Minggu, Februari 12, 2012

Kepong-Kepong

KEPONG

Seorang ibu yang sedang hamil besar. Ibu ini sudah melahirkan beberapa kali, badannya kurus, kurang banyak bergerak. Tidak berperilaku hidup bersih dan sehat. Anaknya sudah enam orang. Begitu pula halnya dengan suaminya. Suaminya perokok berat. Tinggal di sebuah rumah yang sangat kecil untuk ukuran keluarga besar itu. Beberapa orang ibu juga berada di sekitar situ.
Kěpong : (melihat dan memandang anak-anaknya main)
Amek : Sukur mereka masih bisa bergembira ya, Bu!
Kěpong : Iya, pak. Cuma ribut sekali. Mana rumah kita kecil begini!
Amek : Biarkan mereka melakukan aktivitas fisik setiap hari, agar mereka bisa tetap sehat ya, Bu!
Kěpong : Iya, Pak! Cuma bapak juga bawa polusi setiap saat.
Amek : Lho kok bapak bawa polusi sih, Bu!
Kěpong : Tuh, bapak merokok saja dalam rumah, sudah tahu ruangan rumah kita kecil begini, mana penghuninya banyak lagi. Asap terus saja mengepul! Seandainya, asap dapur terus mengepul begini sih, Ibu senang!
Amek : Ibu, yang sabar ya!
Masuk Jena dan Loleng.
Jéna : (pada Loleng) Enak ya punya suami kerja di perusahaan!
Loleng : Ya jelas dong, lihat (perlihatkan emas di jari, tangan, lehernya) semua ini oleh-oleh dari Jakarta.
Jéna : (kagum) Wah, luar biasa. Pasti harganya mahal!
Loleng : Jelas dong, siapa dulu. (sombong) Kamu kan tahu, aku tidak suka barang-barang murahan. Kalau masih sekitar sepuluh dua puluh J... malas pakenya.
Jéna : Ck... ck... luar biasa. Kalau saya, tidak tahu sampai kapan bisa beli yang seperti punya ibu! Maklum, pegawai honor.
Loleng : (Tidak percaya) Pegawai honor, jilbab saja harganya ratusan, belum lagi tasnya, jutaan!
Jéna : Sst... tidak usah keras-keras. Tidak enak didengar istri bos!
Kěpong dan Amek
Kěpong : Dengar, Pak. Dengar ibu-ibu itu. (merajuk) Mereka gampang sekali beli barang. Saya kapan bisa beli seperti mereka, Pak.
Amek : Suatu saat pasti akan bapak belikan untuk ibu!
Kěpong : Cuma sampai kapan, Pak!
Amek : Sampai bapak punya pekerjaan yang layak, Bu!
Kěpong : Pergilah kerja, Pak. Cari kerja kemana-mana gitu.
Amek : Saya sudah berusaha mencari kerja kemana-mana, Bu! Cuma sampai sekarang bapak belum dapat pekerjaan itu.
Kěpong : Bagaimana bapak akan dapat pekerjaan kalau diam di rumah terus! Mana anak kita sudah Enam, tambah lagi dengan yang satu ini (memegang perutnya yang hamil).
Amek : Bapak sudah berusaha mencari pekerjaan kemana-mana, Bu! Cuma memang belum nasib saja!
Kěpong : Jangan semua dikembalikan ke nasib saja pak, berusah dong pak!
Amek : Iya bu, bapak akan selalu berusaha terus untuk dapat bekerja.
Kěpong : Tapi kok tiap hari bapak di rumah terus sambil merokok. Tidak pernah Ibu lihat bapak pergi bekerja.
Amek : Ibu kan juga tidak bekerja, bapak lihat!
Kěpong : Bagaimana ibu mau bekerja, bukankan Bapak lihat ibu sekarang sedang hamil besar (sambil memegang perutnya).
Selma : Pak, Bu, Selma sakit perut!
Amek : (menyuruh Selma buang air di situ) Di situ saja kamu buang airnya!
Selma : Di sini ya pak!
Amek : Iya, di situ saja.
Kepong : Jangan di situ di belakang saja!
Selma : Kebelet Bu!
Amek : Di situ sudah!
Selma buang air besar di dekat situ.
Kepong : Bapak ini bagaimana sih, masak anak disuruh buang air di depan rumah!
Amek : Mau disuruh dimana, Bu! Kita kan tidak punya jamban!
Kepong : Di antar ke sungai, kek. Ke kebun kek. Kemana saja gitu!
Bidan : (dari luar) Assalamualaikum.
Amek Kepong : Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Silamo!
Bidan : (Masuk pentas) Apa rungan Siya, Indo’ Kepong?
Kepong : Beginilah bu Bidan.
Bidan : (pada Amek) Anak bapak ya, yang buang air besar di luar. Kok tidak diajak ke jamban sih, Pak! Nanti dapat mendatangkan penyakit lho, Pak. (jalan ke arah Indo Kepong—memeriksa) Ibu sudah ke posyandu atau puskesmas?
Kepong : Tidak punya uang bu bidan.
Bidan : Kan tidak bayar bu!
Kepong : Memang tidak bayar bu, Cuma tidak ada uang untuk bayar ojek!
Bidan : (memeriksa) Oh. Apa ibu makan sayur dan buah tiap hari?
Kepong : Ih, ibu bidan. Jangankan makan sayur dan buah tiap hari. Untuk makan nasi saja, saya minjam kesana kemari.
Bidan : (memeriksa) Tinggal beberapa hari lagi ibu akan melahirkan. Nanti, kalau habis melahirkan, langsung ibu kasih asi eksklusif ya. Dan jangan lupa, bawa ke puskesmas ya bu atau panggil saya. Ini nomor HP saya!
Kepong : (mengangguk) Insya Allah, bu Bidan!
Bidan : Yang benar ya bu?
Kepong : Insya Allah!
Bidan : Jangan lupa ibu banyak beraktivitas atau jalan-jalan saja di sekitar rumah.
Kepong : Saya kan sedang hamil besar, Bu?
Bidan : Karena itu, Ibu harus banyak beraktivitas, agar proses melahirkannya bisa lancar! (pada Amek) Bapak jangan merokok dalam rumah karena dapat mengganggu kesehatan Bapak, Ibu, dan anak-anak Bapak! Apa Bapak mau keluarga bapak sakit gara-gara asap yang timbul dari rokok!
Amek : Iya bu, Bidan!
Bidan : Tapi kok rokoknya tidak dimatikan! Apa Bapak mau kalau rokok yang berbuat sebaliknya!
Kepong : Benar bu bidan! Suami saya susah sekali dikasih tahu!
Amek : Aina, Ngikut saja!
Kepong : Ba iyati!
Amek : Mencek Sabai-sabai!
Bidan : Sudahlah, tidak usah bertengkar! Ingat lho, Pak! Hidup Bersih dan Sehat itu lebih Murah!
Amek : Baik, bu bidan!
Bidan : (selesai memeriksa Kepong kemudian pamit) Saya pamit bu, Assalamualaikum wr wb.
Amek : Waalaikum salam wr wb. (mengantar kepergian bidan dengan takjub) Cantiknya! Sudah pintar cantik lagi! Andaikan dia ... andaikan saja .... Ck ck ck.... aku suka gayanya!
Kepong : Apa siya talengan niso. (memerintah) Lalo biso Selma sen dunu!
Amek : Kamu saja deh Kepong, Kan tadi bidan bilang bahwa kamu harus banyak bergerak, salah satunya ya itu tuh!
Kepong : Enak saja, bapak saja yang pergi!
Amek : (menghindar) Kamu saja... Kamu harus banyak bergerak sayang agar kamu sehat saat melahirkan nanti!
Kepong : Pas lagi yang gak enak, saya yang kerjakan. Tapi pas lagi yang enak-enak, Bapak maksa-maksa.
Amek : Bukan begitu sayangku. Bapak rasa apa yang dikatakan bidan itu benar, maka itulah sebabnya Bapak minta, ibu yang urus Selma!
Kepong : (menggerutu) Alasan! (Kepong, dan anak-anaknya pergi ke luar pentas)
Amek : (memandang kepergian Kepong dan anak-anaknya) Sungguh cantik bidan itu. Aku terpesona oleh kecantikan dan tutur katanya. Andaikan dia... andaikan saja... aku.
Amek masih membayangkan bu bidan yang cantik itu.
Jena : Coba mereka punya jamban sehat. Indo’ Kepong kan gak perlu antar anaknya jauh ke sungai. Mana sekarang musim hujan lagi. Pasti sungainya licin.
Loleng : Iya Bu, Jena. Coba mereka punya jamban sehat atau tempat MCK.
Jena : Sudahlah, Bu Loleng. (pause--menunjuk pada Amek) Coba lihat suaminya, Bu! Sudah tahu istrinya hamil besar, masak disuruh antar anaknya ke sungai. Dasar laki-laki tidak tahu diri. Maunya menang sendiri.
Loleng : Benar, Bu! Suamiku juga begitu. Masak mau ikut kegiatan PKK seperti ini, dilarang-larang. Padahal, manfaatnya juga besar untuk keluarga, (pada penonton) bukan begitu ibu-ibu.
Jena : Kok sama ya, bu. Suamiku juga begitu! E.. kok kita jadi bicarakan orang sih, Bu! Padahal, kita tahu itu ghibah, dan ghibah itu dosa.
Tiba-tiba terdengar suara anaknya teriak dan memanggil dengan keras dari luar pentas.
Evan : (masuk pentas sambil menangis) Bapak... bapak, ibu jatuh pak. Ibu jatuh... ibu berdarah Pak... ibu berdarah pak!
Amek : (kaget dan terperanjat) Di mana ibumu jatuh, Evan!
Evan : Di sungai, Pak! Tadi ibu terpeleset hingga jatuh ke dalam sungai.
Amek : Tolong, Bu. Tolong istri saya, Bu!
Beberapa orang datang menggotong Kepong ke dalam pentas. Kepong digotong dalam kondisi lemas. Dia berdarah.
Jena : Bu bidan... bu bidan, tolong Indo Kepong, Bu Bidan!
Bidan : (masuk) Ada apa, Bu Jena!
Jena : Indo Kepong, Bu Bidan. Dia terjatuh di sungai tadi!
Bidan : (memeriksa) Maaf Pak Amek. Nyawa Indo Kepong tidak tertolong!
Anak-anak Kepong dan Amek ’Bito’ setelah mendengar berita kematian Kepong. Amek pun histeris.
Amek : (histeris) Kepong, maafkan aku. Aku telah menyengsarakanmu. Aku telah berniat khianat padamu, Kepong. Aku telah... (Batalolong) Kepong... Kepong... kepong...
Anak-Anak : (menangis-mengerubungi ibunya) Bapak... Ibu kenapa, pak! Ibu kenapa, pak!
Salah seorang anaknya terisak sambil melantunkan Lawas Ulan.
Do Nanta Kami Pe Ina’
Sibilen Kami Salingong
Saipo Tau Yapendi

Melasakan Ne Peno Ta
Adasi Lako’ Pina Ne
Me Luk Kami Pang Erana

Tamat

Skenario/Sutradara: Fathi Yusuf

Tidak ada komentar: