Selasa, Agustus 18, 2009

SUMBAWA BARAT DALAM PENCARIAN IDENTITAS BUDAYA

Oleh: Fathi Yusuf

Sumbawa Barat merupakan sebuah kabupaten baru di Nusa Tenggara Barat. Kehadiran Sumbawa Barat di percaturan politik Indonesia baru sekitar empat tahun. Sumbawa Barat yang selama ini menjadi underbow Kabupaten Sumbawa, memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan Kabupaten Sumbawa.


A. Penduduk Sumbawa Barat
Sumbawa yang kita kenal sekarang, sebenarnya lahir dari beberapa komunitas budaya yang berasal dari beberapa suku di Indonesia. Kedatangan beberapa kelompok etnis dan kemudian membuat tempat kediamannya masing-masing, karena terdesak oleh suasana dan keadaan akhirnya juga berpindah-pindah ke tempat-tempat lain (tersebar). Tempat-tempat ini akhirnya menjadi tanah ulayat yang dalam bahasa Sumbawa disebut "Lar Lamat". Kelompok-kelompok ini dipimpin oleh Nyaka. Bagi siapa saja yang ingin menetap di tanah Pernyaka, diterima dan kemudian diberikan persamaan hak dan kedudukan, namun dengan syarat bahwa mereka harus tunduk pada ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi tiap-tiap kawula (rakyat) dari tanah Pernyaka itu, yaitu iuran bakti kepada kerajaan sebagai imbalannya (Lalu Manca, 1984:22).
Penduduk Sumbawa bagian Barat pulau Sumbawa saat itu, selain berasal dari kelompok etnis-kelompok etnis dari Indonesia juga berasal dari luar Indonesia, seperti dari Vietnam Selatan dan Mongolia. Beberapa informasi yang berkembang di wilayah paling barat pulau Sumbawa, tepatnya di Sekongkang bahwa nama-nama seperti: Sekongkang (Sekongkyang), Tongo (Tongkyang), Tatar (Tentara dari Tartar); Singa' (tentara dari Kerajaan Singasari). Kedatangan mereka kala itu, karena dikejar oleh pasukan Majapahit dan akhirnya mendarat di beberapa tempat di wilayah paling barat pulau Sumbawa.
Kehadiran beberapa kelompok suku bangsa di Tana Samawa (Sumbawa) diperkirakan sejak tahun 1292-1293, bermula dari keruntuhan kerajaan Singasari dan terusirnya pasukan Kerajaan Jengis Khan di pulau Jawa. Kekalahan Kerajaan Singasari oleh Kerajaan Kediri mengakibatkan pasukan-pasukan elit kerajaan meninggalkan daerahnya, dan mendarat di pulau Sumbawa, tepatnya di Singa' sekarang ini. Begitu pula halnya dengan tentara Jengis Khan yang melarikan diri dari kejaran pasukan kerajaan Majapahit, serta malu untuk kembali ke negerinya, mereka juga mendarat di pulau Sumbawa, tepatnya di Tatar (asal kata Tartar).
Penduduk Taliwang sekarang yang mendiami pusat Kabupaten Sumbawa Barat, pada awalnya didominasi oleh etnis Bugis-Makasar, bahkan raja-raja Taliwang saat itu berasal dari keturunan Bugis-Makasar, namun seiring perkembangan politik di Taliwang, dominasi keturunan Bugis-Makasar pun tidak bertahan lama. Keturunan Bugis (Daeng) diganti oleh keturunan raja Banjar, yang bergelar Pangeran atau Gusti. Bahkan dapat dikatakan bahwa keturunan raja Banjar lah yang meneruskan sultan-sultan Sumbawa sampai ke dinasti terakhir.

B. Karakteristik Sumbawa Barat
a) Sejarah
Sumbawa Barat tepatnya Taliwang sudah ada jauh sebelum munculnya Kesultanan Sumbawa. Kerajaan Taliwang hadir di percaturan politik nusantara bersamaa dengan munculnya kerajaan Majapahit. Kerajaan Taliwang merupakan kerajaan yang besar di wilayah Sumbawa dan Nusa Tenggara. Kerajaan Taliwang yang besar dapat dilihat dari keterangan yang diberikan oleh Mpu Prapanca melalui kitab Negara Kertagama. Pada kitab ini, Kerajaan Taliwang termaktub pada Syair Ke-14 dan 15. Kerajaan Taliwang termasuk ke dalam susunan Daerah yang Delapan yang meliputi bagian Kelima, dengan susunan Di Sebelah Timur Jawa, seluruh Nusa Tenggara, sebagai berikut: 1) Bali, 2) Bedulu, 3) Lwa Gajah (Lilowan, Negara), 4) Gurun (Nusa Penida), 5) Taliwang (Sumbawa), 6) Dompo (Sumbawa), 7) Sapi (Sumbawa), 8) Sanghyang Api (Gunung Api, Sangeang), 9) Bima, 10) Seram, 11) Hutan (Sumbawa), 12) Kedali (Buru), 13) Gurun (Gorong), 14) Lombok Mira (Lombok Barat), 15) Saksak (Lombok Timur), 16) Sumba, dan 17) Timor (dalam Yamin, 2001:60-64).
Berdasarkan susunan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Kerajaan Taliwang merupakan kerajaan besar yang ada di Sumbawa saat itu, bahkan jika dibandingkan dengan kerajaan lain yang ada di Nusa Tenggara Barat. Keterangan yang lebih jelas tentang informasi ini, pembaca diharapkan dapat membaca buku “Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara” karangan Muhammad Yamin (2001).
Sejarah Sumbawa mencatat bahwa dominasi Sultan Sumbawa yang keturunan Bugis-Makasar digantikan oleh sultan dari keturunan raja Banjar. Permulaan keturunan raja Banjar menjadi sultan Sumbawa yaitu, Gusti Mesir Abdurrahman yang bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II (1762-1765). Beliau diangkat menjadi sultan kedelapan Sumbawa karena beliau telah memperistrikan cucunda dari Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I (1702-1723), Datu Bonto Raja.
Perhatikan diagram berikut:


























Berdasarkan diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa raja dari keturunan Banjar mendominasi Sultan Sumbawa. Meskipun juga, Datu Seran dan anaknya sempat menjadi Sultan Sumbawa, namun dilanjutkan kembali oleh dinasti Gusti Mesir Abdurrahman sampai kesultanan di Sumbawa berakhir.
b) Seni dan Budaya

Sumbawa terkenal akan keseniannya. Sumbawa memiliki beragam jenis kesenian. Kesenian Sumbawa terkenal sebagai seni vokalis. Kesenian Sumbawa dikatakan sebagai seni vokalis karena hampir semua kesenian Sumbawa dibawakan dalam wujud vokal. Adapun beberapa jenis Vokal Sumbawa sebagai berikut, seperti: Lawas Ulan (Ulan Siup, Ulan Jaga, Ulan Ntek Ano, Ulan Tangari Ano, Ulan rawi Ano, Ulan Petang, Ulan Tenga Petang); Badede; Badiya; Malangko, Bakilung; Bagesong; Balawas; Rabalas Lawas; Gandang Nuja dan Gandang Suling; Bakembong; Sakeco; Ratob; Saketa. Kesemua jenis seni vokalis Sumbawa ini, bersumber dari lawas, sedangkan tiap jenis musik vokalis diiringi oleh alat musik yang berbeda.
Selain seni vokalis di atas, di Sumbawa ditemukan jenis seni lain, seperti: pembuatan male; permainan rakyat, seperti: Mencak/Kuntao; Nyampo/Barapan (Kebo dan Ayam); Maen Jaran; Badempa; Rapanca; Nganyang; Maen Bai; Barampok. Permainan anak-anak, seperti: Maen Gore; Bakadendeng; Saling Ponggo; Batarki; Maen Iwak; Maen Ayam; Maen Ular; Rapanan, dll. Upacara adat, seperti: Pangantan; Entek Bale; Turun Berang; Sadeka Lang, Satamat Kur'an; Satama Lamung; Bakurus; Biso Tian; Akikah; Munut Nabi.
Di Sumbawa Barat juga dikenal beberapa alat musik. Alat musik di Sumbawa Barat tidak jauh berbeda dengan alat musik Sumbawa. Alat musik Sumbawa yang dapat ditemukan sekarang adalah: Gong; Genang; serunai biasa dan serunai lolo pe; genang aer/genang gitik; gesong; kelong; botol; gero kebo; rabana ode dan rabana rango. Kesemua jenis alat musik ini tidak jauh berbeda dengan alat musik Sumbawa, namun dilihat dari bentuk dan ukurannya, maka akan tampak perbedaannya.
Semua jenis seni dan budaya Sumbawa Barat ini harus segera diinventarisasi dan didokumentasikan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, sebab keberadaannya saat ini sudah mulai berkurang dan hampir punah. Penginventarisasian dan pendokumentasian potensi seni-budaya ini tidak saja melalui tulisan dan foto saja, melainkan juga dalam hal penggalian, pengadaan, pengenalan, dan pelestariannya.
Pekan Apresiasi Budaya merupakan momentum yang tepat untuk pengenalan dan pelestarian seni budaya Sumbawa Barat ini, namun sangat disayangkan, Pekan Apresiasi Budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat baru sekadar menyentuh kulit luarnya saja, belum dapat menyentuh hal yang esensial dari keberadaan seni dan budaya Sumbawa Barat itu sendiri. Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi dinas Parbudhubtel Sumbawa Barat. Kehadiran dua bidang di dinas tersebut, yaitu bidang Pariwisata dan Kebudayaan hanya sekadar formalitas belaka, karena kehadiran kedua bidang ini hanya memperebutkan program apa yang dapat diloloskan dalam Dask (mudah-mudahan tidak berbau ekonomi).
Dinas Parbudhubtel seharusnya menjadi lumbung informasi kebudayaan Sumbawa Barat. Mereka seharusnya membuat peta persebaran informasi kebudayaan Sumbawa Barat, agar nanti ketika dibutuhkan, mereka tidak kelimpungan mencari data-data yang dibutuhkan. Ada lagi, pembangunan dalam bentuk fisik, seperti: berugaq belum terlalu esensial, apalagi berugaq yang dibangun tidak mencerminkan ke-Sumbawa-an, melainkan Lombok.
Bupati Sumbawa Barat (KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM.), pada Acara Pembukaan Pekan Apresiasi Budaya Sumbawa Barat (07-12-2007), di eks Lapangan Sepak Bola Taliwang, berharap agar masyarakat Sumbawa Barat harus memiliki kekhasan budaya tersendiri yang bisa jadi berbeda dengan budaya yang pernah ada, asalkan ada kesepakatan di antara pakar budaya Sumbawa Barat. Ini patut disambut dengan cepat agar nanti dapat kita rumuskan identitas dengan baik.

c) Bahasa

Bahasa menunjukkan bangsa. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kehadiran sebuah bahasa merupakan cerminan identitas kebangsaan seseorang. Bahasa Sumbawa merupakan bahasa yang digunakan oleh Tau Samawa (baca: orang Sumbawa). Jadi dapat dikatakan bahwa Bahasa Sumbawa merupakan identitas Tau Samawa. Bahasa Sumbawa (Basa Samawa) merupakan bahasa yang dipakai sebagai bahasa perhubungan intramasyarakat Sumbawa.
Basa daerah (Samawa) berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah; (2) lambang identitas daerah; (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah; (4) sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia, serta (5) pendukung sastra daerah dan dan sastra Indonesia (Politik Bahasa Nasional, 2003).
Basa Samawa mempunyai Variasi dialek, yaitu Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar, Bahasa Sumbawa Dialek Taliwang, Bahasa Sumbawa Dialek Jereweh, dan Bahasa Sumbawa Dialek Tongo (Mahsun, 1995). Keempat variasi dialek bahasa Sumbawa ini dapat kita temukan di Kabupaten Sumbawa Barat. Variasi dialek bahasa Sumbawa ini merupakan kekayaan bagi Sumbawa Barat. Meskipun demikian, masih banyak yang meragukan kekayaan ini. Banyak pendapat mengatakan bahwa variasi dialek di Sumbawa Barat akan menyulitkan pemahaman berbahasa dan bersastra di Sumbawa Barat. Pendapat ini benar, karena sampai sekarang pun, kita kesulitan untuk memasukkan variasi dialek lain ke dalam sastra Sumbawa, selain Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar.
Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kehadiran variasi dialek lain dalam sastra Sumbawa, selain dialek Sumbawa Besar dapat dilakukan jika sudah dibiasakan dari sekarang. Hanya saja, variasi-variasi dialek lain itu masih terdengar janggal dipendengaran kita. Meskipun demikian, kehadiran lagu-lagu yang berbahasa Taliwang--sedikit demi sedikit mulai menghapus "kejanggalan-kejanggalan rasa bahasa" itu. Tiada gading yang tak retak, pepatah ini dapat disematkan pada seniman-seniman Sumbawa Barat yang mulai membebaskan diri dari "Kejanggalan Rasa Bahasa" itu.

Tidak ada komentar: