Kemas Samawi Multiproduction

Kerukunan Masyarakat Seni Samawa Ano Rawi... Seni, Budaya, Sejarah, Pariwisata, dan Pendidikan Samawa

Minggu, Februari 12, 2012

Membedah Lawas Samawa

Lawas adalah Seni Sastra yang sangat menonjol ditengah kehidupan masarakat. Bagi Tau Samawa Lawas ; bukanlah sekedar seni sastra, namun Lawas juga sebagai bentuk media hiburan yang dapat dipertunjukkan atau dipertontonkan. Lawas ini diwariskan dan diturunkan dalam bentuk lisan oleh leluhur orang Sumbawa. Lawas juga menjadi sumber dari segala sumber seni. Ia bisa dilantunkan kedalam berbagai bentuk seni, misalnya, Seni Balawas, Rabalas Lawas, Malangko, Badede, Badiya, Bagandang, Bagesong, dan Sakeco, bahkan dalam bertutur atau bercerita pun biasa dismpaikan dalam bentuk Lawas.
Dalam Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia dikatakan bahwa Lawas adalah sejenis puisi atau pantun khas Sumbawa sehingga juga disebut sebagai bahasa puitik Tau ( orang ) Sumbawa. Lawas terdiri atas tiga baris dalam satu bait atau ada pula yang terdiri dari empat atau enam baris. Bedanya dengan puisi atau pantun melayu terletak pada suku kata didalam setiap barisnya. Kalau pantun 7 suku kata, maka Lawas terdiri dari 8 suku kata dalam setiap barisnya. Jika lebih maka membacanya akan sangat sulit. Lawas ini biasa dilisankan atau dilantunkan pada upacara-upacara tertentu misalnya pada upacara Nyorong, bagian dari sebuah prosesi pernikahan.
Lawas sebagai puisi lisan tradisional masyarakat Sumbawa hingga sekarang masih dapat kita jumpai atau nikmati dalam berbagai bentuk pertunjukkan di Sumbawa walau sebagian orang Sumbawa sudah tidak lagi mengenal atau lebih tepat disebut dengan tidak bisa Balawas. Sehingga di zaman modern sekarang ini, sedikitnya ada tiga katagori orang Sumbawa terhadap Lawas ini. Yang pertama : Tidak bisa Balawas ( membuat atau melantunkan ) namun mengerti akan makna dan filosofi dari Lawas tersebut. Kedua ; adalah sebaliknya ; Hanya bisa Balawas, tapi tidak mengerti atau memahami makna Lawas yang di lantunkan, sehingga tidak jarang lawas yang dibuat atau dilantunkan tidak berhubungan dengan kaidah-kaidah sebuah Lawas. Ketiga ; banyak diantara orang Sumbawa yang tidak bisa Balawas dan sama sekali tidak mengerti pula makna yang terkandung didalam bait-bait Lawas itu.
Lawas-lawas ini biasanya dipertunjukkan dalam dua bentuk, meliputi: Pertujukan di dipanggung dan pada saat orang bekerja di sawah dan di lading atau saat gotong royong membangun rumah, mengasuh anak, upacara adat, dan pada kegiatan Barapan Kebo ( Kerapan Kerbau ), yang kesemuanya itu merupakan tradisi dan budaya masarakat Sumbawa. Lawas juga dilantunkan pada saat beraktivitas misalnya untuk mengurangi rasa sepi, sebagai hiburan, mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang dilakukan bahkan untuk melakukan kritikan-kritikan terhadap penguasa.
Kehadiran Lawas di Sumbawa awalnya tidak diketahui secara pasti namun diperkirakan dibawa oleh pembantu-pembantu Sultan Sumbawa yang pulang berguru Agama Islam di Aceh dan semenanjung Melayu dan Banjar. Dihubungkan kesana, karena Lawas sangat mirip dengan pantun melayu. Yang membedakan di suku kata. Lawas delapan suku kata, sedangkan pantun tujuh suku kata. Begitu pula dengan bentuknya, pantun diawali dengan sebuah perumpamaan atau ibarat, baru ke isi. Lawas pun demikian. Masarakat Sumbawa mengenal perumpamaan atau ibarat itu dengan EBAR. Ebar ini diambil dari lingkungan, seperti tumbuh-tumbuhan dll. Sebuah contoh Lawas yang biasa diperuntukkan bagi pengantin baru misalnya mengambil perumpamaan kepada bunga Oyong atau dalam bahasa Sumbawa nya Tamuruk.
Na Mara Kemang Tamuruk
Kekar Asar Gugir Subu
Maras Si Konang Sangara.

Lawas ini mengingatkan pengantin baru agar tidak seperti Bunga Oyong ( Tamuruk ) yang mekarnya sore hari namun gugur dan layu diwaktu subuh. Maknanya ; bahwa apalah artinya membangun sebuah rumah tangga yang hanya sesaat, padahal siapapun pasti menginginkan rumah tangga itu kekal sepanjang hidup. Dari itu itu orang tua berharap, agar rumah tangga itu bisa bertahan hingga ajal menjemput seperti yang terlukis dari sebuah lawas :

Mara Punti Gama Anak
Den Kuning No Tenri Tana’
Mate’ Bakolar Ke Lolo

Pohon pisang dilambangkan sebagai contoh yang pantas ditiru,walaupun dahannya mati dan menguning ia takkan lepas dari pohonnya.


Dari sebuah catatan, bahwa kehadiran Lawas bagi masyarakat Sumbawa pada awalnya berperan sebagai media ekspresi batin manusia dan sebagai perekam peristiwa yang terjadi di seputarnya. Apa yang tampak atau yang dipikirkan oleh masyarakat Sumbawa tempo dulu biasanya akan disampaikan melalui Lawas. Lawas seperti ini disebut pula dengan Lawas Loka karena sebagian besar lawas-lawas itu masing-masing bercerita tentang masanya. Sebuah contoh ketika orang-orang Makasar mulai berdatangan ke Sumbawa, orang-orang tua dahulu mencatat dan melukiskan sekaligus sebagai sebuah peringatan bagi anak dadi nya ( anak,keponakannya ) dengan sebuah Lawas.

Mana Si Kapasal Cinde
Min Kadadi Tali Lampak
Ya Rik Repa’ Si Leng Tau.

Mana Si Kapasal Lutung
Lamin Dadi Lapis Songko
Soan Jonyong Si Leng Tau

Makna bait pertama lawas diatas : Walaupun kita datang dari keturunan orang mulia, orang berada dlsb namun jika perangai dan sikap kita tidak terjaga apalagi menunjukkan kesombongan dan bangga akan kelebihan yang kita miliki maka pasti akan dicampakkan oleh orang lain. Bait pertama lawas diatas menceritakan bagaimana dahulu itu orang-orang Makassar datang dengan segala kebesaran dan kekayaan yang melimpah ruah ditambah dengan pengikut yang sangat banyak. Begitu pula dengan penampilan dari sebagian besar diantara mereka yang cenderung menganggap hina penduduk asli yang rata-rata tidak memiliki harta dan dari keturunan rakyat biasa. Lalu sebagian orang Sumbawa saat itu kebanyakan pula mengikuti pola tingkah para pendatang itu sehingga orang-orang seperti itu dijuluki oleh orang-orang tua dahulu dengan sebutan Tanja Makassar.
Melihat kondisi itu diperkirakan lahirlah Lawas diatas sebagai sebuah pasangingat dan pasatotang ( Peringatan dan Nasehat ) agar jangan meniru hal-hal yang tidak selaras dengan kehidupan orang kebanyakan seperti yang tertulis di bait terakhir lawas diatas. “ Walaupun kita datang dari orang kebanyakan atau rakyat jelata yang disimbulkan dengan Lutung ( sejenis kain berwarnah hitam ) namun bersikap bijaksana, beretika, bertata karma, dan memiliki perangai yang baik ( dilambangkan kain Lutung itu sebagai lapisan sebuah kopiah ) maka akan didengar, disegani, diteladani dan dijunjung oleh orang lain. ( bersambung ) (bangmek)

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda