah ku toreh merah
Pada rembulan
Kini masa itu datang
Bersama hati yang resah
Ingin kembali
Senja selalu datang dengan
Kesunyian yang menyayat
Jangan beri aku kepiluan
Sebab hati ini bergelora
Ingin menghirup angin sepoi
Di tanah bunda mendekapku
Jangan …..
Jangan …..
Jangan lagi ada ….

Terdengar Ulan Petang dengan sepoi-sepoi, diikuti oleh serunai. Setelah Ulan masuk penari ngumang ramai. Saat tari berlangsung muncul Ran Pangantan. Penari ke luar sambil membopong Ran Pangantan.

Adengan IV

Setelah tarian ngumang ramai, Lalu dia’ dan Puntuk masuk. Mereka sempat menyaksikan Ran Pangantan di bopong.

Puntuk : Kenapa ramai sekali Tuan ?
Lalu Dia’ : Tidak tahu, Ntuk.
Puntuk : Saya tahu sekarang Tuanku.
Lalu Dia’ : Tahu apa Puntuk
Puntuk : Ini upacara pernyambutan kita oleh Tuan Putri Lala Jinis.
Lalu Dia’ : (kurang yakin) tidak mungkin Ntuk.
Puntuk : Ya, Tuanku. Inikah bulan purnama, seperti yang di janjikan oleh Tuan Putri Lala Jinis.
Lalu Dia’ : Kenapa Ran Pangantan yang di bopong.

Musik masuk keras, muncul panari Rajang Basa’. Puntuk dan Lalu Dia’ ke luar panggung. Lalu Jinis muncul bersama dayang-dayang, Oneng tidak ikut. Lala Jinis ditemani Ran Pangantan. Lalu, Ran Pangantan dan Lala Jinis duduk bersama. Ran Pangantan kelihatan bahagia. Tetapi sebaliknya Lala Jinis agak sedikit kecewa.

Ran P : Dindaku Lala Jinis, kita akan menjadi pasangan yang sangat serasi jaman ini. Aku akan menjadi raja. Dan kau akan menjadi permaisuriku yang cantik jelita.
Lala Jinis : (diam tidak tahu apa yang harus dikatakan)
Ran P : (mendekati Lala Jinis, mencoba meraih tangannya. Kemudian menciumnya).
Lala Jinis : (diam, sambil membiarkan Ran Pangantan bergiru)
Ran P : Lalaku, aku sangat ketakutan ketika melihat kau bersama laiki-laki lain di tempat pemandian itu. Aku takut kau menghilang dari negeri ini. Aku takut kehilanganmu Lala, (dengan kasar secara refleks menarik rambut Lala Jinis) aku takut Lala (Lala Jinis menghindar. Ran Pangantan jadi berang) (berteriak) pengawal, abilkan aku jontal, sirih dan tuak !
Pengawal : Apa Tuan ?
Ran P : Ambilkan aku jontal, sirih, dan tuak ! dasar goblok.
Pengawal : Baik Tuanku.
Ran P : (licik-lembut) dindaku Lala Jinis, kita harus rayakan pertemuan kita dengan sedikit mencicipi arak agar badan kita sedikit terasa hangat. Apa pendapatmu.
Lala Jinis : Kau membuat hidupku seperti di neraka. Kenapa kau tidak berubah, kamu tahu, aku tidak bias hidup disamping orang kasar sepertimu.
Ran P : Tidak Lala, Suatu hari aku akan berubah.
Lala Jinis : Kau tidak akan pernah berubah, karena kau tak mau merubahnya. Mungkin saat kau berubah, aku telah menjadi tanah. Menghilang, atau akan pergi jauh dari negeri ini.
Ran P : (lembut) jangan begitu Lala. Bagaimana kanda dapat hidup tanpa dinda.
Lala Jinis : Berhentilah bermimpi, kau tidak akan hidup dengan siapapun. Jika kau tetap seperti ini.
Ran P : Tapi aku mencintaimu Lala
Lala Jinis : (sinis) kau mencintaiku. Tapi, kau lebih mencintai kekuasaan yang akan kau terima nanti.
Pengawal : (masuk membawa nampan yang berisi peasanan Ran P.) ini Tuanku.
Ran P : (tanpa menoleh) letakan di situ !
Pengawal : (mendekati Ran P) maat, tuanku, ini agak rahasia.
Ran P : (menarik ke depan atas) apa ?
Pengawal : mata-mata kita mengatakan bahwa ada Lalu Dia’ yang datang meramaikan pesta perkawinan Tuanku. Tampak mereka menuju ke mari.
Ran P : (terkejut) apa ?
Pengawal : (memperagakan cara membunuh) apakah kami harus..
Ran P : Tidak, biarkan mereka kemari, (tidak berbisik).
Pengawal : Baiklah, hamba mohon diri.
Ran P : Iya. (kea rah Lala Jinis) dindaku tercinta. Besok hari kebahagiaan kita. Kau dan aku akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Kau jadi permaisuriku dan aku akan menjadi raja.
Lala Jinis : (ketua) aku akan masuk neraka.

Muncul Lalu Dia’ dan Puntuk. Ran Pangantan melihatnya, namun Lala Jinis tidak.

Ran P : (mencium tangan Lala Jinis) kanda hamper tak tahan menunggu hari esok. Saat kau dan aku bersanding. Aku akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung. (sambil membelai rambut Lala Jinis).
Lalau Dia’ : (kea rah Puntuk) ini masalahnya Puntuk. Tuan Putri Lala Jinis. Kau mengundangku kesini hanya untuk melihat kau menjalankan perkawinanmu. (jengkel) ini bulan purnama yang sia-sia.
Ran P : Siapa mereka ini Lala ?
Lala Jinis : (kikuk) saya tidak tahu, kanda. Mereka mungkin orang asing yang tersesat.
Lalau Dia’ : Bukankah kau yang mengundang kami Lala.
Lala Jinis : Kanda usir kedua orang ini. Aku tidak mengenal mereka. (menyesal) oh…tidak. (berteriak) Oneng…
Ran P : Jadi, kalian datang tanpa diundang. Baiklah, saya akan kawin besok. Datanglah aku yang mengundang. Lala biarkan mereka datang.
Lala Jinis : Oneng…. Oneng…
Oneng : (dari dalam) ya Tuan Putri. (kaget melihat Lalu Dia’ dan Puntuk) ada apa Tuan Putri.
Lala Jinis : Ambilkan air sisa cucian piring. Siram mereka dan usir mereka dari sini.
Ran P : (tertawa) ha….. ha….. ha…..
Oneng : Tapi
Lalu Dia’ : Lala Jinis
Lala Jinis : pergi kalian, aku tidak ingin melihat kalian lagi (serak, mau menangis)
Lalu Dia’ : tidak, kami tidak akan pergi, karena Lala yang mengundang kami.
Ran pangantan terus tertawa
Lala Jinis : Oneng….
Oneng : Iya Lala, ini airnya.
Lala Jinis : Siram mereka
Oneng melangkah hendak menyiram, tapi ia masih ragu.
Lalu Dia’ : Baik Lala, kami akan pergi.
Balawas : Ka mu undang aku datang
Lawang mu ribat ke baret
Ya mu adal ke nyonde ta
(kepada Puntuk) Puntuk, mari kita pergi.
Puntuk : Baik Tuanku.

Lala Jinis memeluk Oneng sambil menangis. Ran Pangantan terus tertawa, kemudian ke luar panggung. Tinggal Lala Jinis dan Oneng berdua.

Terdengar lagu : Sopo hajat pang andi
Sapolak pang aku bae mo



Pentas Gelap…



Adegan V

Lala Jinis tua dan Lalu Dia’ tua duduk berdua.

Lalu Dia’ : Dinda istirahat saja. Lihat matamu cekung karena kekurangan tidur.
Lala Jinis : Kakanda, dinda tak dapat tidur. Bayangan tanah Seran begitu kuat menghantui dinda.
Lalu Dia’ : Lala, jika lala sangat rindu akan tanah Sera ada baiknya kita membuat rencana untuk kesana.
Lala Jinis : Tapi, dinda takut Kanda.
Lalu Dia’ : Takut pada apa ?
Lala Jinis : Takut pada apa yng telah dinda lakukan. Dinda lari meninggalkan semuanya. Tinggalkan ayahanda raja dan ibunda ratu. Yang paling sulit dinda lupakan dalam meniinggalkan rakyat. Seluruh rakyat tana Seran telah menaruh harapan besar pada dinda.
Tapi, apakah yang telah dinda lakukan, dan apakah dinda sanggup mengemban amanat sebesar itu ?
Entahlah, namun rakyatlah yang mengharapkan demikian. Mulanya, dinda merasa mantap untuk menerima semuanya. Tapi, keraguan datang saat ayahanda menerima pinangan Ran Pangantan. (geram-benci) Ran Pangantan.
Lalu Dia’ : Sudahlah, dinda….
Lala Jinis : Ran Pangantan telah merusak semuanya, sampai mimpipun dinda takut. Dinda benci dia, kanda ingin rasanya dinda merobek jantungnya. Ran Pangantan lah yang telah memusnahkan seluruh harapan rakyat tana seran. Juga harapan Dinda.
Saat ini, di satu sisi dinda dapat menikmati seluruh cinta kanda, namun di sisi lain darah dinda ada mengalir kuat darah seorang pemimpin tanah sran, yang setiap saat dapat muncul menyentak.
Lalu Dia’ : Dinda Lala Jinis menyesal ?
Lala Jinis : Tak ada yang perlu disesalkan. Dinda hanya merasa berdosa pada ayahanda raja dan bunda ratu saat dinda lari hanya ibunda ratu dan Oneng saja. Adinda ingat sekali wajah ibunda ratu menahan tangisnya agar tidak meledak. Matanya berkaca-kaca, tapi itu tak lama dapat dibendung. Air matanya mengalir tak henti-hentinya. Dinda di peluk, dicium, ciuman seorang ibu untuk anaknya kali terakhir, ah…. Ibunda ratu…
Ananda banyak berdosa Ibunda, pada ayahanda dan pada Tana Seran, maafkanlah ananda (fause) ibunda, kini kamu telah tiada, telah pergi untuk selamanya, sementara ananda di sini belum dapat kembali.
Ananda berharap, ibunda dan ayahanda raja tahu kenapa ananda meninggalkan tana seran. Ananda hanya ingin menyelamatkan tana seran dari kehancuran orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ananda tahu, perkawinan adalah menyatukan dua hati. Bukan untuk menyiksa diri sampai akhir hayat. Seandainya ananda kawin dengan Ran Pangantan, maka kerajaan ini akan hancur seperti hati dan hidup ananda.
Lalu Dia’ : Dinda, sudahlah. Besok masih ada harapan untuk kembali.
Lala Jinis : Kini, saat dinda kembali ke sana. Dinda hanya akan melihat kuburan ayhanda dan ibunda ratu di kuburan datu seran.

Terdengar suara orang Badia’. Diiringi oleh suara serunai yang mendayu syahdu.

Adegan V

Ran Pangantan tengah duduk dengan pengawalnya. Merayakan kemenangan dari perebutan hati dari Lalu Dia’.

Ran P : (berkhayal) menunggu hari esok, rasanya aku tak sabar lagi. Hari esok.. hari esok… ya hari esok hari saat aku menggenggam tanah ini. Tanah Seran ha…ha…ha…
Lala Jinis kau sangat cantik, bagai rembulan malam yang mengganggu semua mimpi. Aku laki-laki yang sangat beruntung. Kutunggu kau di sini. Kini akanku dapatkan harapanku, wanita cantik, kekuasaan, sekaligus hartanya. Semuanya kini berada dalam genggaman jemariku, ha…ha…ha… Lalu Dia’ harapanmu kini sirna, terbawa angin.
Prajurit : (ngos-ngosan) Tuanku Ran Pangantan… (berteriak) Tuanku Ran Pangantan.
Pengawal : Hai prajurit jangan berteriak. Kau mengganggu kesenangan Ran Pangantan.
Prajurit : Ini penting ! tuanku Ran Pangantan harus tahu !
Pengawal : Tidak boleh !
Ran P : Pengawal ! suruh prajurit itu masuk.
Pengawal : Baik Paduka
Ran P : Prajurit ada apa ?
Prajurit : Ampun Tuanku.
Ran P : Bukankah kau prajurit yang menjaga perbatasan ?
Prajurit : Hamba Tuanku
Ran P : Nah, sekarang laporkan apa yang kau ketahui
Prajurit : Ampun tuanku a…nu…a…nu…a…nu… Tuanku.
Pengawal : Tenang, biarkan dia mengambil napas. Ah prajurit, sekarang bicaralah. Kalau lama kau laporkan, aku tak segan-segan membunuhmu.
Prajurit : a…nu tuanku. Tuan Putri…
Ran P : Lala Jinis maksudmu ?
Pengawal : Ada apa dengan tuan Putri ?
Prajurit : Putri Lala Jinis minggat Tuanku.
Ran P : apa ? coba ulangi.
Prajurit : Putri Lala Jinis minggat menuju Tana Alas, Tuan.
Ran P : (kaget) Lala Jinis minggat ! (menendang) kenapa kalian tidak mencegahnya ?
Prajurit : Ampunkan hamba Tuanku
Ran P : Prajurit tolol, pengawal, siapkan pasukan..!
Pengawal : Baik paduka (keluar)

Irama srama mulai masuk

Ran P : Lala Jinis.. kau membuat aku marah. Dia’ mu akan kucincang. Kalian terlalu berani membuatku marah.
Pengawal : (masuk) pasukan siap tuanku
Ran P : Pengawal, kita cari Lala Jinis dan Dia’ ! sekarang juga kita serbu kerajaan Alas. Mereka terlalu berani mengambil resiko.
Pengawal : Seluruh prajurit siap menyerbu tuanku.
Ran P : Sekarang, berangkat.

Tabuhan peperangan mengiringi keberangkatan Ran Pangantan.
Lampu Padam
Serunai mengiringi pelan diikuti lampu menyala lemah, Lalu Dia’ dan puntuk tengah duduk melepas lelah. Mereka gelisah sambil mereka-reka apa yang akan terjadi.

Lalu Dia’ : (mendesah) kenapa ?
Puntuk : Kenapa apa Tuanku ?
Lalu Dia’ : Kenapa secepat itu dia berubah. Baru saja kami bertemu, tapi dia mengatakan bahwa dia tidak mengenalku. Dia yang menyuruhku datang saat bulan purnama. Dia juga yang mengusirku. Lala Jinis-Lala Jinis, aku sepertinya tidak percaya pada apa yang telah terjadi.
Puntuk : Sudahlah tuanku, jangan terlalu bersedih.
Lalu Dia’ : Tidak Puntuk. Pasti ada sesuatu yang terjadi (memperlihatkan sesuatu) lihat ini, tusuk konde ini telah menjadi bukti cinta kami. Dia telah memberikannya dengan sangat tulus. Lala Jinis, kenapa kau tidak menceritakan masalahmu padaku. Puntuk ! sekarang aku telah mendapatkan apa yang aku impi-impikan selama ini. Tapi dia akan lepas kembali. Apakah ini hanya permainan nasib saja, atau adal hal lain yang mungkin akan terjadi. (pause)
Aku benar-benar mecintainya, Puntuk.
Puntuk, kita harus kembali. Aku tidak mungkin pulang kalau tidak bersama Lala Jinis.
Kapida nompo po ate
Sangka ya no ku santuret
Ya dadi kerong parana
Puntuk, kita jemput Lala Jinis !
Puntuk : Apa ? kita harus kembali ke kerajaan Seran ?
Lalu Dia’ : Kau takut ?
Puntuk : Bukan begitu Tuan, tapi…
Lalu Dia’ : Tapi apa. Siapkan semuanya, kita berangkat.
Puntuk : Kita cari bantuan dulu ke Alas.
Lalu Dia’ : (tegas) tidak. Kita menginjak Tana Alas berarti harus membawa Lala Jinis.
Puntuk : Tuanku …..
Lalu Dia’ : Sudah, ayo berangkat. Apakah kau akan membiarkan Oneng sedih sendirian, menunggu dijemput oleh Puntuk ?
Puntuk : Baik paduka, ayo berangkat. Oneng tunggu aku (sambil mengeluarkan selendang pemberian Oneng)

Puntuk dan Lalu Dia’ akan keluar panggung. Tapi Lala Jinis dan Oneng masuk.

Lala Jinis : (kalem) kanda Lalu Dia’.
Oneng : Lala ….
Lalu Dia’ : (heran-menoleh) Lala..Lala Jinis.
Lala Jinis : Ya, ini aku kanda. Datang dan akan pergi bersamamu.
Puntuk : (Oneng bengong) dindaku Oneng, kau datang juga dinda.
Oneng : (berlari) ya, aku datang kanda Puntuk. (dekat) Kanda Puntuk, masih kau simpan selendangku ?
Puntuk : Masih dinda. Gadis ayu sepertimu, tidak akan pernah kutinggalkan.
Oneng : (malu) ah kanda bias saja. Oneng juga masih menyimpannya.
Puntuk : simpan apa ?
Oneng : ah Kanda, masak lupa
Puntuk : yo, Oneng. Kanda Puntuk kan tidak pernah memberikan kenangan apa-apa.
Oneng : ah kanda Puntuk buka kartu saja.
Puntuk : Maaf ya Oneng.
Oneng : Maaf-maaf, saya kan malu pada orang-orang itu.
Puntuk : sekali lagi maafkan kanda ya Oneng.
Oneng : Ya, tapi oneng tetap menyimpannya kanda.
Puntuk : Simpan apa ?
Oneng : Lihat senyumku (tersenyum) Oneng menyimpan senyummu di senyumku.
Lala Jinis : Oneng sudah. Kanda Lalu Dia’. Kita tidak boleh lama disini. Sebentar lagi pasukan kerajaan akan sampai ke sini.
Lalu Dia’ : Puntuk kau sudah siap ?
Puntuk : Siap tuanku.
Lalu Dia’ : Kalau begitu kita berangkat. Dan aku siap menghadapi segalanya.

Muncul Ran Pangantan bersama beberapa prajurit.

Ran P : Lalu Dia’ ! Ha…ha….ha… di sini kita bertemu. Disini pula akan kucincang dagingmu.
Lala Jinis : Ran Pangantan, kuperintahkan kau untuk kembali ke Tanah Seran.
Ran P : Tidak lala, perintahmu takkan pernah berlaku padaku.
Lala Jinis : Kau berani membantah Ran Pangantan.
Ran P : Ya. Pengawal ! tangkap kedua gadis itu.
Pengawal : Baik Tuan.
Puntuk : Kalian menyentuh Putri Lala Jinis, maka daging kalian akan ku robek. Ini, hadapi aku dulu.
Prajurit : ha….ha….ha….
Puntuk : Kalian semua maju (meloncat-dilarang Lalu Dia’)
Lalu Dia’ : Puntuk jangan. Ini urusanku dengan Ran Pangantan. Ran Pangantan, kenapa kita mesti mengorbankan para pembantu kita. Kenapa bukan kita saja yang bertempur.
Ran P : Ha…ha… kau menantangku Dia’.
Pengawal : Biar kami yang hadapi.
Ran P : Tidak pengawal. Ini urusanku. Pengawal orang macam ini mau menantangku.
Lala Jinis : Kanda Ran Pangantan, jangan. Biar saya saja yang mati. Ran Pangantan, bunuh saja saya.
Ran P : H…ha…ha….
Lalu Dia’ : Lala Jinis ! jika ini tidak diselesaikan sekarang maka akan menjadi duri dalam daging. Dan akan mengganggu perjalanan hidup kita. Maaf Lala silakan minggir.
Ran P : Lalu Dia’ keluarkan semua ilmu mu. Pengawal siapkan kuburan untuk orang ini.
Lalu Dia’: Maaf, Ran Pangantan.
Tutu si lenas mu gita
Mara ai dalam dulang
Rosa dadi umak ta
Lalu Dia’ pantang menolak tantangan

Irama Srama terus mengalir mengikuti mereka bertempur.

Tidak ada komentar: