Senin, Mei 11, 2009

BUEN LAJENDRE

Di Desa Lantung Aimual tinggal gadis cantik yang bernama Lala Ila. Lala Ila sejak kecil sudah ditunangkan dengan Lalu Mangi, meskipun sudah ditunangkan sejak kecil keduanya sampai besar tidak mengetahuinya.

Suatu hari, Lalu Mangi mendengar cerita tentang kecantikan Lala Ila. Lalu Mangi penasaran akan kecantikan Lala Ila. Lalu Mangi mengajak pembantunya Salampe untuk membuktikan kecantikan Lala Ila. Singkatnya, Lalu Mangi mohon pamit pada Bapak dan Ibunya akan pergi Aimual. Akhirnya berangkatlah mereka ke Desa Aimual. Lalu Mangi kemanapun perginya selalu didampingi oleh Salampe. Salampe adalah anak angkat Radan Mangi. Salampe adalah orang kepercayaan keluarga Radan Mangi. Salampe kerjanya setiap pagi memandikan kuda, membersihkan kandang, menyabit rumput, memperbaiki kebun, dan mengambil kayu. Salampe bertugas melayani dan menemani Lalu Mangi bepergian. Itulah pekerjaan Salampe di rumah Radan Mangi ayah Lalu Mangi. Bapak dan ibunya memberi tahu bahwa di sana juga ada pamannya yang bernama Dea Angge. Ayah bunda Lalu Mangi berpesan pada Salampe agar menjaga Lalu Mangi selama di daerah rantauan. Salampe selalu memperhatikan apa yang telah dipesankan oleh Radan Mangi untuk menjaga keselamatan Lalu Mangi.
Di Desa Aimual, Dea Angge memiliki kebun yang cukup luas, suatu hari Lalu Mangi bermain ke kebun milik pamannya. Tak disangka dan tak diduga, di sana Lalu Mangi bertemu dengan Lala Ila. Tidak lama setelah pertemuan itu, ternyata di antara keduanya terjalin perasaan kasih sayang, atau jatuh cinta pada pandangan pertama.
Lalu Mangi menceritakan kepada pamannya tentang pertemuan tersebut, lalu Mangi mengatakan kepada pamannya bahwa dia jatuh cinta pada Lala Ila dan meminta pamannya untuk segera melamar Lala Ila. Dea Angge pun menyanggupi permintaan Lalu Mangi untuk melamar Lala Ila. Lamaran Dea Angge diterima dengan baik oleh orang tua Lala Ila. Kedua keluarga sepakat untuk menunda dulu perkawinan tersebut sampai kedua anak yang akan dikawinkan mencapai umur yang pantas untuk berumah tangga (Baca: 25 tahun untuk laki-laki dan minimal 20 tahun untuk wanita)..
Perdagangan antara Sumbawa dan Ujung Pandang pada saat itu sangat ramai sekali dan maju, berimbas juga ke Desa Lantung Aimual. Suatu hari datanglah pedagang kain yang bernama Daeng Joge. Daeng Joge ini sebenarnya ramah, akan tetapi karena dia juga tertarik kepada Lala Ila, maka timbullah niat buruknya kepada Lalu Mangi. Suatu hari dia menawarkan minyak wangi kepada Lalu Mangi. Dia tahu bahwa Lalu Mangi akan menikahi Lala Ila. Di sinilah muncul sikap liciknya, di samping menawarkan minyak wangi dia juga menawarkan candu (sejenis madat yang jika dihisap dapat merusak kesehatan ’sekarang kita sebut opium atau heroin’). Candu pada saat itu menjadi barang yang cukup laris. Candu masuk ke Sumbawa dibawa oleh pedagang dari Ujung Pandang.
Pada pertemuan pertama Lalu Mangi tidak terpengaruh oleh rayuaan Daeng Joge untuk mengisap candu. Pada pertemuan itu, Lalu Mangi hanya mengambil sarung dan minyak wangi, tetapi karena terpengaruh oleh bujuk rayu Daeng Joge akhirnya benteng pertahanan Lalu Mangi pun bobol. Lalu Mangi tidak tahu bahwa barang tersebut dapat merusak kesehatan dan masa depannya (nanta Lalu Mangi). Kepintaran Daeng joge dalam berdagang tercermin dalam dialog berikut, “Daeng Joge mengambil candu dan mengisapnya, sambil berkata, “Wanita tidak suka kepada laki-laki yang badannya lemah dan tidak bergairah. Coba hisap Lalu, mengenai harganya tidak usah dipikirkan. Bukankah kita sudah berkenalan dan berkawan baik. Terserah Lalu saja, kalau Lalu beruang barulah diselesaikan, artinya bisa dibayar kemudian atau dibayar menyusul.” Karena bujukan dan rayuan Daeng Joge akhirnya Lalu Mangi tidak berdaya, maka dihisapnya candu itu. Cepat sekali reaksinya. Badannya tampak segar bugar. Pikirannya terang benderang. Lalu Mangi pun tersenyum simpul (So Nya Tau Sala Ona Singun Na, Nongka Itan Kena Rimpung). Bukankah begitu Penonton?
Setelah sekali mencoba mengisap candu, akhirnya kecanduan. Lalu Mangi tidak menyadari bahwa candu itu dapat merusak tubuh dan kesehatan. Sekarang, Lalu Mangi sudah tidak mampu lagi berdandan yang rapi, badannya kurus kering karena kebiasaan mengisap candu (Karing Bateda Tolang Ke Lenong Na). Karena harga candu mahal, dan Lalu Mangi kekurangan uang, maka Lalu Mangi mempunyai hutang yang bertumpuk pada Daeng Joge (Katumuk sekali Penonton). Akibatnya, perkawinan yang direncanakanpun mulai terbengkalai. Biaya perkawinan pun sudah habis terpakai untuk membeli candu (Bateda Karing Cawat Na Jangka, Kubaya Sia Penonton. Nar Puan Na Sia Ola Tau Sala Yam Lalu Mangi Sa O).
Daeng Joge mulai menagih Lalu Mangi, dia meminta agar hutang Lalu Mangi segera dilunasi (Sia Kawa Ke Ikejar Ning Utang Bae O). Segala harta benda Lalu Mangi sudah diserahkan kepada Daeng Joge akan tetapi itu semua tidak mampu menutupi seluruh hutangnya (Buemo Tampel anu Ka Loq Na). Padahal, candu itu tetap diperlukan setiap waktu. Akibat kecanduan, kesehatan Lalu Mangi menurun drastis, sehingga Dia malu untuk mengunjungi tunangannya.
Suatu hari, Daeng Joge menagih hutang Lalu Mangi, padahal saat itu Lalu Mangi sudah tidak punya uang lagi. Karena pikirannya kacau-balau akhirnya dia mengajukan pacarnya sebagai pembayar hutang, dan Dia pun minta tambahan uang setinggi badan pacarnya kepada Daeng Joge. Begini katanya, “Kuserahkan kekasihku kepadamu, asalkan kamu tunjang lagi dengan uang.” Daeng Joge menerima permintaan Lalu Mangi, karena diam-diam Daeng Joge mengagumi Lala Ila yang cantik itu. Daeng Joge memperkuat pikirannya dengan kembali menanyakan kepastian Lalu Mangi, “Benarkah ucapanmu keluar dari hati yang ikhlas.” Lalu Mangi menjawab dengan cepat “ Ya, yang penting hutangku lunas.” Daeng Joge tersenyum puas karena apa yang diharapkan berhasil.
Untuk menjalankan akal liciknya, Lalu Mangi menyampaikan pesan kepada Lala Ila agar mereka kawin lari (Merariq). Lala Ila pun menyetujui usul Lalu Mangi yang akan mengajaknya kawin Lari (Merariq). Dengan hati berat Lala Ila menyetujui usul Lalu Mangi, meskipun dia tahu bertentangan dengan adat Sumbawa. Lala Ila berkata, “Kawin Lari! Aku takut, sungguh tidak ada keberanianku menempuh jalan yang bertentangan dengan adat itu.”
Dia dijemput oleh Salampe dan pergi ke tempat yang telah ditentukan. Lala Ila menengok ke belakang. Sepi, tiada seorang pun yang melintas. Perasaannya redup. Harapannya pudar. Mereka tiba di pelabuhan. Lala Ila dinaikkan ke atas perahu. Diterima oleh Daeng Joge, Lala Ila disuruh berdiri, uang ditumpukkan setinggi badannya. Uang itu diserahkan kepada Salampe. Lala Ila meneteskan air mata dan menangis. Salampe tak sanggup menahan kesedihannya menyaksikan nasib malang yang menimpa Lala Ila. Daeng Joge tersenyum simpul karena siasat yang dijalankannya berhasil. Dia mendekati Lala Ila dengan bujukan dan rayuan, Lala Ila baru mengerti bahwa dia sudah masuk ke dalam perangkap. Dia menelungkupkan badan sembari menangis semakin melengking. Salampe hanya mampu berdiri mematung di tepi laut menyaksikan kepergian Lala Ila dengan Daeng Joge. Betapa kecewanya Lala Ila waktu mengetahui kenyataan bahwa dia ditipu oleh pacarnya, ternyata dia dijual oleh pacarnya kepada Daeng Joge. Berkatalah Lala Ila kepada Salampe, “ Sungguh baik benar hati Lalumu itu, sampaikan salam terakhirku, “Meski segala kupasrahkan kepadamu, kalau kanda beralih keyakinan, rela kumati dari hidup menanggung malu. Setelah itu, Lala Ila menangis meronta-ronta. Saat itu turun hujan lebat disertai angin kencang dan alam pun gelap gulita. Akibatnya, perahu layar itu terhempas dan kandas, layarnya robek dan terdampar ke sebuah batu karang.
Sekarang ini, tempat kandasnya kapal yang ditumpangi oleh Lala Ila dan Daeng joge terdapat mata air yang di kenal oleh masyarakat setempat sebagai Buen Lajendre. Buen Lajendre airnya tidak pernah kering sampai sekarang. Air Buen Lajendre menurut masyarakat merupakan penjelmaan dari air mata Lala Ila, Allahualam. Setelah kejadian itu, Lalu Mangi mengalami penderitaan yang berkepanjangan dan meninggal dalam keadaan menyedihkan.

Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini adalah sebagai berikut:
Tema : Seorang Gadis yang menjadi korban lelaki pecandu Candu (Opium). Air mata gadis menjelma menjadi sumber mata air yang tak pernah habis, sedangkan lelaki pecandu mati menderita.

Nilai budaya
• Pendirian labil. Pendirian yang kuat kalah oleh kecanduan akan obat-obatan berupa candu (pada Lalu Mangi) dan Lalu Mangi menjual Lala Ila’ (pacarnya). Lala Ila’ yang mau diajak Merariq (kawin selarian), padahal itu tabu bagi masyarakat Sumbawa.
• Karena kurang waspada maka berakibat pada malapetaka yang menimpa Lala Ila (dijual). Lalu Mangi terjebak oleh candu hingga mati.
• Ketakberdayaan. Salampe (tidak berani menolak perintah Tuannya meskipun tidak sesuai dengan hati nuraninya ‘menjemput Lala Ila untuk dijual kepada Daeng Joge’. Dan ketakberdayaan Lala Ila karena cintanya pada Lalu Mangi. Begitu pula halnya dengan Lalu Mangi yang tidak berdaya terhadap tuntutan Daeng Joge karena dia sudah tidak berdaya untuk membayar hutangnya yang semakin meningkat).
• Kesetiaan dengan perbudakan. Sikap setia Lala Ila dibalas penghianatan oleh Lalu Mangi (diajak Merariq dan dijual).
• Kasih sayang yang ditunjukkan oleh orang tua Lalu Mangi, pamannya Dea Angge, hambanya Salampe, dan kekasihnya Lala Ila’.
• Kejujuran berdampingan dengan keculasan yang ditunjukkan oleh Daeng Joge dan Lalu Mangi terhadap kehidupan Lala Ila’.


Tidak ada komentar: