Kamis, Mei 14, 2009

PENYUSUNAN SILABUS MUATAN LOKAL BAHASA DAN SASTRA

Oleh: Fathi

Words Key: curriculum, syllabus, mulok, development of syllabus, Ianguage of Samawa
Change of curriculum in Indonesia that happened is now based on by application of Law of No. 22 year 1999 about Autonomy Area which is later; then followed by Regulation of Government of No. 25 year 2002 about Division of Kewenangan between Central Government and of Kewenangan Local Government. Management of education which before now have the character of sentralistik turn into desentralistik. Decentralize management of education induce at change of curriculum which relate at UUSPN No. 20 year 2003 about System Education of National, that is section 3 about Function and Target Education and Section 35 about Standard National Education.
Target of compilation of this syllabus is to yield syllabus product of ML effective BS and can make study of ML BS as part of the transfer of science, skill, Samawa art’s and culture. Compilation of this syllabus is expected can facilitate duty learn in teaching, and also learn student to be more active in teaching-learning BS. Activity of compilation of this syllabus is relied on model of desain compilation of syllabus of Depdiknas 2003a, having steps 1) planning, 2) execution, 3) repair, 4) exploiting, and 5) assessment.

A. Pendahuluan

Penyusunan silabus ML BS dirasa penting, mengingat kurikulum/GBPP ML BS sudah ada sejak 1997. Sekarang, bagaimana proses penyempurnaannya; bagaimana hasil-hasil dari penyempurnaan itu; dan apa dasar-dasar untuk penyempurnaannya. GBPP ML BS 1997 digunakan sebagai sumber utama penyusunan silabus ML BS, sedangkan proses penyusunan silabus digunakan model desain penyusunan silabus Depdiknas (2003a). Desain penyusunan silabus Depdiknas (2003a) digunakan karena desain Depdiknas (2003a) dilengkapi dengan tahapan-tahapan penyusunan silabus dan bagaimana produk yang dihasilkan.

Untuk memperoleh produk silabus yang diinginkan, maka dilakukanlah tahapan-tahapan penyusunan silabus secara sistematis, seperti: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) perbaikan, (4) pemanfaatan, dan (5) penilaian. Penggunaan model desain Depdiknas (2003a) ini didasarkan atas pemikiran bahwa desain tersebut memiliki langkah-langkah yang lengkap, sehingga dapat digunakan untuk merancang pembelajaran, baik untuk keperluan belajar secara individual maupun klasikal. Desain Depdiknas (2003a) dipandang cocok dengan kondisi internal dan sifat bidang studi ML BS. Di samping itu, pengembang dapat mengembangkan produk silabus ML BS dengan menerapkan desain ini.
Berdasarkan tahapan-tahapan pengembang silabus di atas, selanjutnya dihasilkan seperangkat silabus ML BS, dengan langkah-langkah: (1) standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) materi pokok, (4) indikator, (5) pengalaman belajar, (6) penilaian, (7) alokasi waktu, dan (8) sumber/bahan/alat.
Produk silabus yang dihasilkan itu diharapkan dapat dipakai sebagai pedoman atau arah kerja bagi daerah, sekolah, dan guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran ML BS. Produk silabus ML BS dipandang memiliki nilai-nilai filosofis, nilai estetika, maupun nilai moral yang nantinya diharapkan dikuasai siswa dan diharapkan dapat berguna untuk kehidupannya sehari-hari maupun untuk masa depannya.
Pengembangan silabus ML BS ini diharapkan akan dapat mengatasi persoalan belum efektifnya pembelajaran ML BS kelas I SMP. Apalagi sejak berlakunya Kurikulum 2004 ini, di mana setiap daerah diharapkan dapat menyusun silabus mata pelajaran tersendiri yang sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing. Di sisi lain, seperti yang dirumuskan oleh Iskandar (1995) di depan bahwa daerah/sekolah/guru ML BS mengalami kesulitan dalam menyusun silabus ML BS.
Oleh karena itu, penyusunan silabus ML BS ini diharapkan dapat dipakai sebagai salah satu alternatif silabus ML BS Kelas 1 SMP, serta dapat dipakai sebagai salah satu sumber bahan bagi guru dalam upaya mempelajari dan ikut mengembangkan BS, yaitu melalui pembelajaran BS di SMP. Silabus ML BS yang dihasilkan ini diharapkan dapat mengatasi persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran BS. Silabus ML BS yang dihasilkan ini diharapkan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kendala dan hambatan dalam pembelajaran BS.
Penyusunan silabus ML BS akan efektif dalam pelaksanaannya di lapangan, jika silabus ML BS ini didukung oleh buku-buku, jurnal penelitian, laporan penelitian, seperti: pedoman kaidah bahasa baku dalam bentuk Tata Bahasa Baku BS (dalam proses penelitian Balai Bahasa NTB); pembakuan bidang ejaan (dalam proses penelitian Balai Bahasa NTB); penyusunan kamus besar BS (oleh Sumarsono); perencanaan pembelajaran BS; pengembangan materi/bahan pembelajaran BS; aspek kesastraan seperti: Lawas Lawas Beru, Ngumang, Sakeco, Badede, Badiya, lagu-lagu Samawa, Bagesong, Bakilung, Ratib, Langko, Ama Samawa (ungkapan dan peribahasa Samawa), Tutir (cerita atau dongeng), Gesa (dialog dan drama), Panan (pantun).
Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran ML BS selama ini di Kabupaten Sumbawa adalah tidak berhasil seperti yang diharapkan oleh semua pihak di Sumbawa. Banyak sekolah yang pernah mengajarkan ML BS mulai beralih ke ML lain, salah satunya beralih ke bahasa Inggris (khusus SMP), padahal bahasa Inggris tidak dianjurkan untuk dimasukkan menjadi ML oleh Puskur. Banyaknya sekolah yang beralih ke Bahasa Inggris didasarkan pada beberapa pertimbangan: (1) peserta didik yang berhubungan dengan minat dan kebutuhannya; (2) guru yang dari segi kuantitas dan kualitas yang tidak mendukung terutama dalam hal metodologinya, bahkan sebagian besar guru yang mengajarkan ML BS adalah guru Biologi, PPKN, sejarah, dan sangat sedikit yang berkualifikasi guru bahasa; (3) administrasi yang ruwet berhubungan dengan kemampuan tenaga pendukung pembelajran ML BS; (4) sarana/prasarana yang belum siap, dana yang kurang mendukung, dan (5) kurikulum yang berbeda menyulitkan siswa pindahan.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan jenis pengembangan. Adapun tahapan-tahapan yang dilalui, yakni: perencanaan, pelaksanaan, perbaikan, pemanfaatan, dan penilaian. Kegiatan kaji ulang dilakukan pada tahap perbaikan, setelah proses wawancara. Hasil revisi dari kegiatan kaji ulang kemudian dilakukan kegiatan uji coba (pemanfaatan) silabus. Pada kegiatan pemanfaatan yang diamati adalah aktivitas guru dan siswa.

C. Pembahasan

Untuk menghasilkan silabus ML BS, maka dilalui tahapan-tahapan dalam proses penyusunan silabus ML BS dan produk silabus. tahapan-tahapan dalam penyusunan silabus,yakni: perencanaan, pelaksanaan, perbaikan, pemanfaatan, dan penilaian. dan, untuk produk silabus ML BS meliputi: Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pembelajaran, Indikator, Pengalaman Belajar, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber/ Bahan/Alat.
Hasil penilaian rekan sejawat dan rekan guru pada kegiatan kaji ulang, disimpulkan bahwa silabus yang disusun oleh peneliti sudah berkategori “baik”, akan tetapi perlu penambahan dan pengurangan terhadap materi yang tidak perlu. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap Kemampuan Guru Mengelola KBM Berbasis Kompetensi dapat disimpulkan bahwa: (1) perubahan yang telah dibuat dari hasil wawancara dengan rekan sejawat dan guru bidang studi ML BS, dapat dikatakan bahwa silabus yang disusun “sudah efektif”; (2) untuk menentukan apakah silabus itu dapat digunakan oleh guru dalam lingkungan yang sebenarnya, ternyata silabus yang diujicoba tersebut mampu dimaksimalkan oleh guru, sehingga KBM dapat berjalan dengan baik; dan (3) perubahan terhadap silabus yang dilakukan dari hasil kaji ulang rekan sejawat dan guru yang berupa saran, tanggapan, dan masukan maka silabus yang telah direvisi tersebut dapat dikatakan sudah efektif. Dari kegiatan pengamatan yang dilakukan terhadap aktivitas guru dan siswa di kelas, dapat disimpulkan bahwa Guru “mampu” Merancang KBM Berbasis Kompetensi dengan berpedoman pada silabus yang disusun peneliti.
Berdasarkan wawancara dengan subjek penelitian di atas (3 orang rekan sejawat dan 3 orang guru bidang studi ML BS), peneliti mendapatkan masukan, saran, dan tanggapan yang sangat konstruktif. Berdasarkan wawancara dengan subjek penelitian di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk merevisi kembali silabus yang disusun. Data-data yang diperoleh dari kegiatan wawancara tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki buram silabus yang terdahulu. Hal ini dilakukan sehubungan dengan adanya keinginan dan harapan agar silabus ML BS yang disusun dapat dipergunakan pada situasi yang sebenarnya.

Tabel 1. Penyajian Data Tanggapan Rekan Sejawat dan Guru

Komponen yang Dinilai Tanggapan dan Saran
Rekan Sejawat Guru ML BS
Standar Kompetensi Jelas Masih agak umum
Kompetensi Dasar Jelas Jelas
Materi pokok Jelas Jelas
Indikator Jelas Jelas
Pengalaman belajar Jelas Jelas
Penilaian Masih kurang Masih kurang
Alokasi waktu Jelas Pertimbangkan lagi
Sumber/bahan/alat Masih kurang Sulit didapat

Dari data yang disajikan pada tabel 1. di atas, dapat dikemukakan bahwa (1) Standar Kompetensi menurut rekan sejawat sudah jelas, tetapi menurut guru ML BS masih terlalu umum. Dari tanggapan guru, maka Standar Kompetensi akan lebih dispesifikkan lagi; (2) Kompetensi Dasar, Materi Pokok, Indikator, dan Pengalaman Belajar dikatakan oleh semua subjek penelitian sudah jelas; (3) penilaiannya masih kurang, perlu ditambah lagi karena banyak jenis penilaian yang dapat digunakan dalam silabus ML BS ini; (4) alokasi waktu oleh rekan sejawat sudah jelas, tetapi bagi guru perlu dipertimbangkan lagi, sebab ML BS hanya diajarkan dua jam pelajaran per minggu; (5) sumber/bahan/alat perlu ditambah lagi agar pembelajaran ML BS lebih menarik.

Taebe 2. Ikhtisar Perbaikan Menurut Rekan Sejawat dan Guru ML BS

Komponen Masalah Penyempurnaan
Standar Kompetensi Pada beberapa bagian masih mengikuti Kurikulum BI, perlu dispesifikkan lagi dengan pembelajaran ML BS Memperbaiki kembali SK yang lebih khusus untuk pembelajaran ML BS
Kompetensi Dasar Tidak ada Tidak ada
Materi Pokok Materi Lawas/Ama/Panan Beru sudah bagus, tetapi apa sudah dipertimbangkan dengan matang Tidak akan diubah karena pertimbangan untuk lebih memberi keluasaan berkreativitas bagi siswa
Indikator Tidak ada Tidak ada
Pengalaman belajar Tidak ada Tidak ada
Penilaian Jenis penilaian masih kurang, padahal dalam KBK jenis penilaian itu banyak Akan disesuaikan dengan karakteristik yang dinilai
Alokasi Waktu Tidak ada Tidak ada
Sumber/Bahan/Alat Media VCD Player +TV sangat memberatkan, karena tidak semua sekolah memilikinya



Sumber belajar (buku) perlu disebutkan pengarang, penerbit, tahun terbit, di mana diterbitkan Penggunaan media VCD Player +TV tetap dimasukkan, tetapi bagi sekolah yang belum memilikinya dapat dicari alternatif lain, seperti: kaset dan mendatangkan nara sumber ke kelas
Terima kasih

Saran-saran: (1) Pada umumnya silabus yang Saudara susun sudah cukup bagus, namun perlu diperhatikan bahwa silabus yang saudara susun adalah silabus ML BS, untuk itu perlu diperhatikan bahwa jangan sampai Saudara terjebak dengan silabus BI; (2) Beberapa istilah BS yang Saudara gunakan harus diberi penjelasan, sebab tidak semua guru ML BS adalah guru yang berbahasa ibu BS; (3) Materi pokok yang berupa Materi Lawas/Ama/Panan Beru sudah baik, namun perlu Saudara bicarakan lagi dengan orang tua/seniman/budayawan/tokoh masyarakat.
Berdasarkan tabel 2. di atas, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan silabus ML BS yang disusun dengan pola desain Depdiknas (2003a), dapat dikatakan “baik”. Dengan demikian, seperangkat silabus ML BS yang disusun siap diterapkan pada situasi yang sebenarnya. Namun sebelum diterapkan pada situasi yang sebenarnya, silabus ML BS yang disusun ini harus melalui tahapan pemanfaatan (uji coba dan dinilaian dengan evaluasi formatif) dan tahapan penilaian dengan (evaluasi sumatif) dulu.
Selanjutnya, silabus yang telah mengalami kaji ulang akan direvisi. Setelah melalui proses revisi/perbaikan, tanggapan, saran, dan masukan dari subjek penelitian, maka silabus ML BS yang telah mengalami kaji ulang diujicobakan pada kelompok kecil, di satu sekolah.
Dari proses wawancara dengan subjek penelitian, peneliti masih mempertahankan materi dalam silabus ML BS yang disusun, yaitu: Materi Lawas/ Ama/Panan Beru. Materi tersebut dipertahankan karena beberapa pertimbangan: 1) Lawas/Ama/Panan Beru akan dapat menjaga agar jenis sastra ini tetap dapat bertahan; 2) melestarikannya; 3) berkembangnya Lawas/Ama/Panan Beru di kalangan generasi muda, sebab dengan adanya Lawas/Ama/Panan Beru, generasi muda dapat berkreasi dan berimajinasi dengan bahasa sendiri tanpa terpaku pada warisan orang tua; dan 4) menawarkan Lawas/Ama/Panan Beru dalam bentuk seni baru, yaitu dalam penggarapan lagu-lagu yang bebahasa Sumbawa.
Kegiatan pemanfaatan dilakukan karena efektif atau tidaknya silabus yang disusun belum dapat diprediksi dengan tepat sebelum diujicobakan pada situasi yang sebenarnya. Situasi yang sebenarnya maksudnya adalah situasi di mana silabus ML BS ini akan digunakan, yaitu pada proses belajar mengajar di kelas. Data-data pada kegiatan pemantapan ini dijaring melalui kegiatan pengamatan. Pengamatan yang dilakukan adalah pada aktivitas atau interaksi belajar mengajar guru dan siswa di kelas. Aktivitas guru yang diamati adalah kemampuannya mengelola KBM yang efektif dan kemampuan guru dalam merancang KBM yang efektif.
Tabel 3. Pengelolaan KBM yang Efektif oleh Guru

Indikator KBM Standar Ketercapaian Ketercapaian
Pengelolaan tempat belajar Pengelolaan ruang kelas Kelas sudah dikelola dengan baik, belum tampak pemajangan hasil kerja siswa di kelas. Meja kursi dan perabot sekolah tidak diatur. Sumber belajar yang digunakan adalah mangkar yang dibuat guru.
Pemajangan hasil kerja siswa
Pengelolaan meja kursi
Pengaturan perabot sekolah
Sumber belajar
Pengelolaan siswa Individual Pengelolaan siswa dilakukan secara klasikal dan kelompok. Suasana kelas berjalan dengan baik
Berpasangan
Berkelompok
Klasikal
Pengelolaan kegiatan pembelajaran Perencanaan tugas dan alat belajar yang menantang Perencanaan tugas yang menantang belum kelihatan, pemberian umpan balik dan penilaian sudah bagus.
Pemberian umpan balik yang bermakna
Penyediaan program penilaian
Pengelolaan materi pembelajaran Menyiapkan silabus pembelajaran Menggunakan silabus yang disusun peneliti. Untuk ML BS SMP kelas 1 tidak diperkenankan pembelajaran tematik
Pengelolaan pembelajaran tematik
Pengelolaan sumber belajar Sumber daya sekolah Pengelolaan sumber belajar yang berkaitan dengan sumber daya sekolah dan lingkungan masih belum tergarap dengan baik.
Pemaparan sumber daya lingkungan
Pengelolaan strategi dan evaluasi pembelajaran Bagaimana mengaktifkan siswa
Bagaimana mengumpulkan informasi dengan stimulus pertanyaan efektif
Bagaimana mengawasi kerja siswa secara aktif Guru sudah mampu menggunakan strategi pembelajaran berupa; mengaktifkan siswa untuk belajar, membuat pertanyaan yang efektif, dan mengawasi kerja siswa dalam KBM

Berdasarkan tabel 3. di atas, data yang terjaring adalah data dari hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa di kelas, dapat disimpulkan bahwa guru “dapat” mengelola KBM yang efektif dengan menggunakan silabus yang disusun peneliti. Di bawah ini akan dipaparkan hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa dalam KBM yang efektif adalah sebagai berikut: (a) Pengelolaan tempat belajar yang tampak di kelas sudah dikelola dengan baik, belum tampak pemajangan hasil kerja siswa di kelas. Meja kursi dan perabot sekolah tidak diatur. Sumber belajar yang digunakan adalah mangkar yang dibuat guru; (b) Guru mampu mengelola siswa dengan baik, guru melakukan pengelolaan secara klasikal dan kelompok. Suasana kelas berjalan dengan baik; (c) Pengelolaan kegiatan pembelajaran, guru tersebut masih belum mampu merencanakan tugas yang menantang, tetapi guru tersebut mampu memberikan umpan balik dan penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa; (d) Pengelolaan materi pembelajaran yang dilakukan adalah bersumber dari yang terjabarkan dari silabus yang disusun peneliti, sedangkan pembelajaran tematik tidak dilakukan karena untuk SMP kelas 1 tidak dianjurkan pembelajaran tematik; (e) Tampak di sini bahwa guru belum mampu mengelola sumber belajar yang berkaitan dengan sumber daya sekolah dan lingkungan sekitarnya; dan (f) Pengelolaan strategi dan evaluasi pembelajaran Guru sudah mampu menggunakan strategi pembelajaran berupa; mengaktifkan siswa untuk belajar, membuat pertanyaan yang efektif, dan mengawasi kerja siswa dalam KBM.

Tabel 4. Kemampuan Guru Mengelola KBM Berbasis Kompetensi

No. Indikator Kemampuan guru Standar Ketercapaian Keterangan
1. Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran Guru melaksanakan KBM dalam kegiatan yang beragam, misalnya:
• Percobaan
• Diskusi kelompok
• Memecahkan masalah
• Mencari informasi
• Menulis laporan/tutir/lawas
• Berkunjung ke luar kelas Kegiatan yang dilakukan guru adalah diskusi kelompok, memecahkan masalah, dan menulis laporan
2. Guru menggunakan alat Bantu dan sumber belajar yang beragam Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal:
• Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri
• Gambar
• Studi kasus
• Nara sumber
• Lingkungan Guru menggunakan alat Bantu yang dibuat sendiri, yaitu Mangkar untuk keperluan Ngumang
3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan Siswa:
• Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara
• Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri
• Menarik kesimpulan
• Memecahkan masalah
• Menulis laporan/hail karya lain dengan kata-kata sendiri Siswa yang bisa Ngumang diminta untuk memperagakan Ngumang, siswa yang lain memperhatikan. Kemudian mereka diminta untuk menarik kesimpulan dari kegiatan Ngumang itu
4. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan dan tulisan Guru mengaktifkan siswa, melalui kegiatan:
• Diskusi
• Guru mengajukan lebih banyak pertanyaan terbuka
• Hasil karya Siswa diminta untuk memberikan tanggapan terhadap peragaan Ngumang yang dilakukan temannya. Guru mengajukan banyak pertanyaan, begitu juga siswa ke siswa lainnya
5. Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa • Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
• Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut
• Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok diharapakan dapat mewakilkan untuk Ngumang. Anggoata kelompok terdiri atas 5 orang, masing-masing mempunyai tugas tersendiri
6. Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari • Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannnya sendiri
• Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari Guru meminta kepada siswa untuk menceritakan kegiatan Ngumang ini, disesuaikan dengan: pengalamannya, pada saat apa, kapan, persitiwa apa, dan untuk keperluan apa
7. Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus-menerus • Guru memantau kerja siswa
• Guru memberikan umpan balik Guru mengawasi kegiatan siswa dalam KBM dan memberikan umpan balik kepada kelompok jika kelompok itu mengalami kesulitan

Tujuan uji coba pada tahap ini adalah untuk: (a) menentukan keefektifan perubahan yang telah dilaksanakan dari hasil wawancara dengan rekan sejawat dan guru; (b) mengenali masalah-masalah pada saat PBM berlangsung; dan (c) menentukan apakah guru dapat menggunakan silabus yang telah disusun.
Berdasarkan Tabel 4. di atas, yang diamati adalah kemampuan guru dalam mengelola KBM yang Berbasis Kompetensi. Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa: (1) perubahan yang telah dibuat dari hasil wawancara dengan rekan sejawat dan guru bidang studi ML BS, dapat dikatakan bahwa silabus yang disusun “sudah efektif”; (2) untuk menentukan apakah silabus itu dapat digunakan oleh guru dalam lingkungan yang sebenarnya, ternyata silabus yang diujicoba tersebut mampu dimaksimalkan oleh guru, sehingga KBM dapat berjalan dengan baik; dan (3) perubahan terhadap silabus yang dilakukan dari hasil kaji ulang rekan sejawat dan guru yang berupa saran, tanggapan, dan masukan maka silabus yang telah direvisi tersebut dapat dikatakan sudah efektif.
Di bawah ini akan dipaparkan hasil pengamatan terhadap kemampuan guru dalam mengelola KBM yang berbasis kompetensi. Dari hasil ini tampak bahwa guru yang dijadikan subyek penelitian “dapat menterjemahkan silabus dengan baik”. Keterangannya dapat dilihat di bawah ini, yakni. (1) Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan guru adalah mengadakan diskusi kelompok, mencoba untuk memecahkan masalah, dan siswa diminta untuk menulis laporan dari kegiatan Ngumang; (2) Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. Guru menggunakan alat Bantu yang dibuat sendiri, yaitu Mangkar untuk keperluan Ngumang. Mangkar adalah suatu alat yang digunakan oleh orang yang akan Ngumang. Mangkar dibuat sendiri oleh guru, media yang berupa Mangkar diambil dari lingkungan sekolah atau lingkungan siswa; (3) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Siswa yang bisa Ngumang diminta untuk memperagakan Ngumang, siswa yang lain memperhatikan. Kemudian, siswa diminta untuk mendiskusikan kegiatan Ngumang yang diperagakan temannya dengan anggota kelompoknya masing-masing. Dari diskusi yang dilakukan dengan anggota kelompoknya, maka siswa diminta untuk menyimpulkan kegiatan Ngumang itu; (4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri maupun simpulan kelompoknya, secara lisan dan tulisan. Siswa menyampaikan tanggapan kelompoknya, di samping itu ada siswa yang menanggapi dengan pendapatnya sendiri. Guru mengajukan banyak pertanyaan, begitu juga siswa ke siswa lainnya; (5) Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok diharapakan dapat mewakilkan satu orang untuk Ngumang. Anggota kelompok terdiri atas 5 orang, masing-masing mempunyai tugas tersendiri; (6) Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari. Guru meminta kepada siswa (bersama kelompoknya) untuk menceritakan kegiatan Ngumang ini dalam bentuk lisan dan tulisan, disesuaikan dengan: pengalamannya, pada saat apa, kapan, peristiwa apa, dan untuk keperluan apa; dan (7) Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus-menerus. Guru mengawasi kegiatan siswa dalam KBM dan memberikan umpan balik kepada kelompok jika kelompok itu mengalami kesulitan.
Dari Hasil pengamatan pada tahap pemanfaatan silabus yang disusun peneliti dapat dikatakan bahwa berdasarkan Tabel 4. di atas dapat disimpulkan bahwa Guru “mampu” Merancang KBM Berbasis Kompetensi dengan berpedoman pada silabus yang disusun peneliti.

D. Penutup

Produk yang dihasilkan dalam proses pengembangan ini adalah seperangkat silabus ML BS yang terdiri atas: Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pembelajaran, Indikator, Pengalaman Belajar, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber/Bahan/Alat. Tersusunnya produk silabus ML BS ini ditempuh melalui tahapan-tahapan dan proses kerja yang sistematik, mulai dari: perencanaan, pelaksanaan, perbaikan, pemanfaatan, dan penilaian.

DAFTAR RUJUKAN

Alwi, Hasan dan Dendy Sugono, 2003a. Politik Bahasa: Rumusan Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa-Depdiknas.

-------, 2003b (eds). Politik Bahasa: Risalah Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa-Depdiknas.

Dakir, 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas, 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Jakarta: Balai Bahasa.

-------, 2002a. Daftar Kemampuan Dasar SMU. Jakrta: Dirjen Dikdasmen.

-------, 2002b. Pengembangan Program Pendidikan Berwawasan Khusus SMU. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

-------, 2002c. Pedoman Pelaksanaan Uji Coba Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Dikdasmen.

-------, 2002d. Mekanisme Sosialisasi Kurikulum dan Sistem Pengujian Berbasis Kompetensi. Jakarta: Dikdasmen.

-------, 2002e. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Balitbang Puskur.

-------, 2003a. Meknisme dan Prosedur Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003b. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003c. Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah Lanjutan Pertama: Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003d. Kurikulum Berbasis Kompetensi SLTP: Pembelajaran Tuntas. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003e. Pengelolaan Kurikulum di Tingkat Sekolah. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003f. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003g. Model Pelatihan dan Pengembangan Silabus. Jakarta: Direktorat PLP.

-------, 2003h. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat PLP.

Dirawat, dkk, 1997. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Muatan Lokal Bahasa Samawa SLTP. Sumbawa Besar: Tim Penyusun GBPP ML BS.

Direktorat PLP, 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas

-------, 2003. Pembelajaran Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik, Oemar. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Cet Ke-3. Jakarta: Bumi Pustaka.
-------, 2002. Perencanaan Pengajaran: Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Iskandar, Syaifuddin 1994. Pola Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal untuk Pendidikan Dasar. Malang: IKIP Malang.

-------, 1995. Pengembangan Paket Pembelajaran Seni Kelingking Daerah Sumbawa sebagai Alternatif Bahan Muatan Lokal untuk Kelas IV Sekolah Dasar (tesis). Malang: IKIP Malang.

Mahsun, 1996. Ke Arah Pengembangan Materi Muatan Lokal Bahasa Sasak yang Berdimensi Ketunggalikan dan Pengajarannya. Makalah pada Bulan Apresiasi Budaya III NTB, Mataram 29 Juli 1996.

-------, 2003. “Bahasa Daerah sebagai Sarana Peningkatan Pemahaman Kondisi Kebhinekaan dalam Ketunggalikaan Masyarakat Indonesia: ke Arah Pemikiran dalam Mereposisi Fungsi Bahasa Daerah.” Dalam Alwi dan Sugono 2003 (eds). Risalah Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.

-------, (tt). Bahasa Samawa Standar. Perumusan Bahasa Samawa Standar. Sumbawa: Depdikbud Sumbawa.

Maleong, Lexy J, 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Ditjen Dikti, P2PLTK.

Moeliono, Anton, 1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.

Puskur, 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Kebijaksanaan Umum Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Rusyana, Yus, 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Gamitan Kurikulum Berbasis Kompetensi SLTP: Pembelajaran Tuntas. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Singaraja 28 Oktober 2002.

Sumarsono, “Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Daerah: Kasus dalam Bahasa Bali.” Dalam MLI, Penyelidikan Bahasa dan Perkembangan Wawasannya II. Jakarta: MLI 1993 (hal.419-426).

Suparman, Atwi. 1991. Menyusun Garis-Garis Besar Program Pengajaran untuk Bahan Ajar. Malang: IKIP Malang.

Tirtarahardja, Umar dan La Sulo. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Kerjasama dengan Rineka Cipta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

1 komentar:

Mas Roy mengatakan...

Ajak dita jari anggota tim ne....siap dalam penyusunan bukunya bos