Kemas Samawi Multiproduction

Kerukunan Masyarakat Seni Samawa Ano Rawi... Seni, Budaya, Sejarah, Pariwisata, dan Pendidikan Samawa

Senin, Mei 11, 2009

BUEN LAJENDRE

Oleh: Fathi Yusuf

Sinopsis

Sendra Mutar (Seni Drama, Musik, dan Tari ) “Buen Lajendre” termasuk tari kreasi baru. Buen Lajendre merupakan nama sebuah tempat di Desa Ai Mual, Kabupaten Sumbawa Barat. Sendra Mutar secara harfiah dapat berarti, Sendra (menyerahkan, memberikan); Mutar (sumpah, janji), jadi Sendra Mutar dapat diartikan sebagai tari yang berisi pemberian janji atau juga pemberian sumpah.
Lala ila adalah seorang gadis cantik. Lala Ila sebenarnya sejak kecil sudah ditunangkan dengan Lalu Mangi, meskipun sudah ditunangkan sejak kecil, namun keduanya sampai besar tidak mengetahuinya.
Suatu hari, Lalu Mangi mendengar cerita tentang kecantikan Lala Ila. Lalu Mangi penasaran akan kecantikan Lala Ila, kemudian Lalu Mangi mengajak pembantunya Salampe untuk membuktikan kecantikan Lala Ila.

Di desa Ai Mual, Lalu Mangi mempunyai seorang paman yang bernama Dea Angge. Dea Angge memiliki kebun yang cukup luas. Suatu hari Lalu Manggi bermain ke kebun milik pamannya. Tak disangka dan tak diduga, di sanalah Lalu Manggi bertemu dengan Lala Ila. Tidak lama setelah pertemuan itu, ternyata di antara keduanya terjalin perasaan kasih sayang, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Perdagangan antara Sumbawa dan Ujung Pandang pada saat itu sangat ramai sekali dan maju, berimbas juga ke Desa Lantung Aimual. Suatu hari datanglah pedagang kain yang bernama Daeng Joge. Daeng Joge ini sebenarnya ramah, akan tetapi karena dia juga tertarik pada Lala Ila, maka timbullah niat buruknya kepada Lalu Manggi. Suatu hari dia menawarkan minyak wangi kepada Lalu Mangi, dia tahu bahwa Lalu Mangi akan menikah dengan Lala Ila. Di sinilah dia muncul sikap liciknya, di samping menawarkan minyak wangi dia juga menawarkan candu (sejenis madat yang jika dihisap dapat merusak kesehatan). Candu pada saat itu menjadi barang yang cukup laris. Candu masuk ke Sumbawa di bawa oleh pedagang dari Ujung Pandang.
Daeng Joge mulai menagih Lalu Mangi, dia meminta agar hutang Lalu Mangi segera dilunasi. Segala harta benda Lalu Mangi sudah diserahkan kepada Daeng Joge akan tetapi itu semua tidak mampu menutupi seluruh hutangnya. Padahal, candu itu tetap diperlukan setiap waktu. Akibat dari kecantuan candu, kesehatan Lalu Mangi menurun drastis, sehingga malu untuk mengunjungi tunangannya LAla Ila.
Untuk menjalankan akal liciknya, Lalu Mangi menyampaikan pesan kepada Lala Ila untuk mereka melakukan kawin lari (Merariq). Lala Ila pun menyetujui usul Lalu Mangi yang akan mengajaknya kawin Lari (merariq). Dengan hati berat, lala Ila menyetujui usul Lalu Mangi agar mereka kawin lari meskipun bertentangan dengan adat Sumbawa. Lala Ila berkata, “Kawin Lari! Aku takut, sungguh tidak ada keberanianku menempuh jalan yang bertentangan dengan adat itu.” Dia dijemput oleh Salampe dan pergi ke tempat yang telah ditentukan. Di sana dia bertemu dengan Daeng Joge. Dan Daeng Joge sudah menunggu di atas perahunya. Betapa kecewanya Lala Ila waktu mengetahui kenyataan bahwa dia ditipu oleh pacarnya, ternyata dia dijual oleh pacarnya kepada Daeng Joge. Berkatalah Lala Ila kepada Salampe, “ Sungguh baik benar hati Lalumu itu, sampaikan salam terakhirku, “ Meski segala kupasrahkan kepadamu, kalau kanda beralih keyakinan, rela kumati dari hidup menanggung malu. Setelah itu, Lala Ila menangis meronta-ronta. Saat itu turun hujan lebat disertai angin kencang dan alam pun gelap gulita. Akibatnya, perahu layar itu terhempas dan kandas, layarnya robek dan terdampar ke sebuah batu karang.
Setelah kejadian itu, Lalu Mangi mengalami penderitaan yang berkepanjangan dan meninggal dalam keadaan menyedihkan.
Sekarang ini, tempat kandasnya kapal yang ditumpangi oleh Lala Ila dan Daeng joge terdapat mata air yang di kenal oleh masyarakat setempat sebagai Buen Lajendre. Buen Lajendre airnya tidak pernah kering sampai sekarang. Air Buen Lajendre menurut masyarakat merupakan penjelmaan dari air mata Lala Ila, Allahualam.
Cerita tersebut diolah dan dikembangkan dalam bentuk Sendra Mutar (seni drama, musik, dan tari), dengan bagian-bagian sebagai berikut :

Kronologis Adegan

1. Visualisasi adegan awal, Lala Ila dan aktivitasnya.
2. Lalu Mangi dan Salampe mempersiapkan diri untuk berangkat
3. Lalu Mangi dan Salampe bertemu dengan kedua orang tuannya
4. Lalu Mangi bertemu dengan Dea Angge
5. Lalu Mangi bertemu dengan Lala Ila di kebun Dea Angge
6. Dea Angge melamar Lala Ila untuk Lalu Mangi
7. Lalu Mangi bertemu dengan Daeng Joge (seorang pedagang kain dan minyak wangi, serta penjual candu)
8. Lalu Manggi kecanduan hingga tidak dapat membayar hutangnya pada Daeng Joge;
9. Lalu Manggi menjadikan Lala Ila sebagai pembayar hutangnya pada Daeng Joge;
10. Salampe menjemput Lala Ila untuk diajak ke pantai
11. Daeng Joge sudah menunggu di atas perahu, Daeng Joge menyampaikan apa yang terjadi. Lala Ila menangis sejadi-jadinya.
12. Lalu Mangi pun meninggal dunia karena tidak dapat menanggung beban deritanya.

ADEGAN AWAL

Opening act: pentas menggambarkan Lala Ila yang sedang beraktivitas.” Di situ, Lala Ila melakukan kegiatan tari dengan lemah-gemulai, keras, memberontak, menghentak, kemudian luruh di perut bumi karena kecapaian. Lampu menyorot Lala Ila. Musik menjadi pengantar dan sesuaikan dengan irama dan tempo permainan Lala ila.

Tembang rindu Lala Ila

Aku rindu pada nyanyian hati, merintih
Tentang senandung keindahan, merah
Kicau burung menyayat suka akan rasa, luka kah?

Terdengar lentingan sukma menggoda
Terpapar dawai-dawai melengking pada relung-relung,
Tergoda dan terpikat akan iringan syahdu
Namun aku tak gentar akan keadaannya

Wahai pengabar rindu
Wahai pewarta cinta
Wahai pencerita rasa
Wahai pengisah asmara
Pertemukan aku dengan bentuknya!
Tuhan!

ADEGAN KEDUA

Lampu menyebar ke area pentas
Musik : Lagu dan intro “Jari Roro”
Pemain : Lalu Mangi, Salampe, Radan Mangi, dan Istrinya
Lalu Mangi dan Salampe mempersiapkan diri untuk berangkat
Lalu Mangi : Salampe, siapkan bekal dan perlengkapan untuk ke Ai Mual!
Salampe : Siap, Tuan. Tapi untuk apa kita ke sana, Tuan?
Lalu Mangi : Pokoknya siapkan saja! Nanti juga kamu akan tahu!
Salampe : Baik tuanku! (menyiapkan bekal dan perlengkapan seperlunya)
Lalu Mangi : Kita harus melapor pada ayah dan bunda, Salampe.
Salampe : Benar Tuanku, apa hamba juga ikut tuan?
Datanglah orang tua Lalu Mangi
Radan Mangi : Kalian sedang mengerjakan apa?
Lalu Mangi : Kami mau ke desa Ai Mual, Ayahanda!
Ibunda : Ada keperluan apa, ananda ke sana?
Lalu Mangi : (berat) Ananda mencari sesuatu, Bunda.
Bunda : Apakah itu Ananda?
Lalu Mangi : (agak berat) Ananda dengar di sana ada gadis cantik. Ananda ingin lihat dari dekat, siapa tahu ananda dapat memilikinya.
Radan Mangi : Bagus Anakku! Sebagai laki-laki, ananda harus berani mengambil resiko.
Ibunda : (takut-takut) Jangan pergi anakku! Ibunda akan kesepian nanti.
Radan Mangi : Biarkan saja dia pergi! Anak laki-laki jangan sampai cengeng, apalagi dia pergi untuk mendapatkan masa depan hatinya, hidupnya, Dinda.
Ibunda : Dinda takut dia akan kenapa-kenapa di sana. Dia kan belum pernah keluar kampung ini dari dulu!
Radan Mangi : Justru itu, sekarang biar dia rasakan bagaimana hidup yang sebenarnya. Kita selama ini terlalu memanjakannya. Jika dia tetap di sini, maka dia akan tidak dewasa, Dinda!
Ibunda : (pada Salampe) kamu harus menemani Lalu Mangi dalam keadaan senang dan susah. Jangan biarkan dia menderita, Salampe!
Salampe : Baik, Bunda. Hamba akan menjaga Lalu Mangi dalam keadaan senang apalagi susah, Bunda!
Radan Mangi : Baiklah kalau begitu, kapan kalian akan berangkat?
Lalu Mangi : Mungkin sekarang, ayahanda!
Radan Mangi : Di Desa Lantung Ai Mual kamu punya paman, namanya Dea Angge. Kamu harus ke sana dan bertemu dengan pamanmu!
Lalu Mangi : Baik Ayahanda! Ayah, bunda, Kami pamit mau berangkat!
Ibunda : Hati-hati anakku!
Lalu Mangi dan Salampe pamit dan menciumi tangan kedua orang tuannya, begitu pula halnya dengan Salampe. Mereka out pentas. Musik intro ”Jari Roro”.
Ibunda : Adinda akan merindukannya, Kanda!
Radan Mangi : Kakanda juga begitu! (fause-teringat) Apa Dinda lupa dengan apa yang terjadi pada kita dahulu! Kakanda juga datang dari jauh untuk mendapatkan Adinda, apakah Adinda lupa?
Ibunda : (teringat--senyum-senyum kecil--tersipu)
Lampu perlahan fade out. Masuk Sair Lagu ”Bantal Mate”. Lampu menyorot penyanyi

ADEGAN TIGA

Pentas menggambarkan rumah Dea Angge. Dea Angge cukup terpandang. Musik lanjutan lagu ”Jari Roro.” lampu menyorot seluruh ruangan rumah Dea Angge. Dea Angge sedang menyerut Jontal sambil menikmati hidangan kopi dan ubi jalar rebus. Musik yang terdengar adalah alunan suara Serune Lolo Pe, plus Garompong dan Kokol. Tak berapa lama kemudian, masuk Lalu Mangi dan Salampe.
Lau Mangi : (dari luar pentas) Assalamu alaikum!
Dea Angge : Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh! Jobe, bukakan pintunya!
Jobe : (bangun--jalan ke pinggir pentas--membuka pintu) Mari, silakan masuk, Tuan!
Lalu Mangi dan Salampe masuk pentas.
Dea Angge : Siapa ya?
Lalu Mangi : (menyalami pamannya) Saya Lalu Mangi, anak Radan Mangi.
Dea Angge : (kaget) Paman hampir tidak mengenalmu. Ternyata kamu sekarang sudah besar. Paman pangling melihatmu, ponakanku!
Lalu Mangi : Ayahanda dan Bunda menitipkan salam untuk pamanda!
Dea Angge : Bagaimana keadaan ayah-bundamu?
Lalu Mangi : Mereka baik-baik saja, Paman. (beberapa saat—fause) Saya mau melihat-lihat kampung ini, apa boleh paman?
Dea Angge : Sangat boleh. Apa paman perlu mengantarmu keliling kampung ini.
Lalu Mangi : (menolak) Oh tidak perlu paman! Saya akan ditemani oleh Salampe saja, paman!
Dea Angge : Baiklah kalau itu keinginanmu, paman harap kalian bisa datang ke kebun paman. Kalian pasti akan menemukan sesuatu yang lain jika sudah berada di sana!
Lalu Mangi : Itu juga bagus paman! Saya akan datang bersama Salampe. Sekarang, sedang musim apa di sana, paman?
Dea Angge : Besok pasti kalian akan tahu!
Lalu Mangi : Paman pakai rahasia-rahasia segala, kalau begitu baiklah paman!
Dea Angge : Sekarang kalian istirahat saja dulu. Jika kalian sudah cukup segar, maka baru boleh ke kebun paman!
Lalu Mangi : Baiklah paman, kami mau istirahat dulu. (Lalu Mangi dan Salampe out pentas)
Dea Angge : (setelah Lalu Mangi dan Salampe keluar—Dea Angge memanggil Jobe) Jobe, besok kamu antar Lalu Mangi dan temannya ke kebun. Suguhkan hasil kebun kita pada mereka!
Jobe : Baik tuanku! Kira-kira berapa lama mereka di sana Tuanku?
Dea Angge : Terserah pada mereka mau sampai berapa lama. Setelah kamu antar, kamu boleh kembali ke rumah, tapi bawakan lagi makan siangnya!
Jobe : Baik Tuanku!
Dea Angge : (memerintah Jobe) Kembali ke tempatmu!
Jobe out pentas. Dea angge masih duduk sendiri, sampai cahaya tidak lagi bersamanya. Musik pun perlahan habis bersama hilangnya cahaya.

ADEGAN EMPAT

Pentas menggambarkan sebuah kebun yang penuh dengan buah-buahan segar. Air mengalir bening. Angin berhembus sepoi. Udara membawa angin surga. Kicauan burung bersahutan menghiasi pagi nan indah. Menambah indah suasana pesta nurani.
Jobe, Lalu Mangi, dan Salampe sudah ada di kebun Dea Angge. Mereka tidak membiarkan keindahan itu hilang begitu saja. Salah seorang di antara mereka memainkan serunai, seorangnya lagi memainkan Genang Aer (gendang Bambu), Lalu Mangi menembangkan Lawas tentang cinta. Mereka masih menyesuaikan nada, biar lawas yang ditembangkan terdengar indah.

Lawas-Lawas:
Beling Kolo Alang Aji
Samung Ling Bubit Lamenta
Ta Nyonde Linang Buya Tat

Buemo Kupenro Desa
Kalis Empang Ko Jarewe
Kututit Sama Parana

Salam Doaku Nan Lalo
Langan Pio Ngibar Subu
Ling Sia To Gama Senda

Semanmo Renduk Basungu
Les Bulan Adamo Aku
Ta Nyonde Tutit Kajangi

Kutunung Petang Sarawi
Mataku Noroa Pendam
Kutotang Pola Biasa
Banyak orang yang berdatangan ke kebun Dea Angge, mereka terpesona mendengar tembang yang dibawakan oleh Lalu Mangi dan teman-temannya. Salah seorang di antara mereka adalah Lala Ila, gadis yang paling cantik di daerah tersebut. Lalu Mangi pun terpesona olehnya. Sambil menembang dia melirik Lala Ila, begitupun Lala Ila.
Lalu Mangi dan Lala Ila melakukan Rabalas Lawas.
Lalu Mangi : Wahai putri nan cantik, siapakah gerangan dirimu? Karena kehadiranmu meruntuhkan tahta hatiku. Ungkapan Hati Lalu Mangi tertuang dalam Lawas ini:
Benru Rawi Ano Desa
Kasawer Diri Panotang
Satenga Gila We Ate
Lala Ila : Nama Dinda, Lala Ila, Tuanku. Matahari belum jelas tempat terbitnya, panasnya sudah menyengat kulit ari hatiku.
Ala E Gadu Rasate
Masa Tubau Batemung
Untung No Rusak Desa Mpat
Lalu Mangi : Kakanda bersyukur pada Sang pencipta yang telah menanamkan benih cinta di lubuk hati umat manusia.
Nomonda Sama Tusukur
Kabau Pendi Ling Sia
Urung Gamana Kungining. Kakanda hampir saja terluka, namun adinda membawakan penawarnya
Lala Ila : Adinda bersedia menjadi penawarnya, namun jangan hanya dijadikan penawar sementara, karena luka di kakanda akan menular ke dinda.
Naq Pendi Lamin Sakendi
Naq Sayang Lamin No Tutu
Ate Belo Asi Niri
Lalu Mangi : Adinda jangan khawatir!
Semanmo Ngasi Dawa E
Rep Kayu Rea Pang Tokal
Laminmo Ngunuk Baringin
Lala Ila : Benarkah demikian Kakanda
Bungir Ungu Sisi Tampar
Pitu Ten Tiup Ling Angin
Pang Kelam Ta Po Kagugir. Bunga yang indah ini akan luruh di pangkuan kakanda.
Lalu Mangi : Jika bunga yang cantik ini luruh di pangkuan kakanda, maka kakanda akan merangkumnya di dalam nahkota kalbu kakanda.
Mapanto Ta Kakupili
Kemang Katiup Ling Angin
Nomo Mudi Samanta To
Kakanda tidak akan membiarkan dia jatuh ke lantai nista, Dinda! Kakanda kan memeliharanya sepanjang nafas melekat di badan kakanda!
Lalu Mangi : Seikat janji telah terpatri. Sejuta harap berbinar di kalbu. Tinggal menunggu di pintu fajar, merekah!
Tenri Kompal Mara Buaq
Tembok Gadu Gita Isi
Haram Badua Rasate
Pamanku akan datang ke rumahmu besok malam dinda!
Lala Ila : (kaget) Untuk apa kakanda?
Lalu Mangi : Besok adinda akan tahu!
Lala Ila : Adinda pulang dulu kakanda!
Lalu Mangi : (mencegah) Jangan lupa beritahu orang tuamu!
Lala Ila : (hanya mengangguk kecil—malu-malu—out pentas)
Lalu Mangi gembira bukan main. Musik pun ikut gembira. Hanya saja lampu harus dimatikan

ADEGAN LIMA

Peristiwa: Tama bakatoan (melamar). Lampu: terfokus. Musik: Gong-Genang
Pihak Pria : Kami adalah utusan dari keluarga Radan Mangi. Datang ingin menyampaikan hajat anaknya, Lalu Mangi! Mudi Ne Kulontak Lawang--Dunung Kubaca Bismilah--Salamat Gama Parana.
Pihak Wanita : Kami merasa bangga dapat disambangi oleh keluarga Radan Mangi, “Kusujud Petang Sarawi--Nonda Len Rua Pangeneng--Engke Sama Tusalamat.”
Pihak Pria : Meskipun sudah banyak desa dan kampung kami lalui, namun kami hanya ingin mampir kemari. Parana Ta Rapang Pio--Ngibar Antero Alam Ta--Saleno Pang Tokal Untung.
Pihak Wanita : Mudah-mudahan sudah ada tempat kerasan. Subhanallah Nanta Pio--Lalo Siup Mole Rawi--Ada Ke Pang Tenri Untung.
Pihak Pria : Kami hanya ingin membawa kabar. Sepertinya kami kerasan di sini. Ngibar Pio Bunga Eja--Tarepa Lembang Tutingi--Lo Badaq Hajat Parana.
Pihak Wanita : Moga saja Anda tidak menyesal mampir kemari. “Pang Kusinta Bunga Eja--Tarepa Kayu Nonda Den--Ba No Ke Dadi Sa Nesal.”
Pihak Pria : Kami mampir kemari, karena rumah ini sungguh sejuk. Kami rasanya ingin menetap. Ngayapmo Nanta Parana--Senap Lawang Bale Sia--Tunas Pamendi Tutingi.
Pihak wanita : Siong Sayaq No Kupendi--Parana Siapo Tunaq--Kubawa Ngining Ning Kaku.
Pihak Pria : Menir Ling Dalam Jambangan--Les Kemang Pitu Ragi Den--Intan Saipo Yasumping.
Pihak Wanita : Tutusi Pitu Ragi Den--Kemang Benrupo Katekar--Saipo Yaroa Sumping.
Pihak Pria : Puti Mara Kemang Menir--Jina Tupina Rasate--Adaq Ke Tanang Sa Rela.
Pihak Wanita : Insya allah kami terima “Sito” Radan Mangi! Cecewe Menir Kusayang--Piliqpo Nyonde Yasumping--Gugirmo Lamin Ke Sia. Kita sudah sepakat, mudah-mudahan Allah SWT meridhoi.
Pihak Wanita : Kami pun berharap demikian. Puti Jontal Kuning Alaq--Samamo Kilo Kugita--Bau Gama Baturit Ling.
Pihak Pria : Benru Toq Ujan Ling Sia--Kukoat Penri Rep Kayu--Sarea Ling Kusanturit.
Pihak Wanita : Lamin Bau Baturit Ling--Mara Mako Ketong Jontal--Motong Sia Ke No Aku. Jika kita sudah mufakat, bagaikan tembakau dengan lintingnya, kita sama-sama seia-sekata.
Pihak Pria : Kusanturit Santung Sia--Rari Kemang Kakusayang--Mana Lusit Yakusumping. Apapun keinginan tuan-tuan, insya Allah kami penuhi.
Pihak Wanita : Puti Mara Jontal Utan--Nongka Pakendek Ling Bola--Goyo Batang Bunga Eja.
Pihak Pria : “Eraqmo Masa Sa Gitaq--Masa No Kubose Sampan--No Dua Ling Tumara Kau.” sekarang sudah semakin malam, sepertinya telah lama kami di sini. Beberapa hari lagi kami kemari.
Pihak Wanita : Duduklah barang sejenak. Kita nikmati suguhan ala kadarnya ini.

ADEGAN ENAM

Perdagangan antara Sumbawa dan Ujung Pandang pada saat itu sangat ramai sekali dan maju, berimbas juga ke Desa Lantung Aimual. Suatu hari datanglah pedagang kain yang bernama Daeng Joge. Lalu Mangi sedang duduk di depan rumah Dea Angge, dia tampak gembira, karena membayangkan akan bersama Lala ila.
Daeng Joge : (masuk) Assalamu alaikum
Lalu Mangi : (menjawab) Waalaikum salam
Daeng Joge : Tuan tampak sangat gembira sekali, sepertinya tuan sedang senang.
Lalu Mangi : Ah, tidak juga.
Daeng Joge : (menawarkan) Minyak wangi ini sangat pantas Tuan kenakan. Minyak wangi ini akan membuat Tuan menjadi perhatian di desa ini.
Lalu Mangi : (melihat dan memperhatikan)
Daeng Joge : Tuan dapat mencobanya, coba Tuan cium! Baunya sungguh wangi, dan pantas jika Tuan yang mengenakan minyak ini!
Lalu Mangi : Berapa harganya?
Daeng Joge : Cuma lima puluh gobang saja Tuan!
Lalu Mangi : Mahal sekali, bagimana kalau 15 gobang saja!
Daeng Joge : Tuan bayar 25 gobang saja
Lalu Mangi : Baiklah, aku ambil satu
Daeng Joge : Tuan, bagaimana jika Tuan mengambil candu ini, Tuan akan kelihatan menjadi laki-laki sejati. Tuan akan tampak lebih laki-laki jika Tuan dengan candu ini!
Lalu Mangi : “Tidak usah Daeng Joge, masih banyak kebutuhan yang harus kusiapkan.”
Daeng Joge : (mengambil candu dan mengisapnya) “Wanita tidak suka kepada laki-laki yang badannya lemah dan tidak bergairah. Coba hisap Lalu, mengenai harganya tidak usah dipikirkan. Bukankah kita sudah berkenalan dan berkawan baik. Terserah Lalu saja, kalau Lalu beruang barulah diselesaikan, artinya bisa dibayar kemudian atau dibayar menyusul.”
Lalu Mangi : (terpengaruh dan mengisap candu itu. Cepat sekali reaksinya. Badannya tampak segar bugar. Pikirannya terang benderang. Lalu Mangi pun tersenyum simpul). Benar katamu! Barang ini dapat membuatku gembira.
Daeng Joge : (memuji—licik) Tuan sekarang semakin tampan. Badan Tuan kekar dan berisi.
Lalu Mangi : Tinggalkan saja di situ. Aku ambil barangmu!
Daeng Joge : Ini saya tinggalkan barangnya Tuan. Simpan baik-baik tuan, nanti terbang dibawa angin. Kalau begitu, saya pamit dulu Tuan. Satu minggu lagi saya kemari Tuan.
Lalu Mangi : Baiklah. (masih menikmati candunya, dia sudah fly)
Lampu perlahan-lahan padam. Musik miris.

ADEGAN TUJUH

Pentas menggambarkan rumah orang tua Lala Ila. Tampak Lala Ila yang cantik. Dia sedang duduk diteras rumahnya. Dia menembang Ulan Petang:.
Kubalangan Panas Ano
Ke Tendung Poto Paruma
Sabar Andi Nonda Jangi

Nonda Jangi Tusempu E
Yabarete Untung Kita
Pang Seli Mudi Era Na

Aku menantikan matahari kan menyinari hidupku
Membawaku mengarungi samudera angkasa
Meniti titian jurang terdalam

Aku kan menggapai nirwana
Aku kan meraih mimpi terindah
Aku kan mencapai tahta tertinggi
Bersamamu!
Mungkinkah!

Larik-larik puisi berseberangan
Kata-kata manis dibentrokkan
Ikatan suci digadaikan
Di dalam cawan madu beracun

Musik sair lagu ”Batari.” lampu menyorot penyanyi.

ADEGAN DELAPAN

Lalu Manggi kecanduan hingga tidak dapat membayar hutangnya pada Daeng Joge;
Setelah sekali mencoba mengisap candu, akhirnya kecanduan. Lalu Mangi tidak menyadari bahwa candu itu dapat merusak tubuh dan kesehatan. Sekarang, Lalu Mangi sudah tidak mampu lagi berdandan yang rapi, badannya kurus kering karena kebiasaan mengisap candu. Karena harga candu mahal, dan Lalu Mangi kekurangan uang, maka Lalu Mangi mempunyai hutang yang bertumpuk pada Daeng Joge. Akibatnya, perkawinan yang direncanakan pun mulai terbengkalai. Biaya perkawinan pun sudah habis terpakai untuk membeli candu.
Lalu Manggi menjadikan Lala Ila sebagai pembayar hutangnya pada Daeng Joge;
Suatu hari, Daeng Joge menagih hutang Lalu MAngi, padahal Lalu Mangi sudah tidak punya uang lagi. Karena pikirannya kacau-balau akhirnya dia mengajukan pacarnya sebagai pembayar hutang, dan Dia pun minta tambahan uang setinggi badan pacarnya kepada Daeng Joge. Begini katanya, “Kuserahkan kekasihku kepadamu, asalkan kamu tunjang lagi dengan uang.” Daeng Joge menerima permintaan Lalu Mangi, karena diam-diam Daeng Joge mengagumi Lala Ila yang cantik itu. Daeng Joge memperkuat pikirannya dengan kembali menanyakan kepastian Lalu Mangi, “Benarkah ucapanmu keluar dari hati yang ikhlas.” Lalu Mangi menjawab dengan cepat “ Ya, yang penting hutangku lunas.” Daeng Joge tersenyum puas karena apa yang diharapkan berhasil.


ADEGAN SEMBILAN

Salampe menjemput Lala Ila untuk diajak ke pantai
Untuk menjalankan akal liciknya, Lalu Mangi menyampaikan pesan kepada Lala Ila untuk mereka melakukan kawin lari (Merariq). Lala Ila pun menyetujui usul Lalu Mangi yang akan mengajaknya kawin Lari (merariq). Dengan hati berat, lala Ila menyetujui usul Lalu Mangi agar mereka kawin lari meskipun bertentangan dengan adat Sumbawa. Lala Ila berkata, “Kawin Lari! Aku takut, sungguh tidak ada keberanianku menempuh jalan yang bertentangan dengan adat itu.” Dia dijemput oleh Salampe dan pergi ke tempat yang telah ditentukan. Di sana dia bertemu dengan Daeng Joge. Dan Daeng Joge sudah menunggu di atas perahunya. Betapa kecewanya Lala Ila waktu mengetahui kenyataan bahwa dia ditipu oleh pacarnya, ternyata dia dijual oleh pacarnya kepada Daeng Joge. Berkatalah Lala Ila kepada Salampe, “ Sungguh baik benar hati Lalumu itu, sampaikan salam terakhirku, “ Meski segala kupasrahkan kepadamu, kalau kanda beralih keyakinan, rela kumati dari hidup menanggung malu. Setelah itu, Lala Ila menangis meronta-ronta. Saat itu turun hujan lebat disertai angin kencang dan alam pun gelap gulita. Akibatnya, perahu layar itu terhempas dan kandas, layarnya robek dan terdampar ke sebuah batu karang.

ADEGAN SEPULUH

Daeng Joge sudah menunggu di atas perahu, Daeng Joge menyampaikan apa yang terjadi. Lala Ila menangis sejadi-jadinya.

ADEGAN SEBELAS

Lalu Mangi pun meninggal dunia karena tidak dapat menanggung beban deritanya.

Label:

Batu Tonjo

Fathi Al-Qadri

Tari (Sendratari) Batu Tonjo termasuk tari kreasi baru. Batu Tonjo merupakan nama sebuah tempat (sungai) di Lingkungan Baleong-Sebok Kelurahan Dalam Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Tari ini diangkat dari sebuah cerita yang hidup di tengah masyarakat Taliwang-Sumbawa Barat.
Dalam cerita "Batu Tonjo" dikisahkan hubungan kasih antara Pangeran Panji dan Kemang Kuning. Kedua pasangan ini berasal dari dua keluarga yang berbeda status sosialnya. Pangeran Panji adalah anak dari pasangan Datu Buin Pamaning dan Lala Kemang Jepun, Datu Taliwang. Kemang Kuning adalah anak seorang janda yang telah ditinggal oleh ayahnya.
Pangeran Panji adalah seorang pemburu andal. Dia dan Puntuk selalu berburu kijang. Namun suatu hari, ketika berburu, Pangeran Panji dan Puntuk tidak menemukan satupun binatang buruannya, bahkan sampai menjelang sore hari, mereka tidak mendapatkan binatang buruan. Pangeran Panji dan Puntuk pun mencari tempat untuk berteduh dan beristirahat beberapa saat. Mereka beristirahat di dekat sungai. Tidak beberapa lama kemudian, mereka samara-samar mendengar orang yang menembang. Beberapa saat, mereka hanyut oleh suasana itu. Dia berpikir, orang yang menembang itu pasti suasana hatinya bersih, suci, dan mulia. Pangeran Panji meminta kepada Puntuk untuk menyelidiki siapa yang sedang menembang di sekitar itu. Beberapa saat lamanya, Puntuk memberi kabar pada Pangeran Panji, bahwa yang sedang menembang itu adalah seorang gadis yang cantik jelita.

Pangeran Panji sangat tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Puntuk tersebut. Pangeran Panji pun mendekati gadis yang dimaksud, serta berkenalan. Rupanya, Pangeran Panji langsung tertarik dengan gadis tersebut, begitupun dengan gadis yang bernama Kemang Kuning tersebut. Mereka berdua menyatakan ketertarikannya dengan "Malangko".
Percintaan Pangeran Panji dan Kemang Kuning tidak berjalan mulus. Ada Lala Motek Kemang dan Datu Buin Pamaning yang menghalanginya. Datu Buin Pamaning berencana mengawinkan Pangeran Panji dengan Lala Motek Kemang, anak raja tetangga. Setelah mendengar hal itu, Pangeran Panji pun pergi dari istana dan menemui Kemang Kuning. Mereka tetap pada tujuan semula untuk membangun mahligai rumah tangga.
Datu Buin Pamaning marah besar pada keputusan Pangeran Panji. Datu Buin Pamaning pun mengejar Pangeran Panji, hingga menemukan Pangeran Panji dan Kemang Kuning di sebuah tempat di dekat sungai. Datu Buin Pamaning pun semakin murka, dia mengutuk anaknya menjadi Batu.
Cerita tersebut diolah dan dikembangkan dalam bentuk Sendratari, dengan bagian-bagian sebagai berikut :
1. Pendahuluan, seluruh alat musik dibunyikan..
2. Pangeran Panji dan Puntuk pergi berburu.
3. Pangeran Panji Berjumpa dengan Kemang Kuning, berpisah, pulang.
4. Kemang Kuning Bercerita pada ibunya.
5. Pangeran di istana dengan orang tuanya, Lala Motek Kemang. Pangeran Panji mau dijodohkan dengan Lala Motek Kemang, Pangeran Panji Menolak dan pergi melarikan diri ke hutan untuk mengejar Kemang Kuning.
6. Datu Buin Pamaning dan rombongan mengejar Pangeran Panji sampai ke hutan.
7. Pangeran Panji bertemu dengan Kemang Kuning dan menceritakan bahwa mereka tidak direstui oleh Datu (raja), mereka bersedih, memadu kasih.
8. Datu Buin Pamaning melihat Pangeran Panji dan Kemang Kuning sedang memadu kasih.
9. Datu Buin Pamaning mengutuk Pangeran Panji dan Kemang Kuning.
10. Penutup.



BAGIAN PERTAMA

Pada zaman dahulu di tana Taliwang, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Datu Buin Pamaning. Raja memiliki seorang istri yang cantik yang bernama Lala Pusuk Mampus, hasil dari perkawinan mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Panji. Pangeran Panji berencana untuk berburu ke Hutan. Raja dan permaisuri mengizinkannya, meskipun agak berat bagi Ratu.
Pangeran Panji berburu dengan Puntuk. Namun hingga waktu senja, mereka belum mendapatkan satu pun binatang buruan. Pangeran dan puntuk pun beristirahat beberapa saat lamanya karena kelelahan.
Waktu itu, sore hari menjelang malam. Pangeran meminta kepada Puntuk untuk mengambil air minum dan untuk membasuh mukanya. Terdengar alunan musik lembut. Sayup-sayup terdengar suara seorang gadis yang tengah menembang dengan suara lirih.
Lawasnya: Lamin Kutotangmo Rara
Kuuleng Lawang Basungu
Aiq Mata Lalo Diri

Nan Malayang Leng Tenga Let
Mara Kukamoan Aiq
Rapang Den Kayumo Aku

Pangeran dan Puntuk mencari sumber suara itu. Mereka celingak-celinguk kesana-kemari. Akhirnya menemukan gadis yang melantunkan tembang tadi. Pangeran pun mendekatinya dan mencoba untuk berkenalan lebih jauh. Musik pengiring orang yang "Basual".
Pangeran : Siapakah Namamu Tuan Putri yang cantik?
K. Kuning : Maafkan hamba, nama hamba Kemang Kuning!
P. Panji : (Balawas)

Lawas Pangeran Panji
Ngibar Pio Cendrawasih
Ngawangmo Satenga Langit
Saleno Mawar Tukemban
Lawas Kemang Kuning
Cecewe Mawar Tukemban
Bakemang Satenga Bae
Naq Bonga Lamin Sayate
Lawas Pangeran Panji
Kanatang Kaku Ko Andi
Kudatang Temung Kajangi
Lema Naq Bola Pang Aku
Lawas Kemang Kuning
Naq Pendi Lamin Sakendi
Naq Sayang Lamin No Tutu
Ate Belo Asi Niri
Mereka pun berpisah dan keluar pentas. Musik berganti melepas kepergian Pangeran Panji, Puntuk, dan Kemang Kuning.





BAGIAN DUA

Ibu Kemang Kuning sedang melakukan aktivitas di rumah (lampu hanya menyoroti aktivitas ibunda Kemang Kuning). Dia menunggu Kemang Kuning dari sungai. Suasana menjelang petang. Dia tidak sabar untuk melihat anaknya kembali. Musik agak gelisah. Tidak berapa lama, Kemang Kuning muncul di pentas. Kemang Kuning agak gembira, musik pun cukup gembira pada saat itu.
Kemang Kuning bercerita tentang pertemuannya dengan Pangeran Panji kepada Ibunya.
K. Kuning : (sumringah) Hamba tadi bertemu dengan Pangeran Panji di sungai, Ibunda. Dia mengajak Ananda berkenalan.
Ibu KK : Apa? Yang benar anakku! Kamu tidak usah bermimpi!
K. Kuning : Benar bunda, bahkan Pangeran mengajak Ananda bertemu lagi di tempat tadi.
Mereka pun menari dengan suka cita, terutama Kemang Kuning. Gerak-gerak mereka dinamis namun tetap lembut. Musik juga selaras dengan gerakan penari.

BAGIAN TIGA

Suasana malam hari. Di istana masih ada DatuPen Jati dan Lala Pusuk Mampus, ayahanda dan ibunda Pangeran Panji. Mereka membicarakan tentang rencana perlawinan antara Pangeran Panji dengan Lala No Gegan. Beberapa saat kemudian, Pangeran Panji tiba di Istana. Pangeran langsung menemui ibunda dan memberitahukan pertemuannya dengan Kemang Kuning. Musik terdengar syahdu.
Datu Buin Pamaning : Aku rasa anak kita sudah cukup besar dan sudah sepantasnya kita nikahkan wahai Istriku!
Lala Pusuk Mampus : Dinda pun berharap demikian wahai Suamiku! Adinda berharap dia segera mendapatkan jodohnya!
Datu Buin Pamaning : Aku akan menjodohkan dengan anak raja tetangga, namanya Lala No Gegan!
Lala Pusuk Mampus : Apa anak kita akan mau menerima perjodohan ini, Wahai Suamiku!
Datu Buin Pamaning : Dia harus menerimanya! Harus!
Lalu masuk Pangeran Panji dan Puntuk. Dia Tampak gembira dan senang sekali. Ayah dan Ibundanya pun tampak senang melihat kegembiraan Pangeran Panji, meskipun mereka sama-sama tidak mengerti apa yang membuat Pangeran Panji Tampak gembira dan senang.
Datu Buin Pamaning : (memanggil) Duduklah anakku! Ayah akan memperkenalkan kamu dengan calon istrimu!
Pangeran Panji : (bingung) Calon Istriku!
Lala Pusuk Mampus : Benar Anakku! Kami akan menikahkanmu….!
Pangeran Panji : Dengan siapa Ibunda?
Datu Buin Pamaning : Sebentar Anakku! (memanggil Lala No Gegan) Masuklah Anakku!
Lala No Gegan masuk dengan senyum sumringah. Musik juga begitu ramai. Kedua orang tua Pangeran Panji kelihatan bangga memperkenalkan Lala No Gegan pada Pangeran Panji. Mereka bangga karena memang Lala No Gegan cantik dan anak raja serta dari keturunan bangsawan. Hanya saja, Pangeran Panji tampak shock dengan kehadiran Lala No Gegan yang tidak disangka-sangkanya itu. Setelah proses perkenalan berlangsung, datu dan istrinya pun meninggalkan Pangeran Panji dan Lala No Gegan. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Pangeran Panji menunjukkan ketidaksenangannya pada Lala No Gegan. Lala No Gegan tetap berusaha mendekatinya, namun Pangeran Panji selalu Menghindarinya. Sampai kemudian, Pangeran Panji Meninggalkan pentas bersama dengan Puntuk. Lala No Gegan bersama dengan dayang-dayangnya melakukan gerakan-gerakan seperti orang yang frustrasi.



BAGIAN EMPAT

Panggung menggambarkan pertemuan antara Pangeran Panji dengan Kemang Kuning di dekat sungai. Mereka tampak asyik bercengkrama. Puntuk pun turut hanyut dengan kebahagiaan mereka. Selang beberapa lama datanglah Datu Buin Pamaning dan rombongan, beliau sangat marah melihat ulah anak kesayangannya. Melihat kedatangan, Datu Buin Pamaning dan rombongannya, maka Pangeran Panji, Kemang Kuning, dan Puntuk kelabakan. Mereka menjadi takut dan ingin lari secepat-cepatnya, namun terlambat! Datu Buin Pamaning telah mengutuk mereka menjadi. Sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama "Batu Tonjo"

The End.

Sambutlah Sendratari dari kecamatan Taliwang dengan judul "Batu Tonjo".

Para Pemain: Pemeran
1. Pangeran Panji
2. Kemang Kuning
3. Datu Buin Pamaning
4. Lala Pusuk Mampus
5. Lala No Gegan
6. Puntuk
7. Ibunda Kemang Kuning
8. Dayang satu
9. Dayang dua
10. Dayang tiga
11. Dayang empat
12. Pengawal Satu
13. Pengawal dua


Lagu Pengiring yang dinyanyikan per bagian dan dengan berbagai bentuk.

O Sarea Rama Peno Do Intan
O Sarea Intan Rama Peno
Sila Panto Tarian Ta Do Intan
Sila Panto Intan Tarian Ta
Tarian Ta Tukanga Jangi Do Intan
Tarian Tu Intan Kanga Jangi
Ten Sapuan Dunung Ana Do Intan
Ten Sapuan Intan Dunung Ana
Adamo Taruna Dadara Do Intan
Adamo Taruna Intan Ke Dadara
Basingin Pangeran Panji Do Intan
Basingin Pangeran Intan Panji
Basingin Darara Kemang Kuning Do Intan
Basingin Dadara Intan Kemang Kuning
Kasamula Aran Batu Tonjo Do Intan
Kasamula Intan Aran Batu Tonjo


Nyanyian Ulan Rawi Ano:

Pina ne Anak tungining
Tili ano gama mega
Lema rep sakiki rara
Rara inaqku sapuan
Nosoda dengan kamikir
Pang aku dua ke leno
Muto beling gama leno
Lema tulung aku mikir
Kau baesi kuasa

Bakelung Pangeran Panji dan Kemang Kuning :
Pangeran Panji
Ngibar Pio Cendrawasih
Ngawangmo Satenga Langit
Saleno Mawar Tukemban

Kemang Kuning
Cecewe Mawar Tukemban
Bakemang Satenga Bae
Naq Bonga Lamin Sayate

Pangeran Panji
Kanatang Kaku Ko Andi
Kudatang Temung Kajangi
Lema Naq Bola Pang Aku

Kemang Kuning
Naq Pendi Lamin Sakendi
Naq Sayang Lamin No Tutu
Ate Belo Asi Niri

Gandang Suling ini dibawakan ketika Pangeran Panji bertekad untuk menikahi Kemang Kuning.
Ajan Sampama Kulalo (Pangeran Panji)
Kutarepa Bale Andi
Beling Ke Rua E Nanta

Lamin Tetapmo Pang Sia (Kemang Kuning)
Bose Sangangkang Let Rea
Naq Beang Bilu Lako Len

Lawas Ketika Datu Buin Pamaning bertemu dengan Pangeran Panji di dekat sungai.

Soret Kau Pang Desa Ta Do Intan
Soret Kau Intan Pang Desa Ta

Barari Rena Rabalik Do Intan
Barari Rena Intan Rabalik

Dadara Turit Taruna Do Intan
Dadara Turit Intan Taruna

Kateri Sisen Ko Aiq Do Intan
Kateri Sisen Intan Ko Aiq

Gama Sisen Dalam Aiq Do Intan
Gama Sisen Intan Dalam Aiq

Yadapat Leng Tau Ngapan Do Intan
Yadapat Leng Intan Tau Ngapan

Katantang Ne Sapolak Do Intan
Katantang Ne Intan Sapolak

Karing Kutuk Dadi Batu Do Intan
Karing Kutuk Intan Dadi Batu

Inak Nangis Bito Ngare Do Intan
Inak Nangis Intan Bito Ngare

Samalik Ling Nomo Bau Do Intan
Samalik Ling Intan Nomo Bau

Jempang Baemo Tutangis Do Intan
Jempang Baemo Intan Tutangis

Label:

Batu Tonjo

Fathi Al-Qadri

Tari (Sendratari) Batu Tonjo termasuk tari kreasi baru. Batu Tonjo merupakan nama sebuah tempat (sungai) di Lingkungan Baleong-Sebok Kelurahan Dalam Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Tari ini diangkat dari sebuah cerita yang hidup di tengah masyarakat Taliwang-Sumbawa Barat.
Dalam cerita "Batu Tonjo" dikisahkan hubungan kasih antara Pangeran Panji dan Kemang Kuning. Kedua pasangan ini berasal dari dua keluarga yang berbeda status sosialnya. Pangeran Panji adalah anak dari pasangan Datu Buin Pamaning dan Lala Kemang Jepun, Datu Taliwang. Kemang Kuning adalah anak seorang janda yang telah ditinggal oleh ayahnya.
Pangeran Panji adalah seorang pemburu andal. Dia dan Puntuk selalu berburu kijang. Namun suatu hari, ketika berburu, Pangeran Panji dan Puntuk tidak menemukan satupun binatang buruannya, bahkan sampai menjelang sore hari, mereka tidak mendapatkan binatang buruan. Pangeran Panji dan Puntuk pun mencari tempat untuk berteduh dan beristirahat beberapa saat. Mereka beristirahat di dekat sungai. Tidak beberapa lama kemudian, mereka samara-samar mendengar orang yang menembang. Beberapa saat, mereka hanyut oleh suasana itu. Dia berpikir, orang yang menembang itu pasti suasana hatinya bersih, suci, dan mulia. Pangeran Panji meminta kepada Puntuk untuk menyelidiki siapa yang sedang menembang di sekitar itu. Beberapa saat lamanya, Puntuk memberi kabar pada Pangeran Panji, bahwa yang sedang menembang itu adalah seorang gadis yang cantik jelita.

Pangeran Panji sangat tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Puntuk tersebut. Pangeran Panji pun mendekati gadis yang dimaksud, serta berkenalan. Rupanya, Pangeran Panji langsung tertarik dengan gadis tersebut, begitupun dengan gadis yang bernama Kemang Kuning tersebut. Mereka berdua menyatakan ketertarikannya dengan "Malangko".
Percintaan Pangeran Panji dan Kemang Kuning tidak berjalan mulus. Ada Lala Motek Kemang dan Datu Buin Pamaning yang menghalanginya. Datu Buin Pamaning berencana mengawinkan Pangeran Panji dengan Lala Motek Kemang, anak raja tetangga. Setelah mendengar hal itu, Pangeran Panji pun pergi dari istana dan menemui Kemang Kuning. Mereka tetap pada tujuan semula untuk membangun mahligai rumah tangga.
Datu Buin Pamaning marah besar pada keputusan Pangeran Panji. Datu Buin Pamaning pun mengejar Pangeran Panji, hingga menemukan Pangeran Panji dan Kemang Kuning di sebuah tempat di dekat sungai. Datu Buin Pamaning pun semakin murka, dia mengutuk anaknya menjadi Batu.
Cerita tersebut diolah dan dikembangkan dalam bentuk Sendratari, dengan bagian-bagian sebagai berikut :
1. Pendahuluan, seluruh alat musik dibunyikan..
2. Pangeran Panji dan Puntuk pergi berburu.
3. Pangeran Panji Berjumpa dengan Kemang Kuning, berpisah, pulang.
4. Kemang Kuning Bercerita pada ibunya.
5. Pangeran di istana dengan orang tuanya, Lala Motek Kemang. Pangeran Panji mau dijodohkan dengan Lala Motek Kemang, Pangeran Panji Menolak dan pergi melarikan diri ke hutan untuk mengejar Kemang Kuning.
6. Datu Buin Pamaning dan rombongan mengejar Pangeran Panji sampai ke hutan.
7. Pangeran Panji bertemu dengan Kemang Kuning dan menceritakan bahwa mereka tidak direstui oleh Datu (raja), mereka bersedih, memadu kasih.
8. Datu Buin Pamaning melihat Pangeran Panji dan Kemang Kuning sedang memadu kasih.
9. Datu Buin Pamaning mengutuk Pangeran Panji dan Kemang Kuning.
10. Penutup.



BAGIAN PERTAMA

Pada zaman dahulu di tana Taliwang, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Datu Buin Pamaning. Raja memiliki seorang istri yang cantik yang bernama Lala Pusuk Mampus, hasil dari perkawinan mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Panji. Pangeran Panji berencana untuk berburu ke Hutan. Raja dan permaisuri mengizinkannya, meskipun agak berat bagi Ratu.
Pangeran Panji berburu dengan Puntuk. Namun hingga waktu senja, mereka belum mendapatkan satu pun binatang buruan. Pangeran dan puntuk pun beristirahat beberapa saat lamanya karena kelelahan.
Waktu itu, sore hari menjelang malam. Pangeran meminta kepada Puntuk untuk mengambil air minum dan untuk membasuh mukanya. Terdengar alunan musik lembut. Sayup-sayup terdengar suara seorang gadis yang tengah menembang dengan suara lirih.
Lawasnya: Lamin Kutotangmo Rara
Kuuleng Lawang Basungu
Aiq Mata Lalo Diri

Nan Malayang Leng Tenga Let
Mara Kukamoan Aiq
Rapang Den Kayumo Aku

Pangeran dan Puntuk mencari sumber suara itu. Mereka celingak-celinguk kesana-kemari. Akhirnya menemukan gadis yang melantunkan tembang tadi. Pangeran pun mendekatinya dan mencoba untuk berkenalan lebih jauh. Musik pengiring orang yang "Basual".
Pangeran : Siapakah Namamu Tuan Putri yang cantik?
K. Kuning : Maafkan hamba, nama hamba Kemang Kuning!
P. Panji : (Balawas)

Lawas Pangeran Panji
Ngibar Pio Cendrawasih
Ngawangmo Satenga Langit
Saleno Mawar Tukemban
Lawas Kemang Kuning
Cecewe Mawar Tukemban
Bakemang Satenga Bae
Naq Bonga Lamin Sayate
Lawas Pangeran Panji
Kanatang Kaku Ko Andi
Kudatang Temung Kajangi
Lema Naq Bola Pang Aku
Lawas Kemang Kuning
Naq Pendi Lamin Sakendi
Naq Sayang Lamin No Tutu
Ate Belo Asi Niri
Mereka pun berpisah dan keluar pentas. Musik berganti melepas kepergian Pangeran Panji, Puntuk, dan Kemang Kuning.





BAGIAN DUA

Ibu Kemang Kuning sedang melakukan aktivitas di rumah (lampu hanya menyoroti aktivitas ibunda Kemang Kuning). Dia menunggu Kemang Kuning dari sungai. Suasana menjelang petang. Dia tidak sabar untuk melihat anaknya kembali. Musik agak gelisah. Tidak berapa lama, Kemang Kuning muncul di pentas. Kemang Kuning agak gembira, musik pun cukup gembira pada saat itu.
Kemang Kuning bercerita tentang pertemuannya dengan Pangeran Panji kepada Ibunya.
K. Kuning : (sumringah) Hamba tadi bertemu dengan Pangeran Panji di sungai, Ibunda. Dia mengajak Ananda berkenalan.
Ibu KK : Apa? Yang benar anakku! Kamu tidak usah bermimpi!
K. Kuning : Benar bunda, bahkan Pangeran mengajak Ananda bertemu lagi di tempat tadi.
Mereka pun menari dengan suka cita, terutama Kemang Kuning. Gerak-gerak mereka dinamis namun tetap lembut. Musik juga selaras dengan gerakan penari.

BAGIAN TIGA

Suasana malam hari. Di istana masih ada DatuPen Jati dan Lala Pusuk Mampus, ayahanda dan ibunda Pangeran Panji. Mereka membicarakan tentang rencana perlawinan antara Pangeran Panji dengan Lala No Gegan. Beberapa saat kemudian, Pangeran Panji tiba di Istana. Pangeran langsung menemui ibunda dan memberitahukan pertemuannya dengan Kemang Kuning. Musik terdengar syahdu.
Datu Buin Pamaning : Aku rasa anak kita sudah cukup besar dan sudah sepantasnya kita nikahkan wahai Istriku!
Lala Pusuk Mampus : Dinda pun berharap demikian wahai Suamiku! Adinda berharap dia segera mendapatkan jodohnya!
Datu Buin Pamaning : Aku akan menjodohkan dengan anak raja tetangga, namanya Lala No Gegan!
Lala Pusuk Mampus : Apa anak kita akan mau menerima perjodohan ini, Wahai Suamiku!
Datu Buin Pamaning : Dia harus menerimanya! Harus!
Lalu masuk Pangeran Panji dan Puntuk. Dia Tampak gembira dan senang sekali. Ayah dan Ibundanya pun tampak senang melihat kegembiraan Pangeran Panji, meskipun mereka sama-sama tidak mengerti apa yang membuat Pangeran Panji Tampak gembira dan senang.
Datu Buin Pamaning : (memanggil) Duduklah anakku! Ayah akan memperkenalkan kamu dengan calon istrimu!
Pangeran Panji : (bingung) Calon Istriku!
Lala Pusuk Mampus : Benar Anakku! Kami akan menikahkanmu….!
Pangeran Panji : Dengan siapa Ibunda?
Datu Buin Pamaning : Sebentar Anakku! (memanggil Lala No Gegan) Masuklah Anakku!
Lala No Gegan masuk dengan senyum sumringah. Musik juga begitu ramai. Kedua orang tua Pangeran Panji kelihatan bangga memperkenalkan Lala No Gegan pada Pangeran Panji. Mereka bangga karena memang Lala No Gegan cantik dan anak raja serta dari keturunan bangsawan. Hanya saja, Pangeran Panji tampak shock dengan kehadiran Lala No Gegan yang tidak disangka-sangkanya itu. Setelah proses perkenalan berlangsung, datu dan istrinya pun meninggalkan Pangeran Panji dan Lala No Gegan. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Pangeran Panji menunjukkan ketidaksenangannya pada Lala No Gegan. Lala No Gegan tetap berusaha mendekatinya, namun Pangeran Panji selalu Menghindarinya. Sampai kemudian, Pangeran Panji Meninggalkan pentas bersama dengan Puntuk. Lala No Gegan bersama dengan dayang-dayangnya melakukan gerakan-gerakan seperti orang yang frustrasi.



BAGIAN EMPAT

Panggung menggambarkan pertemuan antara Pangeran Panji dengan Kemang Kuning di dekat sungai. Mereka tampak asyik bercengkrama. Puntuk pun turut hanyut dengan kebahagiaan mereka. Selang beberapa lama datanglah Datu Buin Pamaning dan rombongan, beliau sangat marah melihat ulah anak kesayangannya. Melihat kedatangan, Datu Buin Pamaning dan rombongannya, maka Pangeran Panji, Kemang Kuning, dan Puntuk kelabakan. Mereka menjadi takut dan ingin lari secepat-cepatnya, namun terlambat! Datu Buin Pamaning telah mengutuk mereka menjadi. Sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama "Batu Tonjo"

The End.

Sambutlah Sendratari dari kecamatan Taliwang dengan judul "Batu Tonjo".

Para Pemain: Pemeran
1. Pangeran Panji
2. Kemang Kuning
3. Datu Buin Pamaning
4. Lala Pusuk Mampus
5. Lala No Gegan
6. Puntuk
7. Ibunda Kemang Kuning
8. Dayang satu
9. Dayang dua
10. Dayang tiga
11. Dayang empat
12. Pengawal Satu
13. Pengawal dua


Lagu Pengiring yang dinyanyikan per bagian dan dengan berbagai bentuk.

O Sarea Rama Peno Do Intan
O Sarea Intan Rama Peno
Sila Panto Tarian Ta Do Intan
Sila Panto Intan Tarian Ta
Tarian Ta Tukanga Jangi Do Intan
Tarian Tu Intan Kanga Jangi
Ten Sapuan Dunung Ana Do Intan
Ten Sapuan Intan Dunung Ana
Adamo Taruna Dadara Do Intan
Adamo Taruna Intan Ke Dadara
Basingin Pangeran Panji Do Intan
Basingin Pangeran Intan Panji
Basingin Darara Kemang Kuning Do Intan
Basingin Dadara Intan Kemang Kuning
Kasamula Aran Batu Tonjo Do Intan
Kasamula Intan Aran Batu Tonjo


Nyanyian Ulan Rawi Ano:

Pina ne Anak tungining
Tili ano gama mega
Lema rep sakiki rara
Rara inaqku sapuan
Nosoda dengan kamikir
Pang aku dua ke leno
Muto beling gama leno
Lema tulung aku mikir
Kau baesi kuasa

Bakelung Pangeran Panji dan Kemang Kuning :
Pangeran Panji
Ngibar Pio Cendrawasih
Ngawangmo Satenga Langit
Saleno Mawar Tukemban

Kemang Kuning
Cecewe Mawar Tukemban
Bakemang Satenga Bae
Naq Bonga Lamin Sayate

Pangeran Panji
Kanatang Kaku Ko Andi
Kudatang Temung Kajangi
Lema Naq Bola Pang Aku

Kemang Kuning
Naq Pendi Lamin Sakendi
Naq Sayang Lamin No Tutu
Ate Belo Asi Niri

Gandang Suling ini dibawakan ketika Pangeran Panji bertekad untuk menikahi Kemang Kuning.
Ajan Sampama Kulalo (Pangeran Panji)
Kutarepa Bale Andi
Beling Ke Rua E Nanta

Lamin Tetapmo Pang Sia (Kemang Kuning)
Bose Sangangkang Let Rea
Naq Beang Bilu Lako Len

Lawas Ketika Datu Buin Pamaning bertemu dengan Pangeran Panji di dekat sungai.

Soret Kau Pang Desa Ta Do Intan
Soret Kau Intan Pang Desa Ta

Barari Rena Rabalik Do Intan
Barari Rena Intan Rabalik

Dadara Turit Taruna Do Intan
Dadara Turit Intan Taruna

Kateri Sisen Ko Aiq Do Intan
Kateri Sisen Intan Ko Aiq

Gama Sisen Dalam Aiq Do Intan
Gama Sisen Intan Dalam Aiq

Yadapat Leng Tau Ngapan Do Intan
Yadapat Leng Intan Tau Ngapan

Katantang Ne Sapolak Do Intan
Katantang Ne Intan Sapolak

Karing Kutuk Dadi Batu Do Intan
Karing Kutuk Intan Dadi Batu

Inak Nangis Bito Ngare Do Intan
Inak Nangis Intan Bito Ngare

Samalik Ling Nomo Bau Do Intan
Samalik Ling Intan Nomo Bau

Jempang Baemo Tutangis Do Intan
Jempang Baemo Intan Tutangis

Label: