Selasa, Agustus 18, 2009

SUMBAWA BARAT DALAM PENCARIAN IDENTITAS BUDAYA

Oleh: Fathi Yusuf

Sumbawa Barat merupakan sebuah kabupaten baru di Nusa Tenggara Barat. Kehadiran Sumbawa Barat di percaturan politik Indonesia baru sekitar empat tahun. Sumbawa Barat yang selama ini menjadi underbow Kabupaten Sumbawa, memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan Kabupaten Sumbawa.


A. Penduduk Sumbawa Barat
Sumbawa yang kita kenal sekarang, sebenarnya lahir dari beberapa komunitas budaya yang berasal dari beberapa suku di Indonesia. Kedatangan beberapa kelompok etnis dan kemudian membuat tempat kediamannya masing-masing, karena terdesak oleh suasana dan keadaan akhirnya juga berpindah-pindah ke tempat-tempat lain (tersebar). Tempat-tempat ini akhirnya menjadi tanah ulayat yang dalam bahasa Sumbawa disebut "Lar Lamat". Kelompok-kelompok ini dipimpin oleh Nyaka. Bagi siapa saja yang ingin menetap di tanah Pernyaka, diterima dan kemudian diberikan persamaan hak dan kedudukan, namun dengan syarat bahwa mereka harus tunduk pada ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi tiap-tiap kawula (rakyat) dari tanah Pernyaka itu, yaitu iuran bakti kepada kerajaan sebagai imbalannya (Lalu Manca, 1984:22).
Penduduk Sumbawa bagian Barat pulau Sumbawa saat itu, selain berasal dari kelompok etnis-kelompok etnis dari Indonesia juga berasal dari luar Indonesia, seperti dari Vietnam Selatan dan Mongolia. Beberapa informasi yang berkembang di wilayah paling barat pulau Sumbawa, tepatnya di Sekongkang bahwa nama-nama seperti: Sekongkang (Sekongkyang), Tongo (Tongkyang), Tatar (Tentara dari Tartar); Singa' (tentara dari Kerajaan Singasari). Kedatangan mereka kala itu, karena dikejar oleh pasukan Majapahit dan akhirnya mendarat di beberapa tempat di wilayah paling barat pulau Sumbawa.
Kehadiran beberapa kelompok suku bangsa di Tana Samawa (Sumbawa) diperkirakan sejak tahun 1292-1293, bermula dari keruntuhan kerajaan Singasari dan terusirnya pasukan Kerajaan Jengis Khan di pulau Jawa. Kekalahan Kerajaan Singasari oleh Kerajaan Kediri mengakibatkan pasukan-pasukan elit kerajaan meninggalkan daerahnya, dan mendarat di pulau Sumbawa, tepatnya di Singa' sekarang ini. Begitu pula halnya dengan tentara Jengis Khan yang melarikan diri dari kejaran pasukan kerajaan Majapahit, serta malu untuk kembali ke negerinya, mereka juga mendarat di pulau Sumbawa, tepatnya di Tatar (asal kata Tartar).
Penduduk Taliwang sekarang yang mendiami pusat Kabupaten Sumbawa Barat, pada awalnya didominasi oleh etnis Bugis-Makasar, bahkan raja-raja Taliwang saat itu berasal dari keturunan Bugis-Makasar, namun seiring perkembangan politik di Taliwang, dominasi keturunan Bugis-Makasar pun tidak bertahan lama. Keturunan Bugis (Daeng) diganti oleh keturunan raja Banjar, yang bergelar Pangeran atau Gusti. Bahkan dapat dikatakan bahwa keturunan raja Banjar lah yang meneruskan sultan-sultan Sumbawa sampai ke dinasti terakhir.

B. Karakteristik Sumbawa Barat
a) Sejarah
Sumbawa Barat tepatnya Taliwang sudah ada jauh sebelum munculnya Kesultanan Sumbawa. Kerajaan Taliwang hadir di percaturan politik nusantara bersamaa dengan munculnya kerajaan Majapahit. Kerajaan Taliwang merupakan kerajaan yang besar di wilayah Sumbawa dan Nusa Tenggara. Kerajaan Taliwang yang besar dapat dilihat dari keterangan yang diberikan oleh Mpu Prapanca melalui kitab Negara Kertagama. Pada kitab ini, Kerajaan Taliwang termaktub pada Syair Ke-14 dan 15. Kerajaan Taliwang termasuk ke dalam susunan Daerah yang Delapan yang meliputi bagian Kelima, dengan susunan Di Sebelah Timur Jawa, seluruh Nusa Tenggara, sebagai berikut: 1) Bali, 2) Bedulu, 3) Lwa Gajah (Lilowan, Negara), 4) Gurun (Nusa Penida), 5) Taliwang (Sumbawa), 6) Dompo (Sumbawa), 7) Sapi (Sumbawa), 8) Sanghyang Api (Gunung Api, Sangeang), 9) Bima, 10) Seram, 11) Hutan (Sumbawa), 12) Kedali (Buru), 13) Gurun (Gorong), 14) Lombok Mira (Lombok Barat), 15) Saksak (Lombok Timur), 16) Sumba, dan 17) Timor (dalam Yamin, 2001:60-64).
Berdasarkan susunan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Kerajaan Taliwang merupakan kerajaan besar yang ada di Sumbawa saat itu, bahkan jika dibandingkan dengan kerajaan lain yang ada di Nusa Tenggara Barat. Keterangan yang lebih jelas tentang informasi ini, pembaca diharapkan dapat membaca buku “Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara” karangan Muhammad Yamin (2001).
Sejarah Sumbawa mencatat bahwa dominasi Sultan Sumbawa yang keturunan Bugis-Makasar digantikan oleh sultan dari keturunan raja Banjar. Permulaan keturunan raja Banjar menjadi sultan Sumbawa yaitu, Gusti Mesir Abdurrahman yang bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II (1762-1765). Beliau diangkat menjadi sultan kedelapan Sumbawa karena beliau telah memperistrikan cucunda dari Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I (1702-1723), Datu Bonto Raja.
Perhatikan diagram berikut:


























Berdasarkan diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa raja dari keturunan Banjar mendominasi Sultan Sumbawa. Meskipun juga, Datu Seran dan anaknya sempat menjadi Sultan Sumbawa, namun dilanjutkan kembali oleh dinasti Gusti Mesir Abdurrahman sampai kesultanan di Sumbawa berakhir.
b) Seni dan Budaya

Sumbawa terkenal akan keseniannya. Sumbawa memiliki beragam jenis kesenian. Kesenian Sumbawa terkenal sebagai seni vokalis. Kesenian Sumbawa dikatakan sebagai seni vokalis karena hampir semua kesenian Sumbawa dibawakan dalam wujud vokal. Adapun beberapa jenis Vokal Sumbawa sebagai berikut, seperti: Lawas Ulan (Ulan Siup, Ulan Jaga, Ulan Ntek Ano, Ulan Tangari Ano, Ulan rawi Ano, Ulan Petang, Ulan Tenga Petang); Badede; Badiya; Malangko, Bakilung; Bagesong; Balawas; Rabalas Lawas; Gandang Nuja dan Gandang Suling; Bakembong; Sakeco; Ratob; Saketa. Kesemua jenis seni vokalis Sumbawa ini, bersumber dari lawas, sedangkan tiap jenis musik vokalis diiringi oleh alat musik yang berbeda.
Selain seni vokalis di atas, di Sumbawa ditemukan jenis seni lain, seperti: pembuatan male; permainan rakyat, seperti: Mencak/Kuntao; Nyampo/Barapan (Kebo dan Ayam); Maen Jaran; Badempa; Rapanca; Nganyang; Maen Bai; Barampok. Permainan anak-anak, seperti: Maen Gore; Bakadendeng; Saling Ponggo; Batarki; Maen Iwak; Maen Ayam; Maen Ular; Rapanan, dll. Upacara adat, seperti: Pangantan; Entek Bale; Turun Berang; Sadeka Lang, Satamat Kur'an; Satama Lamung; Bakurus; Biso Tian; Akikah; Munut Nabi.
Di Sumbawa Barat juga dikenal beberapa alat musik. Alat musik di Sumbawa Barat tidak jauh berbeda dengan alat musik Sumbawa. Alat musik Sumbawa yang dapat ditemukan sekarang adalah: Gong; Genang; serunai biasa dan serunai lolo pe; genang aer/genang gitik; gesong; kelong; botol; gero kebo; rabana ode dan rabana rango. Kesemua jenis alat musik ini tidak jauh berbeda dengan alat musik Sumbawa, namun dilihat dari bentuk dan ukurannya, maka akan tampak perbedaannya.
Semua jenis seni dan budaya Sumbawa Barat ini harus segera diinventarisasi dan didokumentasikan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, sebab keberadaannya saat ini sudah mulai berkurang dan hampir punah. Penginventarisasian dan pendokumentasian potensi seni-budaya ini tidak saja melalui tulisan dan foto saja, melainkan juga dalam hal penggalian, pengadaan, pengenalan, dan pelestariannya.
Pekan Apresiasi Budaya merupakan momentum yang tepat untuk pengenalan dan pelestarian seni budaya Sumbawa Barat ini, namun sangat disayangkan, Pekan Apresiasi Budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat baru sekadar menyentuh kulit luarnya saja, belum dapat menyentuh hal yang esensial dari keberadaan seni dan budaya Sumbawa Barat itu sendiri. Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi dinas Parbudhubtel Sumbawa Barat. Kehadiran dua bidang di dinas tersebut, yaitu bidang Pariwisata dan Kebudayaan hanya sekadar formalitas belaka, karena kehadiran kedua bidang ini hanya memperebutkan program apa yang dapat diloloskan dalam Dask (mudah-mudahan tidak berbau ekonomi).
Dinas Parbudhubtel seharusnya menjadi lumbung informasi kebudayaan Sumbawa Barat. Mereka seharusnya membuat peta persebaran informasi kebudayaan Sumbawa Barat, agar nanti ketika dibutuhkan, mereka tidak kelimpungan mencari data-data yang dibutuhkan. Ada lagi, pembangunan dalam bentuk fisik, seperti: berugaq belum terlalu esensial, apalagi berugaq yang dibangun tidak mencerminkan ke-Sumbawa-an, melainkan Lombok.
Bupati Sumbawa Barat (KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM.), pada Acara Pembukaan Pekan Apresiasi Budaya Sumbawa Barat (07-12-2007), di eks Lapangan Sepak Bola Taliwang, berharap agar masyarakat Sumbawa Barat harus memiliki kekhasan budaya tersendiri yang bisa jadi berbeda dengan budaya yang pernah ada, asalkan ada kesepakatan di antara pakar budaya Sumbawa Barat. Ini patut disambut dengan cepat agar nanti dapat kita rumuskan identitas dengan baik.

c) Bahasa

Bahasa menunjukkan bangsa. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kehadiran sebuah bahasa merupakan cerminan identitas kebangsaan seseorang. Bahasa Sumbawa merupakan bahasa yang digunakan oleh Tau Samawa (baca: orang Sumbawa). Jadi dapat dikatakan bahwa Bahasa Sumbawa merupakan identitas Tau Samawa. Bahasa Sumbawa (Basa Samawa) merupakan bahasa yang dipakai sebagai bahasa perhubungan intramasyarakat Sumbawa.
Basa daerah (Samawa) berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah; (2) lambang identitas daerah; (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah; (4) sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia, serta (5) pendukung sastra daerah dan dan sastra Indonesia (Politik Bahasa Nasional, 2003).
Basa Samawa mempunyai Variasi dialek, yaitu Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar, Bahasa Sumbawa Dialek Taliwang, Bahasa Sumbawa Dialek Jereweh, dan Bahasa Sumbawa Dialek Tongo (Mahsun, 1995). Keempat variasi dialek bahasa Sumbawa ini dapat kita temukan di Kabupaten Sumbawa Barat. Variasi dialek bahasa Sumbawa ini merupakan kekayaan bagi Sumbawa Barat. Meskipun demikian, masih banyak yang meragukan kekayaan ini. Banyak pendapat mengatakan bahwa variasi dialek di Sumbawa Barat akan menyulitkan pemahaman berbahasa dan bersastra di Sumbawa Barat. Pendapat ini benar, karena sampai sekarang pun, kita kesulitan untuk memasukkan variasi dialek lain ke dalam sastra Sumbawa, selain Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar.
Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kehadiran variasi dialek lain dalam sastra Sumbawa, selain dialek Sumbawa Besar dapat dilakukan jika sudah dibiasakan dari sekarang. Hanya saja, variasi-variasi dialek lain itu masih terdengar janggal dipendengaran kita. Meskipun demikian, kehadiran lagu-lagu yang berbahasa Taliwang--sedikit demi sedikit mulai menghapus "kejanggalan-kejanggalan rasa bahasa" itu. Tiada gading yang tak retak, pepatah ini dapat disematkan pada seniman-seniman Sumbawa Barat yang mulai membebaskan diri dari "Kejanggalan Rasa Bahasa" itu.

Naskah Rabalas Lawas

Adegan Pertama
Ada tiga orang yang duduk di atas pentas. Satu orang kelihatan lagi susah. Dua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka duduk-duduk di sebuah tempat (Bale Ronda).
Gent : Mek, Apa rungan desa darat kita to ta. Kabau kemas kamoyang ke.
Meki : Alhamdulillah balong-balongsi sanak salaki. Berumu mole kalis me gina kau.
Gent : Geras kaku leq pang desa tau sanak salaki. Do beda lampa to ke dunung desa darat kita to ta.
Uce : ba me ole-ole gina sanak salaki gera.
Meki : Adasi pang bale.
Gent : Keras mantap nya ta to ampa. HP bae nopoda tau patik pang desa ta.
Meki : naq mo beling menan, no tusemal yamenong ling tau-tau e. lamin kugita desa kita to, boemo berubah sarea na. karang juru kita baemo boemo bersih, nomonda tugita bale ade bolang ai ko lapan. Terang kayabeang penyuluhan ling tenaga medis rua na.
Uce : Iyasi sanak salaki e. saruntung jemat ada beang tupenyuluhan ling tenaga kesehatan ko desa kita. Ampo desa kita to kam ada Jumantara na.
Meki : Apa ade basingin Jumantara nan, Uce?
Uce : Jumantara nan singkatan Juru Pemantau Kesehatan Masyarakat.
Meki : Program kalis Bupati ke atawa dinas Kesehatan deta?
Gent : Pokok na program pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk yasanyaman kita rakyat na.


Meki : Nyamanmo masyarakat Sumbawa barat lamin balangan program ta.
Gent : We nanta sanak salaki, nan bua nag eras leq tubilen desa. Kita tau Sumbawa Barat ne lamin turamido ko puskesmas ne nosi tumayar apa to kamada program barobat gratis ke pendidikan gratis jangka SMA.
Meki : Balangansi ke?
Uce : I, kakuda nya ta. Kam tubada kalis tone masih bae bakatoan.

Adegan Dua
Masuk beberapa orang cewek. Laki-laki tadi diam sebentar. Mereka menggodanya dengan berbagai tingkahnya masing-masing.
Gent : Waina aku na gera tode ana pe.
Uce : Tetu nu, nonda jangka gera na pe. Sate kukenalan ta aku, gent!
Gent : Musepan aku nokusate kenalan ke. Cuma me mo luk cara tukenalan ke tode ana gina?
Meki : Ta luk cara na, (Meki mendekati cewek-cewek itu) Assalamualaikum…
Gina : Waalaikum salam..
Meki : Sate kukenal ke kau adi gera, bau ke! Namaku Meki
Gina : Bausi. Nama kaji Gina.
Meki : Namamu seindah rembulan lo adi cantik.
Gina : (malu-malu) Kakanda membuat adinda terbang ke dalam lebo saja kayaknya. Tapi saying nonda kaletek kaji.
Gent : Baraning nya Meki an ape. Kututitmo gaya Meki aku. Masa kukalah ke nya!
Uce : Hebat Meki pe. Aku satesi kunurit lamin menan.
Gent : Gita aku dunung. Sate kuparak nya lamung tenga. Gita aku ta, Uce. Ngaro sama sanenge balong lawas ta adi balong.
Rea niatku pe andi
Sate kuriam ke kau
Sanapat gama ling jangi
Gina : Geras maras seda lawas diri nan pe. Beangmo aku baing balas. Ngaromo sia pasang kuping balong-balong.
Saratis pangeneng sia
Saribu pamelang kaku
Ampinku sanak salaki
Uce : Na menang adi balong, kita ta rua ada jodoh men kugita. Kusamantap karoaku kalis lawas ta.
Nan buaq kuampin kau
Ngemungmo layer kugita
Nanpo ku toq nonda jangi
Meluk tu Jake, yas ke!
Gent : Cocok benar, sudamo salaq lamun bero!
Ogek : Akumo baing sajelas Lawas nan. Bekapo yato rasa.
Oneng : Samantap benar Ogek!
Ogek : Sudamo no!
Nomonda jangi kaka e
Barete untung ke sia
Silamo mikir lako len
Meki : Waina Aku, keras nene kekal pe. Tapi, Ahmad Meki pastinya pantang mundur wahai gadis penunduk hatiku, no kumirik mara ling lawas na.
: No gampang intan no gampang
Kulalo mikir untung len
Kau dengan sopo sipat
Yeyen : Yasepan tuapa ke beling ke kita sopo sipat. Nosi mungkin yasopo sipat tu kaka e men nopoka tu to isi ate tau. Lawas bae ada ade beling menta.
Ala mana sopo sipat
Lamin no to beme rara
Yabakal ngining parana
Gent : Lamin ke aku adi balong nosi mungkin yamungining. Rea ate kakamu ke kau adi balong!
Luk rua kau pe andi
Sosong lalomo no aku
Na kena adasi jangi
Gina : Yaroa ke ada jangi tu kita kaka e. apa lamin tuturit bae tau salaki roa salaq dadi na. ngaromo sia menong deta kaka e!
Kungalelas kusatutu
Kena sia roa bola
Penosi tau karing ling (na kena hanya manis di mulut, tapi busuk di hati sia).
Uce : hati kaka tulus dan suci pada adinda. Jangan tanamkan prasangka buruk di hati adinda yang jelita ini. Aku tetap mantap memilihmu uamh tergambar pang dalam lawas ta!
Lamin kaling kakuseles
Nosi gampang no yatutu
Kupina ila’ parana
Ogek : Ngaromo sia dengar lawas Saya kaka’ balong!
Parana kaku ta kemang
Tekar tepat angkang sia
No urung tusaling sayang
Barema: Luk maras tusaling sayang
Mara baringin ketong tal
Saling keal nyaman ate

Me tanang no nyaman ate
Lamin hajat tudapatmo
Sama tukemas barema
Mereka keluar panggung.

Lawas Kesehatan

Lamin Parana No Nyaman
Tanya Medomu Kusempet
Kakalis Bale Puskesmas

Apapo Ampo Mubuya
Medo Ada Pang Puskesmas
Men Musakit Lema Mido

Naq Katakit Muramido
Pang Kita Boe Garatis
Bidan Dokter Kewa Kemas

Men Sia Ibu Batian
Datangmo Periksa Diri
Inak Anak Bakalako

Men Bakalako Sarea
Nyaman Ate Balong Pikir
KSB Lema Bariri

Pariri Lema Bariri
Yajatu Kewa Ikhlas
Salamat Sarea Tau

O Sarea Rama Peno
Naq Panto Tulung Gamana
Matubangun Desa Kita

Maris Gama Saling Pendi
Mara Tima Ketong Tali
Kalembu Tusaling Gayong

Pariri Lema Bariri
Nan Moto Tau KSB
Dadi Jiwa Pembangunan

Mara Leng Ama Tuloka
Donia Pang Tunanam
Leng Aherat Pang Tupata

Mabau Lema Bariri
Boat Donia Ke Aherat
Yajatu Sama Rua

PARIWISATA KSB JILID 2

Tukarante Mudi Maklum Kena Tukhilaf--Sia Maaf Tugamana—Bata Kuaran Ko Sia—Alam Indah Indonesia—Pameang Tuhan Ko Kita—Nomonda Ade Iyanonda—Lengkap Ke Sarea Riri—Tubua Dadi Balong—Tupancing Pariwisata—Tumisal Sumbawa Barat—Lamin Tu To Jatu Jampang—Ling Sai No Bakalako—Macocok Mara Ling Moto--Pariri Lema Bariri.

Tuete Kaling Samula—Mara Ling Kami Duata—Tupintar Cante Nosoka—Onang Tu To Lenge Tenrang—Sila Tukaji Tuamal—Ling Kita Rakyat KSB—Lamin Sate Lema Maju—Berjuang No Putes Asa—Lema Dapat De Tusate—Ramanik Nene Intan E—Tuhan No Akan Baroba—Laminmo Kita Sendiri—Baing Roba Nasib Kita----Itau Mara Ling Pantun—Berakit-Rakit Ke Hulu—Berenang-Renang Ke Tepian—Bersakit-Sakit Dahulu—Bersenang-Senang Kemudian—Mana Ling Benru-Benru Ta—Katudadi Kabupaten—Lamin Tekad Tumembaja—Ibarat Tulayar Sampan—Tubarema Dayung Bose—Nan Po Ola Dapat Finish.


Tutusi Kami Duata—Tupintar Cante Nosoka—Onang Ate Tutu Bangga—Dadi Rakyat Indonesia—Tutelas Pang Alam Merdeka—Buminya Luas Terbentang—Hijau Rano Subur Makmur—Lautan Luas Menghampar—Pulaunya Deret Bersambung—Kaling Sabang Ko Maroke—Gunungnya Tinggi Menjulang—Nonda Leng Pasak Donia—Itulah Indonesia Tanah Airku Tercinta—Tanda Tutu Kami Cinta—Sai Tusate Menjajah—Kamikan Siap Membela—Dadi Pahlawan Negara—Rela Mati Bela Bangsa.

Bua Tubeling Menta Luk—Siong Tupuji Tupariwisata—Kanyong Leng Bangsa Sendiri—Konang Nyatasi Tugita—Nonda Bola Tuintan E—Pantainya Indah Menawan—Gelombang Laut Membiru—Ombak Putih Berkejaran—Menghempas Ke Tepi Pantai—Seakan Berdendang Ria—Sambut Parawisatawan—Mengucap Selamat Datang—Wellcome To Indonesia—Mari-Mari Saudaraku—Bapakku Selamat Datang.

Alam Indah Kaya Raya—Hawa Sejuk Segar Harum—Dadi Katokal Wisata—Tuete Kaling Samula—Danau Toba Pang Sumatra—Rumah Gadang Ranah Minang—Monas Ancol Pang Jakarta—Kebun Raya Kota Bogor—Tenris Candi Borobudur—Pantai Kuta Pulau Bali—Senggigi Lombok Mataram—No Kasa Lamin Tuitung—Sapeno Sate Gita—Sendang Rungan Kapo Gegan—Kupendi Onang Kukeme—Tunonda Ece Nyongongmo.

Banansi Luk Na Sia E. Kita Tusumbawa Barat, No Turoa Ketinggalan—Asal Mares Saling Sadu—Sedikit Demi Sedikit—E Lema Menjadi Bukit.--Bato Pang Dalam Turintis—Subhanallah Pantai Maluk—Batomo Dadi Wisata—Nonda Dengan Tusantaning—Imung Ampo Pang Jelenga—Basingin Pantai Bungalow—Maras Umak Saling Gulung—Katokal Maen Salancar--Poto Batu Tampar Belo—Maras Katokal Tusantai—Tuada Manjeng Kemasmo—Panto Tanja Poto Balat—Intan Palang Ke Tusyukur—Sai Tu No To Bersyukur—Dadi Bote Bau Balang--Yang Dikandung Kececeran--Ompa Nomonda Kalako.
Na Putis Niat Tugama. Barema Sarea Kita—Matuanjong KSB Ta--Lengkap Ke Seni Daerah--Sadi Nyang Lamin Pang Jawa Terkenal Tari Srimpi—Maras Iring Leng Gamelan--Tari Saman Pang Sumatera, Tari Pendet Pulau Bali--Pang Lombok Singin Bakaya Gendang Beleq Ke Kacimol—Banansi Luk Tusia E—Kita Tusumbawa Barat No Turoa Ketinggalan--Tarian Dadara Nesek—Ratib Bagenang Sakeco—Imung Ampo Gendang Sadra—Lamin Mares Tukembangkan—Bakal Maju KSB Ta—Lamin Maju KSB Ta—Tuarap Datang Malancong Wisatawan Kaling Luar—Beling Tamu Tunanta Na—Kele To Po Kami Datang Ado E Lako KSB—Ate Nonda Sate Mole—Desa Yarena Leng Ate.

Bano Ke Sate Turasa Ling Kita Rakyat KSB—Senap Semu Nyaman Nyawe—Intan Palang Ke Tusyukur—Ada Nyumon Pang Sakongkang—Tambang Emas Aset Daerah—Barungan Mihill Po Ampo—Konang Masi Tubatari—Datang Lema Gamana—Tubau Rasa Leng Kita—Banansi Luk Na Sia E—Kita Tutelu Camat Ta—Ete Kaling Benrang Rea—Tenris Camat Berang Ene—Jangkamo Camat Taliwang—Ao E Bapak Bupati—Pangeneng Kami Ko Sia—Lamin Ada Luk Sapikir—Lembo Taliwang Kita Ta—Sapina Katokal Wisata—Lamin Ada Luk Sabau—Do Intan Nasoka Lupa—Sapina Kareta Gantung—Imung Ampo Kolam Renang—Nonda Dua Pang Entebe—Yadadi Aset Daerah—Lema Maju KSB Ta—Lamin Maju KSB Ta—Nomonda Rakyat De Ngining—Mura Era Nyaman Nyawe.

Ta Lawas Kami Sia E—E Lako Sumbawa Barat—Kaling Ke Ada Koasa—Kuanjong Kau Intan E--Kukener Mara Lalayang—Beang Tingi Mara Bulan—Ada Kalako Kubonga—Apa Tuju Tusia E—Tudadi Rakyat KSB—Lamin Satenga Karoa—Nosoda Ade Tudapat—Lamin Ate Tusamanta—Apapo Ade Yadadi—Tupendi Nanta Gamana—E Bapa Bupati, Tekad Kenras Jiwa Baja—Sate Yaangkat KSB—Matubau Turet Dengan—Nomo Sampai Ketinggalan—Ta Lawas Bapak Bupati—Ajan Kudadi Bendungan—Biru Ai Lempo Batang—Kupina Lapan Parana—Lema Subur Rakyat Tani—Nyaman Sia Ke No Aku.

Pencipta : Asis Musa

PATIQ PALAJAR

Tabe Gama Bapak Guru. Tenris Lako Rama Peno. Nopoka Belo Karante. Dunungsi Tueneng Maaf. Mungkin Pang Karante Kami. Ada De Nongka Sepaham. Pangeneng Kami Ko Sia. Lamin Balong Silaq Ete. Lamin Lenge Silaq Bolang. Kami Ta Siong Ahli Na. Karante Ta Sumbang Saran. Kena Roa Dadi Balong. Tepung Dange Katutunung. Balong Sanenge Nas Dunung.

O Sarea Anak Dadi. Muda Mudi Tunas Bangsa. Semanmo Masi Mutokal. Toqmo Ano Tangang Olat. Lagamo Lema Barangkat. Mubuya Ilmu Berguna. Dadi Bekalmu Era Na. Masa Kamo Mu Dewasa. Murajin Naq Ke Musagaq. Lema Dapat De Muhajat. Dapat Ling Waya Mulokaq. Nanpo Waya Yamumikir. Nesal Nomonda Kalako.


Kendung Muroa Sakola. Naq Sala-Sala Gamana. Tutet Ke Jangka Mudapat. Lema Ompa Bakalako. Pendi Nanta Inaq Bapaq. Nuntang Otak Sanyonyong Ne. Bakerja Buya Wang Tali. Petang Ano Paning Sio. Rabuyaq Nonda Sina Te. Ling Sai Beling No Ompa. Kenang Nongka Yaparasa. Beling Ate Na Sia E. Mana No Lalo Samamung. Aring Kakualo Mantar. Mana No Kubeli Lamung. Asal Anakku Ta Pintar. Kubangga Dadi Juara.

Penomo Rapang Tugitaq. Nyonde No Patiq Palajar. Sioq Inaq Keloq Bapaq. Basakola Nosi Kaq Man. Ngaji Ngetan Nosi Roa. Pakendek Bae Bakendek. Boat Nosoda Matentu. Konang Gaya Nonda Sama. Saluar Kala Direktur. No Tusangka Bujang Nganggur. Saruntung Ano Ngaluyur. Bawa Honda Mara Guntur. Nonda Len Pesawat Tempur. Lantar Tembok Kepala Hancur. Akhir Masuk Liang Kubur.

Kupendi Jangi Nantana. Ada Sopo Cewek Cantik. Basakola Senen Hemis. Ramada Ko Inaq Bapaq. Runtung Ano Lo Sakola. Ngeneng Pipes Nonda Itung. Kowa Yabayar SPP. Padahal Lalo Malancong. Nongka Yapiker Kasudaq. Bosan Lalo Labu Balat. Rapina Ko Poto Batu. Dapat Ling Masa Ujian. Nganga Ngoam Pusing Otak. Kadua Nomor Yajawab. Kosong Lembaran Jawaban

Bata Kurancik Sakeco—A La E Nanta Gantuna--Bata Kukemang Sakeco--No Kurancik Kurang Maras--Tambah Rancik Tambah Maras--Ina Bapak Dawam… Mi Pata Balo Tolo… Tamo Rancik.
Nile Merah Sudah Pasti. Nyata-Nyata Tidak Lulus. Karing Nangis Bito Ngare. Mara Tukailang Kolak. Apa Kaling Bote Tempang. Nya Rua Karing No Dapat. Tunongka Pati Palajar. Olas Lolar Nonda Jangi

SAKECO PAMUJI

Pamuji Tentu Ko Nene--Nosi Bau Tukamaing--Ada Pang Kita Bajele--Manasi Ada Pang Kita--Sanompo Anung Tupuji--Naq Ke Sangka No Kamilin--Patitsi Mana Kamilin--Ada Pang Kita Panunas--Balong Paham No Mangaku--Kapeno Ulin Mangaku--Kanyong Leng Ada Kangere--Nomo Totang Katutunas--Tanda Tentu No Mangaku--Kasasang Buya Tupuji--Ilang Pikir Leng Katipu

Tipu Alis Ko Kalenge--No Tupato Datang Salaq--Ingat Ke Jaga Pangangan--Lamin Salaqmo Pangangan--Boat Nomonda Kalako--Balong Tuingat Naq Rusak--Rusak Amal Leng Pangangan--Mara Riya Buya Puji--Goyo Imung Leng Takabur--Takabur Ada Pang Ate--Selin Diri Ke Ne Peno--Nomo Totang Kakahina--Nomo Totang Kakahina--Asal Ada Kapang Lesik--Telas Iringsi Leng Mate.


Lamin Totangsi Kahina--Takabur Ilang Pang Ate--Amal Tenrang Nomo Rusak--Takabur Tentu Pang Nene--Na Ke Asi Yamuturit--Amal Rusak No Kalako--Mana Peno Amal Tenrang--Naq Muangan Tamo Kena--Nansi Ujub Gaok Diri--Gaok Diri Peno Amal--Siong Kita Baeng Boat--Angan Salaq Paham Kasar--Sai Tugaok Ko Amal--Mara Au Bao Batu--Kaseang Bawa Leng Angin--Amal Tenrang Na No Boat--Samata Junyung Kasuka--Nanpo Roa Bakalako

Kalako Amal Katenrang--Lamin Lepas Ke Binasa--No Tubau Kira-Kira--Amal Tenrang Nan Ibadat--Paboat Aji Ko Nene--Naq Ke Asi Musamogang--Me Po Olaq Tusamogang--Pasuru Nene Samanta--Tukurang Takitpo Capa--Jira Capa Ko Pamelang--Musanturitmo Leng Ate--Angan Ko Sakit Kasuda--Sakit Eraq Pang Aherat--Petang Kea No Tupikir--Nanpo Olaq Datang Takit--Lamin Nomonda Pamikir--Nomo Takit Ko Pakesal--Kasasang Tipu Leng Setan

Pakesal Nene Ko Ulin--Nosi Mara Leng Donia--Pang Aheratpo Tudapat--Beru Masamo Tudapat--Nanpo Masa Yatunesal--Parana Karoa Diri--Sesal Dosa Kamuboat--Naq Ke Angan Murabalik--Muntu Ajal No Po Datang--Nasal Rena Eneng Ampin--Aku Diri Rango Salaq--Nanpo Lamin Yatarima--Yatarimasi Leng Nene--Lamin Benar Tutu Ate--Ampo Ajal Nopo Datang--Lamin Sekatmo Ke Ajal--Tobat Nomonda Kalako--Balangan Rena Ke Susa.

Palangan Sekatmo Dapat--Ate Susa Nonda Senang--Nanpo Masa Yatupikir--Mumikir Leng Dalam Sekat--Nomonda Anung Tudapat--Kabekas Lalai Pang Dunung--Lalai Lupa Ko Aherat--Belo Angan Ko Donia--Umir Rena Sajan Kurang--Kurang Umir No Tupikir--Tukalulu Ling Rasate--Nanmo Bakal Yatunesal--Kalulu Balong Ibadat--Musalepas Ke Karana--Naq Murugi No Kalako

Mumikir Balong Ke Ate--Palajar Lako Aherat--Mumenong Rena Mukenang--Ingat Ke Balong Mukenang--Karoa Anung Mubaca--Nanpo Roa Bakalako--Paham Kurang No Baguru--Ramenong Nonda Leng Ate--Me Po Tanang Yatudapat--Kalenge Kurang Baguru--Nomonda Dapat Palajar--Goyo Takitpo Yaada--Sepan Diri Ulin Takit--Pamelang Rena Yaboat--Kateman Ulin No Nyadu.

Boat Pamelang No Putis--Rango Arap Ko Pamendi--Angan Lenge No Kalako--Kalako Apapo Tudapat--Tuarap Rena Tukewa--Iman Kurang Taket Nonda--Putis Arap Ko Pamendi--Yasarusakmo Parana--Kasasang Mara Iblis--Arap Ke Rango Pangampin--Selis Diri Kapang Dosa--Muntu Masi Bakalako--Dosa Peno Kamu Boat--Taket Ke Lema Tuboat--Naq Mucapa Ko Pakesal--Muboat Ke Mana Kasakit--Sarea Jenis Pasuru--Lema Senang Pang Aherat.

Kasenang Desa Akherat--Kaleng Matemo Tudapat--Sateris Kubir Barimung--Kamate Ulin Ibadat--Mengas Kuping Nyaman Ate--Nyawa Lalo No Marasa--Mengas Kuping Leng Pamuji--Nyaman Ate Leng Panyayang--Kameri Angkang Aherat--Pasuru Datang Les Repan--Rame Rena Ke Mulia--Mulia Rua Parenta--Parenta Nene Ko Ulin--Datang Talang Ke Bulaeng--Yasangisi Sabe Ijo--Parenta Nene Ko Nyawa--Yasakomong Sabe Ijo--Seri Rupa Mampis Mamung.

Nyawa Entek Lako Aras--Bilin Tubuh Pang Katokal--Rame Iring Leng Malekat--Malekat Rame Baralu--Saruntung Langit Batari--Masing-Masing Ke Pamuji--Malekat Bawa Pamendi--Bateris Datang Baralu--Ramada Rua Kasuka--Sarea Ulin Tusuka--Lepasmo Kewa Kasakit--Senang No Putis Barimung--Kaleng Mate Tamo Terap--Kubir Mengas Sapar Terap--Tokal Guar Dengan Rame--Terap Ada Meleng Ate--Sebarang Ragi Pakakan--Amal Terang Naq Saneja.

Sumber : Lawas Pamuji
Lirik : Nde Asis Musa
Penyanyi : Asis Musa dan Haji Mareng

NABI MUHAMMAD SAW

Assalamualaikum--Tabe Gama Dea Guru--Tenris Ko Ustad Kiyai--Pangeneng Kami Ko Sia--Nopoka Belo Karante. Dunungsi Tueneng Maaf. Mungkin Pang Karante Kami. Ada De Nongka Sepaham--Lamin Balong Silaq Ete. Lamin Lenge Silaq Bolang. Kami Ta Siong Ahli Na. Karante Ta Pasamada. Kena Roa Dadi Balong. Tepung Dange Katutunung. Balong Sanenge Nas Dunung.


Turin Tuan Kalis Arab--Aku Ling Tuan Pendeta--Kayu Ta E Pina Dengan--Kaling Sapuan Saperap--Sateris Tone To Ita--Kau Baesi Kuangan--Kabarungan Tuan Arab--Badagang Dadi Pabuya--Pero Karang Pero Desa--Pero Karang Ntek Olat--Saung Nyawa Langan Gurun--Kenang Onta Tutit Jangi--Nabi Muhammad Muntu Nan--Yabawa Barang Khadijah--Yadengan Ning Maesara--Muhammad Kita Ta Sia E--Tetu Rajin We Rabuya—Lo Badagang Ke Rombongan.

Parakmo Yatama Desa--Ada Pandeta Nasrani--Kaleng Doqmo Yapanto--Saipo Rua Tode To--Ada Mega Tawa Payung--Me Lako Kena Turitsi--Kabatulan Leng Ano Nan--Pang Bale Tau Tusepan--Sadia Jamu Tamue--Leng Luar Desa Itaq Nan--Barenang Satoar Sio--Karasa Ompa Balangan--Benru Gita Leng Pendeta--Tau Ngantang Turin Boko--Basuru Lalo Pasila

Tama Ko Bale Diri Nan--Muhammad Bilin Ntok Barang--Pendeta To Bakatoan--Boemo Ke Dengan Sia--Ada Niatku Ano Ta--Sate Kujamu Tamue--Karing Nyamung Maesara--Adasi Masi Satau--Kami Suru Jaga Barang--Malalo Kelekmo Dunung--Datang Baremin Lako Ta--Beang Tulin Tawa Gentan--Muhammada Datang Lako Nan--Tama Ko Bale Diri Nan--Tokal Basai Ke Dengan

BULAN RAMADAN

Beru dapetmo Ramadan
Salebe gawe balong tugawe
Tarawe saterus ke witir

Tetu gera tode dadara
Keang ruyung ke jilbab
Balangan angkang masigut


Mentu dapetmo Ramadan
Tubolang salebe kalenge
Kangila angkang kalenge

Tukamaras bulan Ramadan
Beru dapet tenga petang
Tubadarup karing saer

Beru dapet waya saer
Peno tudatang bategang
Isabeling salebe belik
Tetu maras bulan Ramadan

Ciptaan: Fathi Yusuf

TAMPAR POTO BATU

Ente Sampan Kubasampan
Bilun Tampar Poto Batu
Angkang Gili Antat Ila’

Kusampan Bangka Bongkang
Buya Taman Empa Rure
Kusajari Tampal Pusu


Empa Taman Empa Rure
Empat Saman Lampa Ngare
Lempat Let Belo Kurare

Kungare Ngere Kungare
Mubilunku Majun Pare
Poto Batu Ning No Rere

Poto Batu Ning No Rere
Mutan Aku Nonya Riri
Karing Bilunku Marari’

MANANG PANG SYAWAL

Sabulan Kulangan Ramadan
Senra Niri Tu Ko Nene
Tuboat Sarea Ibadat
Tusangedo Sarea Kalenge
Tusamaras Ke Tarawih Witir

Kulangan Berkah Ramadan
Ta Mo Kumanang Pang Syawal
Kuangan Dosa Ke Ila Parana
Ampen Ke Maaf Sarea Sia
Jadi Parentas Ate Ta


Malalo Kau Pangkeling Ate
Kusempit Langan Sinyal
Dadi Lili Batang Parana
Tusanapat Minal Aidil Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir Batin

Pangeneng Kami Ko Sia
Yasatemung Ke Ramadan
Nonda Dua Bulan Ramadan
Tuboat Sarea Kabalong
Jura Nan, Na Gama Tukalupa Ibadat

From SMS Syawal 1428 H/12-10-2007


RAMAKA (NILIK)

RAMAKA (NILIK)

Kungamit Lumar Kaling To
Yaramaka Jangi Kita
Nan Lampa Bilu Palangan

Manisang Baso Kubeang
Ling Ngering Marade Hajat
Lampa Ta Jangka Kamanis


Kusesal Sia Kaka E
Belo Yasadu Ramaka
Jangi Kita Nene Baeng

Umak Rea Samelar Bangka
Karempas Ampas Ko Gili
Nuya Saipo Yaaro

Tumutar Kita Samanta
Nada Jangi Pang Katelas
Ko Nene-Si Tusera

Bakilung 2

Assalamualaikum Papi
Kusamula Ke Bismillah
Salamat Gama Parana

Andi Tusapene Jangi Pa
Tada Kubuya Ni Genti
Ke Kau Aku Nomongka

Bano Kaka Babenomo Pi
Tusamanta Tu No Rela
Sama Turabut Untung Len


Kuasa Kau We Ari Pa
Kupepet Majunti Soret
Tode No Tetu Bantal Ling

Sia Nonyamo Kutele Pi
Sia Kalupa Ke Rua
Rusak Ate Ning Panotang

Kunangus Ning Dalam Ate Pa
Nonya Rungan Salam Doa
Na Putus Lampa Biasa

Lamun Kuangan Sajarah Pi
Kaling Manus Sia Balong
Talo Jangi Tunomonya

Kabagianti Biasa Pa
Joq Desa Tusalam Doa
No Polak Dalam Tusayang

Kusayang Sia Mara Me Pi
No Lebur Totang Ning Ate
Kulepas Bosan Sadino

Beru Datang Bangka Sia Pa
Ateku Kemas Katawa
Tetu Gama Marus Pedi

Penomo Pio Kangibar Pi
No Kuube Batarepa
Kutari Jangi Ke Sia

Tetu Maras Saling Sayang Papi
Bunga Eja Ntang Deng Bale
Lusut Tusaling Pajele

Wasalam Kueneng Pamit Papi
Ko Sia Salebe Sia
Senap Semu Ning Panotang

Taliwang, 25 Agustus 2007


Kemang Komal

Tabe Gama Ne Ramenong--Tenris Ko Sarea Sia--Nopoka Belo Karante--Dunungsi Tueneng Maaf--Mungkin Pang Karante Kami--Ada De Nongka Sejalan--Pangeneng Kami Ko Sia--Bangkalong Jangka Banete--Lamin Balong Sila Ete--Arak Renge Pina Genang--Lamin Lenge Na Sakenang--Maklum Kami Tudua Ta--Umur Tusetahun Jagung--Masi Pang Tahap Balajar--Karante Ta Sumbang Saran--Kena Roa Dadi Balong--Baso Resut Katutunung--Balong Sanenge Nas Dunung.


Kemang Komal Sideng Sia--Angan Kupina Rasate--Rela Ke Ajan Tukemban--Kemang Komal Katukemban--Tuanggop Tanja Makassar--Tuarap Sia Yasumping--Kaling Punamo Kunganyang--Sateris Sampar Baringin--Kugantong Panatal Mateq--Batulan Kewa Pamanyang--Balong Batempa Ke Singin--Patetsi Kubantal Mate--Ajan Sampama Kumungka--Satemung Den Eta Bangi--Sarepi Mate Ning Badiq--Ajan Sampama Katingka--Satemung Kita ning Jangi--Rela Ke Atemu Yandi--Kuroasi Turit Sia--Tupasang Jangipo Dunung--Pamendi Naqmo Sayate--Kupendi Nongka Sayate--Parana No Kugantuna--Kubela Mana Ke Nyawa
Lamin Tutu Kayu Budi--Pina Palemar Parai--Baso Tembu Ning Lambayung--Lamin Tutu Sia Pendi--Mara Tima Ketong Tali--Kalembu Tusaling Gayong--Apapo Ampo Mususa--Lamin Aku Dadi Benteng--Tumate Saling Pajele--Lamin Olosi Panotang--Mana No Rampak Bajango--Pamendi Ada Pang Sia--Sendang Muntu Angan Ate--Datang Senap Ko Parana--Goyo Ning Masa Tukompal--Mayang Bua Orong Benrang--Kuanggop Tanja Salimpat--Bakeal Untung Gamana
Bata Kurancik Sakeco--Bata Kukemang Sakeco—Nonda Rancik Nonda Maras—Tamba Rancik Tamba Maras—Ina Dawa Mi Pata Balo Tolo—Tamo Rancik
Bua Kudatang Lako Ta—Nomonda Anung Kubentan—Pamukil Beduk Baesi—Beling Kalis Sawai--Manasi Pamukil Beduk—Siong Kenang Lebak Bangkang—Hanya Kenang Mubajajuk—Yasamung Ling Tu Salaki--Balong Atemu Pe Andi—Kapanising Nabi Adam—Panising Nan Kukamata—Noroa Kala De Sawai--Mana Jangka Ronde Sapulu—Yaku KO We Sadino. Yasamungsi kabali--Parana Yandi Jalan Tol—Mulus Nyaman Tancap Gas—Tingka Nonda Lampu Mira—Nonda Baing Basangela—Menansi Ling Tusawai--Na Sia Karotek Lalo—Balong Sia Tancap Gas--kena Roa Mate Ndalam—Atawa Knalpot Rapenat.

Mega Mpuk

Teri Niatku Sapuan
Ning Tenga Berang Baleong
Kau Gama Tangko Rara

Lagi Banang Dalam Omo
Kapo Tumpan Akal Terang
Goyo Kaumat Muhammad


Lamun Karasate Ate
Kajolo Rebaq Ke Aku
Sipak Ke Katulang Jangi

Subhanallah Bila Tano
Pitu Ten Bilun Ning Uyen
No Baliq Lamun Ke Aku

Mana Ntang Dalam Mega Mpuk
Kusempetti Salam Doa
Santung Ko Parana Kau

Taliwang 6 Juni 2007

Sa Totang Sumpa

O Inak O Bapa..Sanak Sabai Salaki
Anu Jari Pamarenta
Ngaro Balong Sia Jatu
Desa Darat We Dita Sa

Kaisadu Sia Ning Rakyat
Ngaro Urus Gawe Desa
Ngaro Gama Sa Pariri
So Nya Singun Tau Balong


Balong Tego Sapalangan
Naqmo Gama Sala Jampang
Ampo Na Uba Ko Lenge
Sa katakut Laknat Ning Sumpa

Lamin No Adil Marenta
Entek Olet Bau Ning Ble
Tama Aiq Bau Ning Balo
Lamun Munyempung Mubosok

Lamun Musonap Mupongong
Ya'mo Pupu Soro Kau
Ya'mo Teming Tampo Ling Umak
Laknat Ning Qor'an Telu Pulu Juz

Taliwang, 25 Agustus 2007

Pangonceng Tailing

Naq Kanyaman Ka Loq Tambang
Penomo Rapang Tutele
Desa Rusak Nonya Riri

Silaq Tele Sidoarjo
Lebok Panas Tapul Desa
Sai Kabupaten Katelar


Soqti Rua Teluk Buyat
Empa Mate Ular Lepang
Tau Peno Laga Ning Kepar
Lalo Nuntut Isampelut

Berkoti Tana Papua
Olet Bue Bajari Let
Bale Para Balong Bara

Meluk Tambang Desa Dita
Olet Panyanyang Bajari Let
Tua Kayu Bagentan Ke Besi
Let Rango Pangonceng Tailing

8-10 Juli 2007

Kupakeke

Uyon Teri Rai Ano
Caya Bulan Kakatapul
Rena Angun Gering Bure

Gering Bure Sentek Lonong
Kubakomong Api Ukuk
Totang Jangi Lalo Ngene


We Ari Tariku Ngene
Mana Uyon Pani Desa
No Kuroa Dang Rasate

Niat Kaka Mara Gili
No Mirik Mana Ke Umak
Tetap Kantap Enti Jangi

Batari Ari Baranti
Anti Kaka Lo Bajango
Mana Kopek Kupakeke

18 Mei 2007

Lamung Tangkong

Ano Ahad Uras Subu
Kubajarup Aiq Ulu
Ente Kapia Kusembayang

Muntu Sude Kusembayang
Lema-Lema Kubilun Lar
Kukamata Lari Pagi


Kubarari Ahad Subu
Tetu Geras Kukamata
Maklum Sate Cuci Mata

Tetu Maras Cuci Mata
Dadara Balamung Tangkong
Saluar Penepo Ampo
No Tupate Tama Mengas

Mentu Roa Mengas Desa
Bue Muli Lalo Rombeng
Buya Saluar Ke Lamung
Ikarasang Na Bagaya

19 Mei 2007

Gegur Ngelempar

Ngelempar Gasal Ning Tamper
Rasang Ola Leoq Berang
Mana Kunyempung Ko Gili

Keleti Gingang Mutele
Parana Kemang Durian
Mana Gegur Pili Token


Salam Doa Kubaemo
Ko Tau Pajele Mega
Kungantung Berka Ke Aku

Mana Mereaq Dalap Suq
Rua No Kuube Siluq
Lema No Itan Ning Tau

Nongkati Geras Kulingu
No Bau Pedi Ning Sia
Kele Kutan Sarat Momat

17 Mei 2007

Rop Tukadua

Ari Puti Mara Kaca
Seangti Diq Mara Rebun
Ikati Ate Rasate

Kutulang Parana Ari
Mara Sari Teler Mataq
Kuelen Ompalmo Gama


Ari Montok Samun Token
Aku Montok Samun Puti
Lamun Tetu Saling Pedi
Ibantalti Ning Sakiki

Kakendung Saling Sakiki
Mara Bulan Lete Mega
Kulayar Mana Kurugi

Lamun Tetu Saling Layer
Rop Sanene Tukadua
Parana Sera Ko Jangi


17 Mei 2007

UN 2008

Selembar kertas kosong
Penentu hidupku di depan
Kucoret-coret bertahun-tahun
Namun
Aku menunggu
Kau menuliskannya...!

(24 April 2008)


PANGANTAN RAMA BALONG

Adegan 1

Panggung menggambarkan suasana di rumah Datu Maras. Ada duduk Datu Maras ke Datu Kemang. Datu Maras Sedang menyerut Jontal (Daun Lontar). Datu Kemang sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
Datu Maras : Bagaimana keadaan anak Kita, Dinda! Apakah dia baik-baik saja.
Datu Kemang : Alhamdulillah Kakanda, anak kita baik-baik saja.
Datu Maras : Apakah Adinda sudah mengajarkan segala yang harus diketahui oleh anak kita, seperti: memasak, menenun, dan merapikan rumah.
Datu Kemang : Alhamdulillah sudah, Kakanda. Hanya saja, anak kita masih butuh bimbingan Kakanda.
Datu Maras : Syukurlah kalau begitu. Pada saatnya nanti dia juga akan belajar sendiri.
Datu Kemang : Adinda juga berharap begitu Kakanda.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketok.
Datu Oyang : (dari luar) Assalamualikum.
Datu Maras : (Menjawab) Waalaikum salam. (pada istrinya) Tolong bukakan pintu itu Dinda!
Datu Kemang : (bangun dan menuju ke pintu masuk). Tunggu sebentar! Siapa ya yang datang!
Datu Oyang : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Datu Kemang : Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. (mempersilakan masuk) Mari, silakan masuk Dea ke Lala!
Datu Oyang ke Datu Onye mengambil tempat duduk. Datu Oyang duduk dengan Datu Maras, Datu Onye duduk dengan Datu Kemang. Mereka bersalaman layaknya orang yang baru ketemu.
Datu Maras : Alhamdulillah, kami merasa bangga dikunjungi oleh Dea malam ini. Kami merasa tersanjung atas kunjungan Dea ke Lala. Silakan duduk!
Datu Oyang : Terima kasih atas sambutannya Datu. Kami merasa bahagia disambut seperti ini!
Datu Maras : Apa gerangan yang membuat Datu berkunjung ke rumah kami yang sederhana ini.
Datu Oyang : Kami mendengar bahwa datu sekarang sedang menyelesaikan pembangunan masjid di kampung ini. Kami senang mendengar kabar tersebut Datu.
Datu Maras : Masyarakat terlalu membesar-besarkan pekerjaan tersebut. Saya menganggap hal itu biasa-biasa saja, Datu! Itu merupakan tugas kita sebagai seorang muslim!
Datu Oyang : Saya sependapat dengan Datu. Pembangunan masjid memang merupakan tugas kita sebagai seorang muslim, hanya saja, kami merasa bersyukur bahwa pembangunan masjid itu Datu yang tangani. Saya merasa pekerjaan itu dipegang oleh orang yang tepat.
Datu Maras : Mudah-mudahan berhasil, karena memang itu yang kita harapkan, Datu!
Datu Oyang : Insya Allah akan berhasil, Datu! Ngomong-ngomong, Saya tidak melihat putri kesayangan Datu! Dimanakah dia sekarang, Datu?
Datu Maras : Astagfirullah, Dinda. Kenapa minumannya belum ada. Kami sudah berbicara dari tadi tapi minumannya belum ada.
Datu Kemang : Iya ya! Maaf saya lupa, maklum keasikan ngobrol dengan Datu Onye. (memanggil) Ananda Daeng Balong, cepat sedikit dikeluarkan suguhannya!
Datu Balong : (menyahut dari dalam) Sebentar Bunda! (Masuk pentas sambil membawa suguhan dan meletakkan di depan orang tua dan tamunya. Selanjutnya dia masuk lagi).
Datu Oyang : Sudah besar dan cantik Anak Datu! Apakah sudah ada yang lamar Datu?
Datu Maras : Dia masih kecil dan juga belum ada yang datang melamar.
Datu Oyang : (Badenung adalah pihak laki-laki meminta pada ayah si wanita agar anaknya mau dijodohkan dengan anaknya dan agar si wanita jangan sampai jatuh ke tangan anak orang lain) Saya juga mempunyai anak yang cukup dewasa, sepertinya tidak jauh beda umurnya dengan anak Datu. Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak kita Datu? (balawas) Kemang Komal Sideng Sia—Angan Kupina Rasate—Rela Ke Ajan Tukemban.
Datu Maras : Begitu juga baik. Saya juga setuju, tapi apa tidak terlalu kecil jika kita jodohkan Datu? (balas lawas) Kemang Komal Katukemban—Tuanggop Tanja Makassar—Tuarap Sia Yasumping.
Datu Oyang : Saya rasa anak sebesar putri Datu, cukup pantas untuk kita nikahkan dengan putra saya. Saya rasa mereka akan menjadi pasangan yang pantas dan serasi Datu!
Datu Maras : Alangkah baiknya kalau kita adakan Basamulung (memperkenalkan calon pengantin laki-laki dengan calon pengantin wanita) terlebih dahulu Datu, agar mereka dapat saling memahami satu dengan lainnya.
Datu Oyang : Saya setuju sekali dengan usul datu. Sebaiknya kita percepat saja Datu? Tampaknya sudah malam, sebaiknya kami pamit dulu Datu!
Datu Maras : Apa tidak terlalu cepat.
Datu Oyang : Lain kali kami kembali lagi, Datu!
Datu Maras : Baiklah Kalau Begitu!
Datu Oyang dan istri keluar panggung. Lampu padam. Musik masuk.


ADEGAN 2

Panggung Menggambar Rumah Datu Maras. Ada Datu Maras, Istri, dan Anaknya Daeng Balong Riri. Kemudian Datang Datu Datu Oyang, Istrinya, dan Daeng Rama Prange. Kegiatan Yang Ditampilkan Adalah Basamulung.
Datu Maras : Bagaimana dengan kesiapan anak kita dinda, apakah dia sudah mahir dalam mengerjakan pekerjaan rumah?
Datu Kemang : Insya Allah, putri kita tidak akan mengecewakan kakanda. Adinda sudah mengajarkan seluruh pengetahuan Adinda yang akan dipergunakan di dalam menempuh bahtera rumah tangganya nanti.
Datu Maras : Syukurlah kalau begitu, mudah-mudahan anak kita tidak mengecewakan suaminya nanti ya, Adinda!
Datu Kemang : Insya Allah, putri kita tidak akan mengecewakan Kakanda!
Datu Maras : Bukankah malam ini Datu Oyang dan Daeng Rama Prange akan berkunjung kemari Dinda?
Datu Kemang : Benar Kakanda. Mereka janji akan datang kemari selepas Isya!
Datu Maras : Mungkin sebentar lagi mereka akan datang Adinda!
Dari luar terdengar suara orang mengucapkanan salam.
Bersama-sama : (dari luar) Assalamualaikum!
Bersama-sama : (menjawab) Waalaikum Salam. Sepertinya mereka sudah datang adinda! Tolong buka pintunya, Dinda!
Datu Kemang : (pergi membuka pintu) Silamo!!
Datu Oyang : Terima kasih (Mereka bertiga masuk)
Ketiga tamu mengambil tempat yang tersedia.
Datu Maras : Bagaimana keadaan Datu dan keluarga malam ini, apakah sehat-sehat saja?
Datu Oyang : Alhamdulillah kami sekeluarga sehat-sehat saja. Bagaimana dengan keluarga di sini, apakah juga sehat-sehat!
Datu Maras : Alhamdulillah kami juga sehat-sehat seperti yang datu lihat!
Datu Oyang : Syukurlah kalau begitu!
Masuk Daeng Balong Riri membawa suguhan untuk tamunya.
Datu Maras : Duduklah Ananda di situ, temani Daeng Rama Prange ngobrol. Tampaknya dia kesepian sendirian dari tadi.
Daeng Rama : (Malu-malu)
Datu Maras : Silamo Kalian berbicara di sana, kalian tidak usah takut jika pembicaraan kalian kami dengar.
Daeng Rama : Terima kasih (tapi masih malu-malu begitu juga dengan Daeng Balong Riri).
Datu Maras : Jika kalian masih malu-malu begitu, kami akan ngobrol-ngobrol di dalam. Kalau begitu, (pada Datu Oyang) mari kita ke dalam! Tidak enak kita di sini kayaknya!
Datu Oyang : Baiklah kalau begitu, biarkan mereka berbicara dari hati ke hati datu!
Mereka berempat keluar panggung
Daeng Rama : Wahai Adinda, Siapakah nama Adinda?
Daeng Balong : (malu-malu) Nama Adinda Daeng Balong Riri Kakanda!
Daeng Rama : Nama yang indah sekali. (lawas) Kaling Punamo Kunganyang—Sateris Sampar Baringin—Kugantong Panatal Mateq. Batulan Kewa Pamanyang—Balong Batempa Ke Singin—Patitsi Kubantal Mate. Kakanda bernama, Daeng Rama Prange! Kakanda lihat adinda Daeng Balong Riri sangat cantik, sangat sesuai dengan namanya!
Daeng Balong : Ah, Kakanda! Kakanda terlalu pandai memuji, adinda jadi malu!
Daeng Rama : Adinda yang kelihatan malu semakin membuat kakanda jadi semangat malam ini.
Daeng Balong : (malu-malu) Ih, Kakanda.
Daeng Rama : (Balawas) Ajan Sampama Kumungka—Satemung Den Eta Bangi—Sarepi Mate ning Badiq. Ajan Sampama Katingka—Satemung Kita ning Jangi—Rela Ke Atemu Yandi.
Daeng Balong : Kuroasi Turit Sia—Tupasang Jangipo Dunung—Pamendi Naqmo Sayate.
Daeng Rama : Kupendi Nongka Sayate—Parana No Kugantuna—Kubela Mana Ke Nyawa.
Daeng Balong : Lamin Tutu Kayu Budi—Pina Palemar Parai—Baso Tembu ning Lambayung. Lamin Tutu Sia Pendi—Mara Tima Ketong Tali—Kalembu Tusaling Gayong.
Daeng Rama : Apapo Ampo Mususa—Lamin Aku Dadi Benteng—Tumate Saling Pajele.
Daeng Balong : Lamin Olosi Panotang—Mana No Rampak Bajango—Pamendi Ada Pang Sia.
Daeng Rama : Sendang Muntu Angan Ate—Datang Senap Ko Parana—Goyo ning Masa Tukompal. Mayang Bua Orong Benrang—Kuanggop Tanja Salimpat—Bakeal Untung Gamana.
Daeng Balong : Entek Anar Siwa Ilat—Enti Kemang Muntu Komal—Kahajat Sia Dapatmo.
Daeng Rama : Batamo Ungkap Ya Ujan—Balongmo Tugulung Layar—Ingat Naq Melong Lako Len.
Daeng Balong : Parana Long Kayu Jawa—Noroa Rabewe Peno—Cukup Rep Santung Ke Sia.
Dari luar panggung terdengar suara memanggil
Datu Oyang : Ananda Daeng Rama, sebentar lagi kita pulang. Ananda bersiap-siap!
Daeng Rama : Baik Ayahanda! (pada Daeng Balong Riri) Kakanda akan pulang. Kakanda akan selalu merindukan, Daeng. Percayalah dinda!
Daeng Balong : Adinda juga akan selalu merindukan kakanda. Yakinlah Kakanda!
Masuklah kedua orang tua pasangan tersebut ke panggung. Mereka pun berpamitan antara satu dengan lainnya.
Datu Maras : (perintah) Putriku masuklah. Hari sudah malam
Daeng Balong : Baiklah Ayahanda!
Datu Maras : Jangan lupa berdoa sebelum tidur!
Daeng Balong : Insya Allah Ayahanda. (keluar, tapi sebelum keluar dia melepaskan senyum kecil ke arah Daeng Rama Balong).
Setelah Daeng Balong Riri tidak kelihatan. Maka Datu Oyang menyampaikan isi hatinya kepada Datu Maras.
Datu Oyang : Datu, insya Allah seminggu lagi utusan keluarga kami akan kemari untuk “Tama Bakatoan.”
Datu Maras : Datanglah, pintu rumah kami selalu terbuka untuk keluarga, Datu!
Datu Oyang : Kami pulang dulu! (bersalaman diikuti juga oleh Daeng Rama Prange)
Datu Maras : Selamat jalan, semoga selamat sampai di rumah.
Mereka ke luar panggung. Lampu mati. Musik mengiringi kepergian mereka.

ADEGAN 3

Terlihat keramaian di Rumah Datu Oyang. Di situ banyak sekali “Sito.” Beberapa orang utusan sudah berdatangan ke rumah Datu Oyang. Orang-orang tersebut sekitar enam orang. Mereka merupakan orang-orang pilihan yang akan menyampaikan lamaran (Tama Bakatoan) ke rumah Datu Maras. Tampak di situ Datu Oyang dan istri sedang menyiapkan strategi agar acara Tama Bakatoan berjalan lancar.
Datu Oyang : Apakah persiapan sudah lengkap Dinda!
Datu Onye : Alhamdulillah Sudah Kakanda. Sekarang ututsan ini sudah dapat berangkat.
Datu Oyang : Aping Haji, apakah sudah siap untuk berangkat?
Aping Haji : Insya Allah Kami Siap! Doa kan saja agar kami berhasil!
Datu Onye : Aping Haji yang menjadi Juru Bicara. Untuk penentuan besarnya Pamako dari keluarga sana, kami berharap agar ditangani oleh Aping Ijaq!
Aping Ijaq : Saya siap, Daeng! Cuma berapa besar permintaan mereka akan kami sampaikan setelah pulang dari sana, Daeng!
Datu Oyang : Baiklah, Apapun permintaan mereka tolong disampaikan sedetail-detailnya. Asalkan sekarang, bagaimana agar “Sito” kita diterima dahulu oleh keluarga Datu Maras. Itu yang penting kami rasa!
Aping Haji : Betul kata Datu, saya sepakat dengan itu. Biar Sito kita dahulu diterima. Kalau Sito sudah diterima, maka urusan lainnya dapat kita selesaikan belakangan!
Datu Oyang : Kalau semua sudah lengkap, sepertinya sudah tidak baik terlalu lama berangkat, agar keluarga Datu Maras tidak terlalu lama menunggu.
Aping Haji : Baiklah kalau begitu. Kami berangkat dulu. Doakan agar perjalanan ini dapat membawa sesuatu yang baik seperti yang kita harapkan!
Mereka meninggalkan rumah Datu Oyang. Seluruh tim telah berangkat untuk menunaikan tugas mulai. Tinggal Datu Oyang dan istri saja.
Datu Oyang : Dinda, sebaiknya kita berdoa agar apa yang kita harapkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT.
Datu Onye : Dinda juga berharap agar apa yang kita hajatkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT, Kakanda,
Datu Oyang : Apakah Anak kita sudah diungsikan ke rumah pamannya, Dinda?
Datu Onye : Sudah Kakanda, Kita akan menjemputnya 3 hari menjelang acaranya.
Datu Oyang : Mari kita shalat dulu Dinda, kita memohon petunjuk pada Allah SWT.
Datu Onye : Kita wudhu dulu Kakanda!
Datu Oyang : Mari Dinda!
Mereka pun keluar pentas. Musik mengiringi kepergian mereka. Lampu perlahan-lahan padam.

ADEGAN 4

Panggung menggambarkan suasana di rumah Datu Maras. Ada beberapa orang di ruang tamu. Mereka juga asyik berbincang dan berdiskusi. Peristiwa pada adegan ini menggambarkan suasana orang yang “Tama Bakatoan”.
Tahapan-tahapan yang dilalui dalam tama Bakatoan
1. Datang Mula (Ntek Sito)
 Lawas-Lawas yang berisi petatah-petitih, Seperti kata-kata berikut: (permintaan dari pihak laki-laki) Ajan Sampama Katingka—Batemung Untung Ke Rela—Lebe Jina Kurasate—Ade Sia Yakukango—Na Kena Roasi Bosan—Bakaring Kamimo Baeng Jampang.
2. Saputus Karante (Sen-Lemar/Mako)
 Isi Pamako disampaikan oleh pihak wanita
 Kaum laki-laki melakukan tawar-menawar terhadap Pamako yang diinginkan oleh kaum pihak wanita.

3. Basaputus

ADEGAN 5

Pertemuan keluarga di rumah Datu Maras. Waktu selepas Magrib sebelum Isya. Daeng Balong Riri telah dijemput dari rumah Pamannya. Ada seorang perempuan yang dituakan untuk menyampaikan bahwa Daeng Balong Riri akan dikawinkan dengan Pangerang Rama Prange (Bada/Rabaya). Daeng Balong Riri dikelilingi oleh beberapa perempuan.
Tau Loka : Anakku, ada yang ingin kusampaikan kepadamu!
Daeng Balong : (hanya menantap dengan pandangan mata nanap)
Tau loka : Anakku, mulai malam ini ananda sudah tidak boleh keluar lagi
Daeng Balong : Kenapa Apink! Kenapa Saya tidak boleh keluar rumah lagi. Apakah ada perbuatan salah yang telah saya lakukan?
Tau Loka : Bukan! Ananda tidak melakukan kesalahan. Hanya saja…
Daeng Balong : Hanya saja kenapa Aping?
Tau Loka : Begini cucuku! Kamu akan dinikahkan dengan Pangeran Rama Prange!
Daeng Balong : (Langsung Bito sambil mengucapkan kata-kata) Ina a a… Roa Ate Sia Ina. ………Masi Sate Kulonas… Ina a a a a a a a ……
Suara dari luar : Jangan Mau. Na roa tode soq o. pamako laser sanene. Ampo nongka cocok kutele nya ke kau Daeng.
Aping Haji : Jangan hiraukan suara itu. Itu Cuma orang yang iri saja!
Suara dari luar : (ketus) Ngaromu sanenge aku.. Kamu cantik sedangkan yang laki-lakinya masih ingusan. Dia tidak akan mampu membahagiakan kamu. Pokoknya kamu jangan terima.
Daeng Balong : (makin keras melolong/Bito) Inaq… Ngasi Ateku Pe Inaq…Baseka Lampa Parana…Ling Tokal Kita Sama Len…
Aping Haji : Coba tedu anu ning luar! Kamu diam! kalian jangan merusak suasana! Jangan dengarkan suara-suara itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas, Cucuku!
Suara dari luar : (basanggaru) Lamun nom sanenge aku, murugi ari balong! Mukeang beka tode bero rua.
Daeng Balong : (tambah keras menangis)
Aping Haji : Allah SWT sudah mempertemukan jodohmu, Cucuku! Siapapun dia, dia adalah pilihan hidupmu yang terbaik!
Suara dari luar : Jodoh yang terbaik apanya! Calonmu itu orangnya roa Bataro, maen sabai, roa nginum ke maboq. Kamu nanti pasti akan ditelantarkan!
Aping Haji : (bijak) Apa yang dikatakan oleh orang-orang itu semuanya tidak benar cucuku! Sekali lagi Aping katakana, mereka-merekaitu adalah orang yang tidak punya kerjaan dan ingin merusak kebahagiaanmu! Hanya Allah SWT yang tahu akan nasib seseorang. Mari kita serahkan hidup dan mati kita pada-Nya! Dede Intan Mua Dewa—Mua Bulaeng Tutino—Penang Intan Manmo Nanges.
Daeng Balong masih terisak-isak. Terdengar suara orang yang membunyikan lumpang selama beberapa menit (Bagontong). Kemudian datanglah beberapa orang perempuan kampung ke rumah Datu Maras sambil membawa “Pe Gutus” (padi yang masih dalam ikatan) dan membawa “Deneng” (alu yang dibuat dari bambu), setelah warga kampung berkumpul, maka mereka melakukan upacara “Nunya Rame/ Bagontong” (yaitu membunyikan lumpang sambil mendendangkan lawas-lawas oleh ibu-ibu yang sedang menumbuk padi tersebut). Kegiatan ini berlangsung sampai jauh malam.

ADEGAN 6

Panggung menggambarkan kegiatan “Antat Pangita.” Keluarga calon pengantin wanita datang menghibur pengantin. Mereka datang bersama orang tuanya masing-masing. Mereka datang sambil membawa kado untuk calon pengantin wanita. Tempat: Kamar tidur pengantin wanita.
Uwan : Sudahlah saudaraku, kamu jangan banyak bersedih. Lihat ini, aku bawakan Kre Alang. Warnanya cocok dengan warna kulitmu. Kamu akan kelihatan tambah cantik dengan warna ini!
Daeng Balong : Aku takut saudaraku!
Uwan : Takut Kenapa?
Imok : Takut yang itu ya!
Uwan : Yang itu apanya?
Imok : Masak kamu tidak tahu yang itu! Ya yang itu!
Icak : Yang itu,,, oh aku tahu.. yang itu kan! Pasti deh yang itu!
Motek : Kamu ini Basanggaru (mengganggu) Saja!
Daeng Balong : Aku takut. Kamu tahu kan, aku selama ini tidur sendiri. Terus tiba-tiba beberapa hari lagi aku akan ditemani oleh seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Aku merasa gamang!
Imok : Benar kan dia takut yang itu. Maksudku,,, pokoknya yang itulah!
Uwan : (ketus) Kamu ini yang itu saja dari tadi! Sudahlah! Daeng, Semua wanita yang pernah menikah pernah mengalami hal itu. Bukan kamu saja Saudaraku!
Motek : Benar Kata Uwan, Daeng. Semua orang yang kawin pernah merakan hal itu. Kamu santai saja!
Daeng Balong : Aku tidak bisa santai dan bukan itu saja, Aku juga memikirkan, bahwa setelah menikah aku akan meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah orang lain!
Motek : Dia bukan lagi orang lain. Dia adalah suamimu!
Daeng Balong : Benar dia menjadi suamiku, tapi perasaanku sekarang ini belum bisa menerimanya.
Uwan : Lihat ini Daeng. Aku membawakan kamu perhiasan emas yang dibuat dengan tangan. Sepertinya perhiasan ini cocok sekali di badanmu!
Motek : (memegang dan melihat) Sungguh cantik sekali perhiasan ini. Di mana kamu beli, Uwan?
Uwan : Rahasia, model ini aku gambar sendiri. Kemudian aku suruh tukangnya membuat. Jadi seperti inilah. Aku akan memberikan yang terbaik untuk temanku yang cantik ini!
Daeng Balong : (bergumam) Aku juga tidak akan sedekat ini dengan kalian lagi. Hari-hariku akan hambar, tidak lagi sebebas waktu aku gadis lagi!
Motek : Kami akan sering-sering berkunjung ke rumahmu, Daeng!
Uwan : Aku juga!
Daeng Balong : (masih bergumam) Aku akan kehilangan keceriaan seperti saat-saat yang telah lalu!
Motek : Daeng akan bahagia. Keceriaan yang akan Daeng dapatkan melebihi keceriaan yang Daeng terima selama ini. Daeng pernah lihat Minah Kan. Dia sekarang tampak ceria setiap hari, saya tidak pernah melihatnya murung seperti dahulu. Dia sekarang tambah cantik!
Uwan : Allah SWT telah mempertemukan jodoh yang cocok dengan Daeng! Insya Allah Daeng akan bahagia. Kebahagiaan kita dengan orang tua dapat kita lupakan, karena Allah SWT telah memilihkan jodoh yang tepat dengan Daeng!
Daeng Balong : Aku belum dapat melupakan semua hal yang membahagiakan di rumah ini. Kenangan-kenangan, keceriaan, kebahagiaan yang aku dapatkan selama ini.
Motek : Daeng akan mendapatkan kenangan-kenangan, keceriaan, dan kebahagiaan baru bersama suami Daeng nanti! Saya yakin Daeng akan menemukan sesuatu yang baru di dalam kehidupan ini!
Uwan : Amin!
Daeng Balong : (nanar) Apakah calon suamiku nanti akan dapat membahagiakanku?
Uwan : Semua kita kembalikan pada sang Khalik, Daeng!
Daeng Balong : Terima kasih!
Keluarga dan teman-teman Daeng Balong sudah ada yang pamit, tapi masih juga berdatangan orang lain yang turut bersuka cita dan membawakan sesuatu untuk (Antat Pangita) Daeng Balong Riri. Lampu mulai redup dan padam. Musik miris mengantar kepergian orang-orang tersebut.

ADEGAN 7

Kegiatan Nyorong berpusat di rumah Datu Maras. Sudah banyak orang yang menunggu (Ngadang) di rumah Datu Maras. Mereka berpakaian khas Sumbawa. Keluarga pengantin wanita sudah menyiapkan orang yang mahir balawas. Beberapa menit kemudian datanglah rombongan “Nyorong” dari keluarga Datu Oyang. Kedatangan mereka diiringi oleh tabuhan “Ratib Rabana Ode”. Mereka membawa barang-barang yang sudah disepakati “Sen-Lemar” sekaligus dengan mas kawin “pabeli” juga sudah menyiapkan orang yang balawas. Di situ nanti akan terjadi penyampaian pesan, petatah-petitih dari lawas yang disampaikan.
Sampan Ode Benru Dadi (Pihak Laki/PL)
Balabu Pang Siding Sia
No Pendi Tulang Gamana

Sampan Ode Benru Dadi (Pihak Wanita/PW)
Balabu Pang Siding kami
Bongkar ning Nyonde Pati Leng

Nosoda Ade Kubentan (PL)
Godong Kayusi Salamar
Kanga Panumpan Tungining

Sia Ngining Aku Rara (PW)
Tusatempu Melasakan
Lema Rangkop Ban Salingong

Bangkat Ode Segi Empat (PL)
Tudaet Padu Ke Tamba
Tuser Biniq Sabelik
Batamo Tudatang Antat
Lamin Kurang Sia Tamba
Lamin Lebe Na Samalik

Mawa ade Sia Antat (PW)
Nosi Jina Yatupikir
Nyonde Ada Ke Kadatang

Leang Jepang Tanda Nyonde (PL)
Katubalo Tanja Bebek
Yakamata Nange Langkap

Na kamata Nange Langkap (PW)
Lamin Kurangsi Bagowe
Bebek Kamelar ning Aiq

ADEGAN 8

Kegiatan Barodak-Rapancar. Kegiatan “Barodak-Rapancar” dipimpin oleh “Inak Odak”. Pada kegiatan Barodak akan diiringi oleh tabuhan Gong-Genang. Selama proses Barodak-Rapancar, tabuhan Gong-Genang tidak boleh berhenti. Setelah acara Barodak-Rapancar biasanya diselingi juga dengan Sakeco. Kegiatan lain yang disiapkan adalah “Rajang Basa” (kegiatan memasak yang dilakukan ibu-ibu jiran tetangga sebagai persiapan untuk menjamu tamu yang hadir pada acara selanjutnya). Untuk kegiatan Rajang Basa dapat divisualisasikan dengan “Tari Rajang Basa/ kegiatan ini bisa juga tidak dilakukan.”

ADEGAN 9

Kegiatan berikutnya Ngiring Pangantan. Ngiring Pangantan adalah kegiatan mengarak pengantin pria menuju ke rumah pengantin wanita. Sebelum iringan pengantin laki-laki berjalan, dari keluarga pihak pengantin datang ke rumah pengantin laki-laki untuk dipersilakan menuju ke rumah pengantin wanita. Mempelai pria menaiki kuda menuju tempat nikah. Pada saat ini mempelai pria berada paling depan dan diikuti kaum ibu-ibu dan bapak-bapak. Rombongan terakhir adalah pemain ratob rabana.
Tiba di rumah mempelai wanita, mempelai laki-laki dan rombongan iringan pengantin tidak boleh langsung naik ke rumah pengantin wanita, melainkan terlebih dahulu harus Barupa (menyerahkan hadiah biasanya uang harus dimasukkan ke dalam “pego”). Barupa disimbolkan bahwa kekehadiran satu orang lagi bagi keluarga mempelai wanita tidak akan menjadi beban. Karena calon suami laki-laki berasl dari keluarga yang berkecukupan sandang pangan. Setelah prosesi memasukkan uang ke dalam pego selesai, barulah mempelai laki-laki boleh masuk/naik ke rumah pengantin wanita. Kegiatan ini dilakukan pada waktu sore hari setelah shalat Ashar dan sebelum shalat Magrib.

Akad Nikah adalah pengucapan janji untuk hidup bersama secara sah menurut hukum Islam. Akad nikah dilakukan pada pagi hari. Akad nikah dapat dilakukan setelah Rabaya dan atau seminggu setelah barodak. Biasanya dapat dilakukan setelah selesai acara Bakatoan, tergantung kesiapan kedua belah pihak, terutama keluarga kaum wanita.

Bajelak artinya seorang suami akan menyentuh kening istrinya. Kegiatan ini sebagai simbol bahwa istri harus tunduk kepada suami. Kedua pengantin disusukkan berdampingan, namun pengantin wanita masih menggunakan cadar. Untuk membuka cadar istrinya, seorang suami harus memasukkan uang ke dalam Pego yang telah disiapkan. Sebelum memasukkan uang ke dalam pego, maka si suami tidk boleh membuka cadar istrinya.

Montok Basai adalah sama dengan resepsi perkawinan. Pada acara montok basai, pengantin di dampingi oleh “Inak Odak.” Inak Odak sangat berperan di dalam prosesi upacara perkawinan di Sumbawa Barat.


ADEGAN 10

Kegiatan yang dilakukan pada adegan ini adalah Basarere. Pengantin di Sumbawa tempo dulu tidak saling kenal mengenal. Meskipun sudah menikah, pengantin belum dapat langsung tidur bersama. Ini merupakan tugas berat bagi Inak Odak untuk menyatukan kedua pasangan yang tidak saling kenal-mengenal ini. Kegiatan ini di sebut Basarere atau Isarere (didekatkan/diakurkan). Setelah acara Montok Basai, di rumah pengantin masih banyak teman bermain si wanita. Mereka ikut meramaikan acara dan biasanya ngumpul di kamar pengantin wanita. Mereka juga masih banyak yang tidur dengan pengantin wanita hingga hari kedua setelah proses Montok Basai. Menjelang hari ketiga (dianggap hari final bagi acara Isarere/untuk meluluhkan hati pengantin wanita, jika pada hari ketiga belum dapat diluluhkan hati pengantin wanita oleh pengantin pria maupun Inak Odak, maka bisa saja pada hari itu pengantin laki-laki menjatuhkan talak pada pengantin wanita. Ini pekerjaan yang paling ditakutkan oleh Inak Odak karena dianggap gagal).
Daeng Balong : (mengumpulkan seluruh pakaian temannya ke suatu tempat agar teman-temannya tidak bisa pulang pada hari itu) Kapok kalian! Kalian tidak akan bisa pulang hari ini. Aku telah menyembunyikan seluruh pakaian kalian!
Teman 1 : Di mana pakaianku! Siapa yang telah menyembunyikan pakaianku!
Teman 2 : Pakaianku juga tidak ada. Apakah kamu yang telah menyembunyikannya (pada teman lainnya).
Teman 1 : Tidak, bukan aku yang menyembunyikan. Coba lihat, pakaianku saja tidak ada!
Teman 3 : Pasti ada yang menyembunyikan pakaian kita!
Teman 2 : Benar! Pasti ada yang menyembunyikannya! Tapi siapa?
Teman 3 : Mari kita cari dulu!
Teman 1 : Mari! Kamu cari ke atas Para Bate (loteng rumah panggung). Motek ke Tumang (dapur) dan aku ke Anok Tabongan! (di bawah kolong rumah).
Dan beberapa saat kemudian mereka pun menemukan buntelan pakaiannya.
Teman 2 : Aku sudah menemukan pakaian kita (kedua temannya pun mendekat. Tampak raut bahagia di wajah mereka).
Teman 3 : Mari kita pamit pada Datu Maras dan juga Daeng Balong.
Teman-teman : (serempak) Mari
Daeng Balong : (cemberut) Kalian jangan pulang! Aku akan kesepian tanpa kalian!
Teman 1 : Aku mau ke sawah tetangga besok. Karena ada acara Mataq Rame di sana!
Teman 2 : Aku juga ada acara!
Teman 3 : Papunku sakit parah dan aku yang bertugas untuk menjaganya mulai hari ini! Selamat tinggal! Selamat bersenang-senang ya!
Daeng Balong : (masih saja cemberut) Kalian tega meninggalkan aku sendiri! Kalian kejam! Kalian tidak setia kawan!
Teman 2 : Bukan begitu, Kanti Boro! Kami masih banyak pekerjaan di rumah. Lain kali kami ke sini lagi! (diamini oleh teman-teman yang lain)
Semua teman-teman si wanita sudah pada pulang, tinggallah sekarang dia sendiri. Daeng Rama masuk ditemani oleh Inak Odak.
Daeng Rama : (mendekati pengantin wanita)
Daeng Balong : (beringsut ke samping)
Inak Odak : Wahai anakku, janganlah kamu menghindar, karena dia sekarang sudah menjadi suamimu!
Daeng Rama : Betul, Dinda. Sekarang kakanda sudah menjadi suami.
Daeng Balong : (pasang muka masam)
Inak Odak : (membujuk) Jangan pasang muka begitu! Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri dan dengan begitu kamu kelihatan kurang cantik!
Daeng Rama : (balawas) Manasi Ling Mutulang Do—Nake Sangka No Kunotang—Aku Tunotang Nonda Man. Pasanglah wajahmu yang cantik itu istriku! Kubara Jaran Ko Badi—Kusangola Lutuk Tingi—Lantas Pola Bao Batu. Kanatang Kaku Ko Andi—Kudatang Temung Kajangi—Lema Na Bola Pang Aku.
Daeng Balong : (beringsut lagi dengan wajah yang lebih masam)
Daeng Rama : (mendekatkan wajahnya lagi dari arah yang berlawanan) Ado Adi Daeng Balong—Ate Belo Ku Ke Yandi—Nan Masimu Lontak Mega—Lamin Pang Aku Andi E—Nyawa Kusera Ke Yandi!
Inak odak : Lihatlah Anakku, begitu cintanya suamimu padamu. Apakah hatimu tidak tergetar mendengar rintihan hatinya.
Daeng Balong : (mulai berubah parasnya, tapi masih saja diam membisu)
Daeng Rama : Lamin Lalo tutit jangi—bilen bulumu satangar—yadadi batang parana. Ta datang batang parana—yatarepa siding andi—gama mutulang ke kemas. Ta datang muka ku andi—tarepa boa rua yandi—totang ling manis kugama. Benru datangmo panotang—mana muntu kuangkang me—kubilen renduk basungu.
Inak Odak : Betapa miris lawas yang diucapkan suamimu anakku. Bukalah hatimu sedikit untuk cintanya yang tulus. Karena dengan diam, tidak akan diketahui apa maumu anakku! Ingatlah, bahwa sekarang Anakku sudah menjadi seorang istri! Akan berdosa seorang istri jika tidak menyambut kasih yang ditawarkan suaminya! Anakku tidak ingin menjadi hamba yang berdosa, kan!
Daeng Balong : (mulai buka mulut) Saya tidak ingin menjadi orang yang berdosa.
Inak Odak : (memanggil Daeng Rama agar mendekat—Daeng Rama mendekat) Peganglah erat tangan istrimu, Anakku!
Daeng Rama : (memegang tangan istrinya—dia hanya memandang dengan penuh kasih sayang)
Daeng Balong : (malu-malu tapi tidak menarik tangan dari genggaman suaminya)
Terdengar lantunan musik lagu “Saling Sayang.”

TAMAT

Skenario/Sutradara: Fathi Yusuf
Nara Sumber:
1. Haji Muhadli
2. Abdul Gani, S.Pd.

Sinopsis Materi Lomba Kecamatan Taliwang

Lawas Langko

Nomonda Sama Tusukur
Bau Dadi Kabupaten
Gembira Sarea Kita

Batopo Nyata Tugita
Bangunan Saruntung Desa
Pariri Lema Bariri

Sai Sate Maning Subu
Lalo Ko Benrang Birayat
Lema Nyaman Panto Balo

Sai Sate Nyaman Tubuh
Laga Tuboat Ibadat
Lema Nyaman Nyawa Lalo

Sakian Terima Kasih
Beli Sabun Desa Bali
Mudi Tusambung Kabali

Bagenang

Bagenang adalah memainkan alat musik tradisional Sumbawa yang terdiri dari dua buah genang, satu buah Serunai, dan ditambah satu Gong. Gong-Genang merupakan alat musik utama di Sumbawa. Kegiatan Gong-Genang (Bagenang) bisa dilihat pada hampir seluruh kegiatan Seni-Budaya Sumbawa. Kegiatan yang dimaksud, meliputi: Barodak, Mencak, Karaci, Tari-tarian, dll.
Bunyi Gong-Genang (Bagenang) bervariasi, bahkan ada yang mengatakan bahwa bunyi Gong-Genang ada sekitar tiga puluh satu Temung (variasi bunyi), namun keberadaan beberapa temung ini tidak menyebar ke semua tempat. Temung yang lazim ditemui di tengah masyarakat Sumbawa sekitar beberapa Temung saja, meliputi: Srama, Puju’, Pakan Jaran, Kopok, dll.


Bagarompong

Bagarompong adalah memainkan alat musik yang terbuat dari bilah kayu (Kayu Elang). Bagarompong biasanya dimainkan pada saat orang Sumbawa (Tau Samawa) sedang menjaga sawah menjelang dan atau setelah panen. Kegiatan memainkan Garompong bertujuan untuk menghilangkan rasa kantuk dan suntuk. Bagarompong dilakukan sejak selesai shalat Isya sampai menjelang pagi.
Alat musik Garompong terdiri dari tiga sampai enam bilah kayu yang dipukul. Dulu, bilah kayu yang dimainkan diletakkan di atas paha pemain Garompong. Sekarang ini, alat musik Garompong sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mudah dimainkan dan dibawa kemana-mana. Alat musik Garompong juga dapat dimainkan dalam beberapa variasi bunyi.

Sakeco

Sakeco merupakan salah satu seni musik khas Sumbawa. Sakeco dimainkan oleh dua orang pria, melagukan sair ataupun kalimat-kalimat yang berisi tentang cinta, cerita aktual, nasihat agama, dan sejarah. Kedua pemain Sakeco melantunkan lagu tersebut secara bergantian yang diiringi tabuhan Rabana Ode (Rebana Kecil). Sair-sair yang dilantunkan merupakan suatu rangkaian alur cerita. Sakeco dapat digunakan sebagai media penyebaran informasi, ungkapan cerita, memberikan nasihat. Lelucon untuk menghibur para penonton. Sakeco jika mampu diberdayakan, maka Sakeco merupakan media yang paling efektif dalam penyebaran informasi tentang pembangunan, pendidikan, pariwisata, dll.



Malangko

Malangko merupakan seni vokalis yang dilakukan oleh dua orang dengan berbalas Lawas. Malangko biasanya dilakukan pada upacara perkawinan, pada saat panen raya, pada saat bulan purnama. Pada saat-saat Tau Samawa bekerja di Sawah, di tempat kenduri biasanya diselingi dengan Langko/Malangko.

Batutur

Tutur atau dongeng merupakan suatu ungkapan kisah/cerita, sejarah, legenda, mite, pameo, dll. Batutur (mendongeng) merupakan sarana yang efektif untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak-anak. Melalui kegiatan Batutur orang tua akan memberikan pesan moral, nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat Sumbawa. Kegiatan Batutur akan memberikan daya bayang yang luar biasa bagi anak-anak. Anak-anak akan termotivasi, kreatif, inovatif, dan produktif.

BAGESA: MATA RAME/BARAMPOK

Skenario: Fathi Yusuf

ADEGAN PERTAMA

Pentas Menggambarkan Sebuah “Bale Kataruk” (Berugak), Ada Dua Orang Yang Sedang Basakeco. Beberapa Helai Jontal Tergantung Menjuntai. Musik: Dua Orang Sedang “Basakeco”
Isi Sakeco Bermuatan Tentang Permainan Rakyat “Barampok”
O Sarea Tau Ade Ada Pang Ningta, Silamo Sia Menong Aran Kami Tentang Sopo Permainan Rakyat Ade Ada Pang Tana Anorawi. Maen Ta Yatusasingin Barampok. Barampok Ta Yasangada Muntu Bowemo Tau Mataq. Boat Barampok Yasangada Kenang Yasangilang Ompa Enti Boat Iwit Muntu Jura Mataq.
Mara Ling Lawas: “ Benru Kutama Desa Ta—Taria Ngantang Samangat—Ate Nonda Sate Mole”
Pang Saman Ta, Barampok Yasangada Siong Yakenang Tubuya Sai Ade Jago. Barampok Yasangada Kenang Tusarame Ramia Desa Darat Ke Tanda Pamuji Kita Angkang Dea Koasa De Basingin Ala Tala.
“Do Desa Kudatang Goyo—Leng Ola Kudange Au—No Kudatang Apa Sia—Sabenar Nonda Koasa—Konang Ramanik Ne Tingi—Mana Leng Sakit Kukaya”.

(Siluet: visualisasikan beberapa permainan rakyat)

Muntu Datang Sopo Masa, Barampok Yasangada Leng Diparsenibud Kenang Tupina Kanyaman Tamue Ade Datang Ko Tana Samawi Nusa Tenggara Barat. Maen Barampok Tusanadi Sopo Aset Budaya Ade Perlu Tulestarikan.

Tarima Kasih Kami Ko Diparsenibud Yasangada Boat Ta. Pangeneng Kami Ko Sia Silamo Tetap sangada Boat ta Bau Belo Bawa Rungan.

Lampu padam seiring berakhirnya sakeco.


ADEGAN DUA

Ada empat orang duduk di sebuah ruangan. Di dinding ruangan tergantung “Male”. Ada yang menyerut jontal dan digunakan untuk membuat rokok. Jontal juga digunakan sebagai alat tulis menulis. Musik mengiring dari sisi panggung (genang aer/todo) dan serunai lolo pe.
Eman : Nonda tegas-tegas tutelas saman ta. Semua kebutuhan pokok semakin membelit leher. Minyak, air, gula dimonopoli oleh segelintir orang yang kemudian dijual dengan harga melambung.
Cun : Tetu kau, Eman. Harga pupuk semakin menjulang saja harganya. Petani terlibat ijon untuk dapat menyambung hidup. Rentenir makin untung saja. Kita semakin dililit utang. Rentenir ta nyang pina kasakit tau.
Meng : Padahal monopoli menurut undang-undang dilarang, tapi nyatanya, terkadang yang membuat undang-undang ini yang melanggar.
Ija : Menurut pepatah sih, disebut dengan “Pagar Makan Tanaman”
Eman : Betul kamu Ija’. Pantas kamu kelihatan lain dengan perempuan di desa ini.
Ija’ : Na Bero Kaka e. tukangila Sa’. Tapi, So ti tuju tubasakola, bau tu to sanene permasalahan hidup. Kita jangan hanya di ninabobokan oleh kekayaan alam. Kita hidup menjadi tidak kompetitif karena masih menggantungkan hidup pada kekayaan alam. Karena, cadangan kekayaan alam suatu saat dapat saja habis. Coba lihat orang Jepang, mereka tidak punya kekayaan alam seperti kita, namun mereka mampu memanfaatkan SDA yang sedikit menjadi Negara maju.
Cun : Aku setuju dengan pendapatmu Ija’. Contoh lain: Negara Singapura yang kecil itu dengan SDA yang sangat minim, tapi mereka juga dapat menjadi Negara maju. Ingatlah bahwa suatu saat SDA akan habis. Berbeda seandainya kita mampu memanfaatkan SDA dengan sebaik-baiknya dan didukung oleh peningkatan kemampuan SDM.
Eman : Apanya yang berbeda! Sumber daya manusia itu yang perlu ditingkatkan. Soalnya, manusialah yang menentukan kelestarian dan keberlangsungannya ekosistem di alam. kita harus dapat memanfaatkan kekayaan alam kita untuk peningkatan taraf hidup kita tetapi bukan dengan jalan menghabiskannya dalam tempo lima sampai sepuluh tahun, melainkan harus mampu kita daya gunakan sepanjang hayat.
Ija’ : Kalau seperti itu, berarti yang paling cocok dengan rumusan kaka’ adalah konsep pengembangan potensi alam untuk kebutuhan pariwisata. Sangat menarik memang, potensi alam yang digarap sebagai potensi pariwisata tidak akan menghabiskan cadangan kekayaan alam. Kekayaan alam yang digarap untuk kebutuhan pariwisata dapat berupa; wisata alam, wisata bahari, wisata budaya dan atraksi wisata (sport tourism) begitu.
Meng : Apa saja sih yang dimaksud dengan wisata alam, bahari, budaya, dan atraksi wisata itu, JA’?
Ija’ : Wisata alam dapat berupa arung jeram, hutan lindung, taman marga satwa. Wisata bahari dapat berupa taman laut (coral reefs), surfing, kano dan boat. Wisata budaya dapat berupa upacara adat, kesenian tradisional, kerajinan tangan rakyat yang memiliki ciri khas masyarakat setempat. Atraksi wisata untuk wisata (sport tourism) atau permainan rakyat di Sumbawa Barat sangat banyak, meliputi: Nganyang, Barampok, Maen Jaran, Mencak, Karaci, Barapan Ayam, dan Barapan Kebo.
Itu kalau kita mau memanfaatkan kekayaan kita untuk dunia pariwisata, maka kekayaan itu tidak akan habis-habisnya. Berbeda seandainya kalau kita hanya akan menambang SDA yang ada, maka suatu saat kita akan jatuh miskin. Coba lihat, Sekarang saja tanah-tanah di desa kita ini sudah mulai menyempit. Berbeda dengan waktu kita masih kecil dulu. Kita masih dapat main gore, maen cilo, maen cop, maen pake, dll.
Cun : Aku dulu suka main Barapan Ayam, Barapan Kebo, Nganyang, Main Jaran, dan Juga Barampok. Sekarang ini, jarang kita dengar yang melakukan permainan ini.
Eman : E dengan ku salebe na. Aku punya pengalaman menarik waktu kecil dulu. Aku pernah menyaksikan orang sering mengadakan permainan “Barampok”. Permainan Barampok yang aku lihat dulu dilakukan setiap selesai panen. Suasananya meriah sekali, ada gong genangnya, terus yang menontonnya juga berdatangan dari berbagai pelosok. Padahal, banyak di antara mereka yang luka, giginya tanggal, mukanya lecet. Anehnya, mereka yang Barampok itu setelah selesai pulang dengan tertawa sambil bergandengan tangan.
Meng : Kan sekarang banyak kita lihat Tinju di televisi, buat apa kita mengadakan permainan Barampok ini.
Eman : Itu beda dong, Meng. Tinju dan barampok memiliki ciri khas tersendiri. Barampok merupakan sarana untuk mempererat tali solidaritas sesama kita setelah selesai panen, sambil mencari hiburan yang mendidik generasi muda yang ada sekarang.
Ija’ : Kaji setuju dengan ke Sia. Yang dilihat oleh pendatang adalah perbedaannya, nilai-nilai yang diemban, serta sikap kita terhadapnya. Kalau semua sama, jangan harap ada yang mau datang menyaksikan permainan ini. Buat apa mereka datang jauh-jauh ke suatu tempat, jika di tempat itu mereka akan melihat yang ada di kampung dan negaranya. Kalau kita lihat, maka mungkin saja permainan di kampung para wisatawan itu lebih baik dan lebih maju dari kita, tetapi yang ingin dilihat oleh mereka adalah perbedaannya (daya beda). Inilah nilai jual yang sangat tinggi untuk dunia pariwisata. Kita harus dapat membaca kondisi ini, nilai beda sama dengan nilai jual.
Cun : Tetu ti so Kau Ija’, nime kam dapet karante so. Kam mu gera mupintar kabali, de aji nuya anu tau so pe, kupararimu!
Meng : Na mangkutik bro kau, Cun. Na kubaya Mina nengka. Beka’po yagalengengmu.
Ija’ : Mangkutik, mara tau nonya anak na bae. Masi sia taruna bae no kuroa sia, apalagi kam telu anak sia.
Cun : E nanta kau Ija’, peno tau dadara saman sa balege ke tau loka.
Ija’ : Ba beka’po pernya, ansal na aku, bae ti. Lamun aku nom pen na.
Cun : Mubadosa mubeling bro ke aku nengka, Ija’! kususamu karing mulalo buya lo baleku, no kucarik ke.
Ija’ Na kubuya sia beka po. Tau taruna bae kasaga kubuya, apalagi tau yam sia, roamo renjo ke rengkong.
Meng : (senyum-senyum) E sanak sabai salaki, sudamo tu batengka. Perso sa, seperti elit politik saja bertengkar. Biar mereka saja yang suka bertengkar. Kalau, kita harusnya Cuma melihat dan mendengar saja “Gesa” mereka. Kalau mereka berbohong jangan dipilih lagi untuk lima tahun ke depan.
Ija’ : Ba di’ na mangkutik, yarayu tubeka. Sepan no tu tan kam lo bine anak, masi sate samangan taya. Aji taya no pekok, mega ti. (lawas) Ngaromo sia dengar lawas sa “Na susa sanak salaki—nisung batu kakupasang—ingat sia lupek… lupek...lupek”
Cun : Sala lingmu so Ija’! Nongkamu tan ke, bine ku sen ngeneng ampun runtung petang. (balawas) Apapo Ampo Mubuya—Idung Bakolar Ke Papar—Senap Rena Nyaman Ate. Bam jerangmo so.
Ija’ : I narua na, nongka tu roa karing menghina. jerok loka-loka tau so. No tan di’na, Ne (kaki) kam katalat sabela, karing tutari waya bae ti. (balawas) Kupendi Nanta Sia e—Balangan Renjo Ke Rengkong—Ten Mudi dadi Rembong Yen.
Cun : Na’ musadunu karoa tuhan kau Ija’, mubadosa mubeling berko ke aku.
Ija : Beka po, ansal na terus sia bagerik, apa bage sa masi po mawal.
Cun : Na’ mukarante masih mawal, masi uda kurepu bae, daripada belo kujarejok.
Ija’ : (marah) Na rua tau loka so, no palang-palang beling ke dita. Sijar sia tau mira kapia.
Cun : Kamu kalau marah semakin cantik saja, Ija’! Aku semakin terpesona padamu. Seperti lawas: ayam ngaram poto para—tusedu-sedi mangkeok—haram tumpan nyaman ate—nanta lala rumi lalo.
Ija’ : Baki!
Eman : (menengahi) Sudahlah, Aku punya usul, bagaimana kalau kita adakan pertandingan Barampok ini, sekaligus untuk melestarikan asset bangsa juga dapat dijadikan sebagai pembelajaran nilai-nilai kebersamaan dan kesatuan kepada generasi kita untuk masa yang akan datang.
Cun : Aku setuju.
Ija’ : Kaji juga setuju. Permainan ini juga sangat menguntungkan kita. Kita dapat mengundang seluruh masyarakat dari lima kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat, bahkan se NTB.
Eman : Bagaimana dengan kamu, Meng?
Meng : (berpikir) Bagaimana ya, terserah kalian sajalah. Aku menerima saja.
Eman : Jangan begitu dong, Meng! Kita harus kompak!
Meng : Aku trauma, soalnya dulu waktu ada acara barampok, aku di pukul oleh si Neng hingga pingsan.
Ketiga : (Ketawa semuanya)
Cun : U… nanta na, bro ke kanti.
Meng : Na’ ngejek bro, kele sa rua mutulang masih lo kupatik maen so ku dunu. Namucoba, karing mu biru nengka.
Cun : (mengeluarkan jurus) Tu tes ke…
Meng : (berdiri) Lamun so anu mubuya, saya layani…
Cun : (mengambil jurus-Ngumang)
Musik Srama, Eman dan Ija’ memberi semangat. Setelah beberapa saat Cun dan Meng kelelahan. Musik juga berhenti.
Eman : (pada Ija’) Tolong buat pengumumannya, sampaikan kepada mereka tentang kegiatan ini.
Ija’ mengambil Jontal dan Pangat-kemudian menulis di jontal itu-melihat hasilnya.terdengar suara Lolo Pe).
Eman : Gimana, apa isinya?
Ija’ : (Membaca pengumuman) Pengumuman. Kami mengundang sarea rama peno untuk ikut ambil bagian pada acara permainan Barampok. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Hari, sabtu tanggal: 4 Oktober 2004; tempat: Taman Budaya Mataram (menyerahkan jontal pada Eman).
Eman : Terima Kasih (pada Cun dan Meng) Kalian Besok harus menyampaikan pengumuman ini pada seluruh masyarakat NTB.
Mereka: Siap.

Mereka semua keluar panggung. Musik genang aer/todo dan serunai lolo pe mengiringi kepergian mereka. Lampu padam.


ADEGAN TIGA

Musik Tarian “Mata Rame”, Dilanjutkan dengan Masuknya Penari Mataq Rame. Tarian Mata Rame Mengawali Kegiatan Barampok. Setelah Tarian Selesai Dilanjutkan Dengan Musik Temung Srama. SUASANA: arena Barampok di tengah sawah yang telah selesai di panen. Eman, Meng, Cun, dan Ija’ ada di sekitar arena sebagai panitia.
 Beberapa orang yang ngumang
 Beberapa orang yang barampok
 Beberapa orang sanro
 Beberapa orang yang menonton
Selesai musik Mata Rame dilanjutkan dengan musik “Malangko”. Permainan Barampok divisualisasikan dengan Tari “Barampok”.
Tau Barampok : Ngumang
“Beling Kolo Alang Aji
Samung Leng Bubit Lamenta
Ta Nyonde Linang Buya Tat

Buemo Kupenro Desa
Kalis Seran Ko Sakongkang
Kututet Timal Sapurang

Tau Umung : (Memperkenalkan-Memanggil Tau Barampok)
Barampok 2 : Ngumang
“Jangi Olat Si Kutengke
Datang Malang Mara Teja
To Nyonde Undang Karoa

Karoa Kutama Lenang
Siong Datang Buya Timal
Belo Langan Jango Sanak”

Juri : Mempertemukan
Beberapa Orang Memberikan Aplaus.. HO HAM MA…HO HAM MA… DST.
Wasit : Mempertemukan Tau Barampok 1 & 2
Pendukung Ngumang tim 1
“Lepas Aku Papen Gani
Perat Ima Sate Ngumang
Tusamaras Tu Barampok
Jina Maras Tubarampok
Barundang Diparsenibud
Sate Rame Desa Darat”

Ngumang pendukung tim 2
Bua Kenras Sate Ngumang
Boe Ngiat Tolang Isi
Sate Tama Lo Barampok

Barampok Intan Barampok
Bolang Carik Tu Desa Ta
Mura Ero Tubarema”

Begitu Selanjutnya “Ngumang” Sampai Permainan Berakhir

TAMAT

Skenario/Sutradara: Fathi Yusuf

Pendukung Kegiatan

Sanggar Rampak Sengo (Saras)
Kerukunan Masyarakat Seni Samawa (Kemas-Samawa)

20 Mei 2006

PENGERTIAN DRAMA DAN TEATER

ARTI DRAMA
1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

ARTI TEATER
1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.


AKTING YANG BAIK
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
1. terdengar (volume baik)
2. jelas (artikulasi baik)
3. dimengerti (lafal benar)
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang :
1. terlihat (blocking baik)
2. jelas (tidak ragu ragu, meyakinkan)
3. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Penjelasan :
Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber ani.
Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :
Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.
Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:
Bagian kanan lebih berat daripada kiri
Bagian depan lebih berat daripada belakang
Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah
Yang lebar lebih berat daripada yang sempit
Yang terang lebih berat daripada yang gelap
Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung
Jelas, tidak ragu ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting
Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
Menghayati berarti gerak gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

Bab 1

MEDITASI dan KONSENTRASI

MEDITASI
Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
Tujuan Meditasi :
Mengosongkan pikiran.
Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.
Meditasi sebagai jembatan.
Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.

Cara meditasi :
1. Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
2. Atur pernafasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.
3. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.

Catatan :
Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.

KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :
1. Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
2. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.

Catatan :
Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.

Bab 2
VOKAL dan PERNAFASAN

PERNAFASAN
Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.

Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan :
Pernafasan dada
Pada pernafasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang orang teater pernafasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk Udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.
Pernafasan perut
Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
Pernafasan lengkap
Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernafasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.
Pernafasan diafragma
Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir akhir ini, banyak orang orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.

Latihan latihan pemapasan :
Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
Cara berikutnya adalah menarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vocal.

Catatan : Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.

VOCAL
Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vocal yang baik pula. "Baik” di sini diartikan sebagai :
Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).
Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),
Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.
Tidak monoton.
Untuk mempunyai vocal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan latihan vocal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vocal, antara lain :
Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…” dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.
Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…” (suara keluar lewat hidung).
Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa…….” sampai batas nafas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.
Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan nafas)
Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.
Keluarkan suara vokal “a i u e o", “ai ao au ae ", "oa oi oe ou", “iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ......” dan sebagainya.
Berteriaklah sekuat kuatnya sampai ke tingkat histeris.
Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung gulung, berlari, berputar putar dan berbagai variasi lainnnya.

Catatan :
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.

Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.

ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang diucapkan.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :
Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.
Misalnya:
Kehormatan menjadi kormatan
Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan
Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.
Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb
Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.

GETIKULASI
Getikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, getikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda.
Getikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata "Pergi !!!!” dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?” , "Kenapa ?” atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.
Getikulasi harus dilakukan sebab kata kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda.
Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), “Pergi….” (mendapat tekanan).

INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :
1. Tekanan Dinamik (keras lemah)
Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.
SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)
Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)
Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)
2. Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
3. Tekanan Tempo
Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda beda. Lambat atau cepat silih berganti.

WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, getikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dsb.
Selain mengenai dasar dasar vocal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar dasar vocal seperti di atas.

(Si Dul masuk tergopoh gopoh)
Dul : Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang kota, Pak.
Paiman : Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).
Paiman : Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.
Pak Gondo : (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !
(kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?
Dul : Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali sambil motret.

Bab 3
GERAK

OLAH TUBUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal.
Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.

Pelaksanaan olah tubuh :
1. Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yana kita punyai, tentang segala rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
2. Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.
Putar kepala pelan pelan dan rasakan lekukan lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali kali. Ingat, pelan pelan dan rasakan !
Putar bahu ke arah depan berkali kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.
Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.
Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama sama.
Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.
Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.
Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari lari di tempat dan meloncat loncat.

Macam Macam Gerak :
Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam macam gerak Latihan latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.
Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, yaitu
1. Gerak teaterikal
Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.
2. Gerak non teaterikal
Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari hari.

Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.
1. Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dsb.
1. Gerak Kasar
Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu :
1. Business, adalah gerak gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya :
sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.
sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.
1. Gestures, adalah gerak gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
2. Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung gulung, melompat, dsb.
3. Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.

Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu.
Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak dasar”. Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
• Gerak dasar bawah : posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.
• Gerak dasar tengah : posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.
• Gerak dasar atas : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.

Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.
Latihan-latihan gerak yang lain :
1. Latihan cermin.
dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.
2. Latihan gerak dan tatap mata.
sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.
3. Latihan melenturkan tubuh.
seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.
4. Latihan gerak bersama.
suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.
5. Latihan gerak mengalir.
suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.

GERAK DAN VOCAL
Setelah kita berlatih tentang vocal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vocal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya.
Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vocal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vocal.

Bab 4
PENGGUNAAN PANCA INDERA DALAM TEATER

Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain :

1. Mata
Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.
2. Telinga
• Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
• Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bis, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.
3. Hidung
• Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
• Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.
4. Kulit
• Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.
• Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
5. Lidah
• Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dsb.
• Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.

Bab 5
KARAKTERISASI

Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.
Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.
Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya :
Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)
Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)

Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut :
• Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)
• Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.

Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.

OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.

ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dsb.

Cara-cara melatihnya antara lain :
• Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.
• Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.
• Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
• Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.
• Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.

IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.
Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.
Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :
• Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.
• Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.
• Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.
• Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.

EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernafasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.

PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.

Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :
• Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.
• Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.
• Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.

Bab 6
BLOKING

Yang dimaksud dengan bloking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, bloking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak bloking. Yang dimaksud dengan bloking yang baik adalah bloking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

1. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
2. Utuh
Utuh berarti bloking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
3. Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
4. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
5. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut bloking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip bloking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.

KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu bloking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri. Berikut ini adalah skema komposisi pentas.

7 8 9
4 5 6
1 2 3

PENONTON

Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan nomornya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar bloking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.

Bab 7
NASKAH

Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
1. Tema
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
2. Lakon
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
 Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani
usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
 Dimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan
status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
 Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan
temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
3. Plot
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
 Pemaparan (eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
 Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
 Komplikasi awal atau konflik awal
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
 Klimaks dan krisis
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
 Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.